
Kilat menggelengkan kepala, peristiwa itu sudah lama terjadi tapi Yoga masih sama, dingin dan tak tersentuh.
"Kak, ihhh kak Kliat gantian melamun ya?". Bulan mengerucutkan bibirnya
Kilat tersenyum lebar.Lalu berkata
"Bulan, kalau kau bertemu dengan Yoga tolong jauhi.Jangan cari masalah dengannya".
Kilat tidak mungkin lupa sumpah Yoga Perwira. Sumpah yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak berbulan bulan hingga membuat ayah ibunya khawatir, hingga ia terpaksa menceritakan apa yang didengarnya setelah didesak sang ibu. Sumpah Yoga yang ia dengar sewaktu ia tak sengaja bertemu dengannya setelah pertemuan terakhir itu.
"Aku bersumpah suatu saat nanti akan aku buat keturunan Guntur Peksi merasakan hal sama seperti yang dirasakan om Jayendra".
Kilat mendengar dengan jelas sewaktu Yoga mengucapkan itu didepan Mata Air Resik Wangi yang baunya wangi seperti parfum keluaran merk ternama. Lembut menenangkan. Mereka berdua sering kemari sebelumnya. Tidak heran jika kebiasan itu belum bisa mereka hentikan hingga saat ini.
"Mengapa kau ingin mengganggu keluarga om Guntur. Keturunan mereka tidak tahu menahu urusan orang tuanya. Kau tidak boleh bersikap dan bertindak tidak benar,Yoga". Kilat menghampirinya dengan duduk didawah pohon rindang Sri Dewa.
Mata Yoga memerah marah. Ia tidak suka orang luar mencampuri urusannya. Dimata Yoga, Kilat sudah menjadi orang luar. Ia tidak pantas berkata seperti itu padanya.
"Lancang sekali kau. Ini peringatan terakhir atau aku terpaksa bertindak keras diluar nalarmu". Rona kebencian yang menggunung muncul di airmukanya. Sangat mengerikan untuk anak seusianya.
Kilat tercekat. Perubahan sikap Yoga begitu drastis, membuatnya sedih dan hampir tak bisa menahan tetesan airmata.
Sukma Maharani, ibu dari Kilat