TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
START FROM ZERO, LOVE


__ADS_3

Safira mendadak kaku. Kakinya sulit bergerak. Mulutnya seperti terkunci. Ia benci situasi seperti ini. Rasa malunya begitu tinggi. Raut mukanya semerah kepiting rebus. Air matanya begitu saja mengalir jatuh membasahi pipi putih nan mulus.


"Aku pergi. Jangan takut. Aku bukan orang jahat". Cakra Dewa meninggalkan Safira. Ia berlari cepat dengan ilmu Bayu Mlajar tingkat tiga ke arah kediamannya sekitar lima kilometer dari air terjun Banyu Arum.


Sepeninggalan Cakra Dewa, perlahan tubuh Safira mulai normal kembali. Ia kemudian berlari menggunakan ilmu Kuda Terbang tingkat lima. Ia ingin segera kembali ke kediaman orang tuanya. Membenamkan diri di kasur empuk miliknya.


"Safira? Hello". Cakra Dewa menggerakkan tangan kanan digerakkan kekiri kekanan supaya Safira tersadar dari lamunan.


Iris mata Safira mengekor tangan kanan Cakra Dewa. Spontan kakinya mundur teratur. Matanya waspada. Ada kesan trauma dimata indah putri Tunggul Amarta.


"Kau masih mengingat kejadian itu Safira. Aku tidak sengaja melihatmu. Sekali lagi maafkan aku".Cakra Dewa membungkukkan badan dengan tangan kanan diletakkan di dada kiri.


"Cukup.Hentikan. Jangan pernah membicarakan hal itu lagi". Teriaknya. Matanya mulai berair


"Baik. Aku tidak akan membicarakannya lagi. Tapi tolong jangan seperti ini padaku". Pinta Cakra.


Safira bergegas meninggalkan tempat, di ikuti oleh bik Sumi yang tergopoh gopoh mengikuti dari belakang.


"Safira tunggu. Kau tidak mendengarkan kata kataku. Kau dilarang ke Pendopo Kartiko". Seru Cakra Dewa.


Safira menulikan pendengaran. Ia tetap melangkahkan ke kaki. Tekadnya semakin kuat. Ia tidak hanya ingin menghindari Ang, tapi juga Cakra Dewa.


Cakra Dewa menggeram. Sang gadis pujaan keras kepala, tidak mau mendengarkan kata katanya.


"Apa boleh buat kalau itu maumu". Batinnya bermonolog.


Tanpa ba bi bu disambarnya tubuh Safira dengan totokan Pitu Cendelo lalu melesat dengan ilmu Bayu Mlajar tingkat sempurna.


Tinggalah bik Sumi yang tertinggal di Pegunungan Sebaris. Seperti orang linglung, ia bingung harus pulang naik apa. Ia juga tidak tahu jalan pulang.


"Hiiikz hiiikz ndoro ayu Safira tega bener sama bik Sumi. Masak ditinggal disini sendirian". Suara dan tangisan menjadi satu.

__ADS_1


"Mari pulang bik". Suara berat terdengar dari rimbun pepohonan. Sardi dan Suradi, utusan Tunggul Amarta muncul.


Kedua utusan ini tiba di Pegunungan Sebaris setelah urusan dengan Atmo Panji dari Klan Geni Urip selesai.


Mereka berdua tidak memberi kesempatan pada putra ketua Klan Geni Urip itu. Di masukkan ia dalam Gua Si Peteng yang terletak dua puluh kilo dari Pegunungan Sebaris dengan Ilmu Pengikat Jiwa. Tubuh Atmo Panji seperti koma. Sardi dan Suradi tidak mau ambil resiko mengingat informasi yang di dapat tentang Atmo Panji yang licin seperti belut.


"Sardi dan Suradi". Bik Sumi berseru senang. Dua orang saudara kembar ini sangat baik padanya.


"Mari bik Sumi". Sardi menggenggam erat tangan perempuan tua yang sudah dianggap seperti ibunya. Mereka melesat meninggalkan Pegunungan Sebaris.


Ditempat lain, Cakra Dewa masih melaju kencang. Ia ingin membawa Safira kesuatu tempat sebelum kembali ke kediaman uyut Pandhu. Ia ingin semuanya jelas, tidak ada miskomunikasi. Ia tidak ingin gadis yang ia sukai, terluka untuk yang kedua kali.


Sampailah keduanya di tempat yang dituju. Cakra Dewa perlahan menormalkan totokan yang membelenggu Safira. Begitu terlepas dari totokan, gadis itu langsung mengamuk memukul dadanya berkali kali dengan tenaga yang masih lemah.


Safira memerlukan beberapa saat untuk memulihkan tenaga dari Totokan Pitu Cendelo, apalagi tenaganya lumayan terkuras untuk pergi ke Pegunungan Sebaris dengan menyalurkan energi putih supaya bik Sumi bisa ia bawa berlari.


"Safira, tolong jangan seperti ini. Tenagamu belum pulih, Cinta". Ucap Cakra Dewa.


"Aku bukan cinta.Jangan pernah memanggilku dengan sebutan cinta". Lantang ia berteriak.


"Ssst jangan keras keras. Kalau ada yang dengar, kita seperti pasangan kekasih yang lagi bertengkar". Kata Cakra dengan senyum di kulum.


"Tutup mulutmu. Aku benci padamu. Benci benci benciiiii". Teriaknya membahana


"Hmmm benci itu singkatan dari beneran cinta lho. Duh senangnya". Cakra tersenyum lebar


"Kau benar benar keterlaluan. Urat malumu sepertinya benar benar putus". Ketus Safira


"Sama calon istri, tidak boleh malu, Cinta". Mesra suara Cakra terdengar. Membuat Safira semakin kesal.


"Aku bukan siapa siapamu. Jadi berhenti bersikap menjijikan". Ujarnya meradang.

__ADS_1


Cakra Dewa menyipitkan mata. Seumur hidup tidak ada yang berani bicara merendahkan dirinya. Sementara gadis pujaan justru berkata kata yang menyakiti perasaan.


Sorot matanya berubah menyeramkan. Ia adalah versi muda Elang Raja. Bahkan lebih sangar. Yang membedakan, ia bisa bersikap tenang, agak tengil, humoris. Hal itu berhasil untuk mengelabuhi lawan sehingga sifat aslinya tak terdeteksi.


Ditangkupnya kedua pipi Safira.


Dengan amarah tertahan ia berkata,


"Kau boleh kecewa dengan Ang. Ingat hanya dengan Ang. Jangan pernah mencampur semua perasanmu tentang Ang lalu orang lain yang menjadi korban".


Safira terkejut dengan reaksi Cakra. Segera ia mencoba melepaskan tangan Cakra dengan amarah memuncak.


"Jangan sentuh pipiku. Kau benar benar membuatku muak".


Cakra tidak melepaskan tangannya, Emosinya mulai naik.


"Ayah ibumu setuju perjodohan ulang antara kau dan aku. Kau tau orang tuamu begitu bahagia. Aku sebenarnya ingin memberi tahumu baik baik, tidak kukira, perangimu ternyata seperti ini. Kau sungguh mengecewakan. Dan perbuatanmu pergi diam diam membuat ibumu jatuh pingsan. Apa kau tidak berfikir dulu sebelum memutuskan suatu masalah? Atau kau hanya gadis manja yang tak bertanggung jawab".


"Kau...". Tubuh Safira lunglai. Ia hampir terjatuh kalau saja Cakra Dew tidak sigap menangkap pinggangnya.


"Kau ini benar benar...". Cakra tidak melanjutkan kalimatnya. Hanya gelengan pelan dan dengusan nafas mana kala melihat wajah pujaan hati sedikit memucat.


Di letakkan pelan pelan tubuh Safira di gazebo yang terbuat dari kay jati alas yang dipesan di dimensi terbatas.


Ditepuk pelan pelan pipi Safira dengan mengeluarkan energi murni. Perlahan lahan ia siuman. Air matanya meleleh.Ia terisak tertahan. Terngiang ngiang kata perjodohan ulang antara ia dan laki laki di sampingnya. Hatinya berontak tapi orang tuanya begitu bahagia dengan perjodohan itu. Tepatnya perjodohan baru karena pengulangan perjodohan dengan orang yang berbeda buat Safira tentulah bermakna berlawanan. Rasa hati tak karuan. Bagaimana bisa ia secepat kilat mengganti nama yang selama ini bersemayam di hati.


"Jika terlalu berat, aku akan membicarakan itu saat pertemuan bersama dengan Klan Purba Putih dan Klan Purba Ungu".


Cakra melanjutkan kalimatnya sebelum melihat reaksi Safira.


"Sebenarnya skenario perjodohan ini, aku mendekatimu pelan pelan. Lalu kedua klan akan mendukung pendekatan yang kulakukan". Ucap Cakra pelan.

__ADS_1


Ia tidak akan memaksa Safira. Perasaan cintanya seperti kandas di laut lepas. Kemarahan dan nada suara yang menyakitkan perasaan membuatnya harus menata ulang kembali niat untuk mempersunting pujaan hatinya.


__ADS_2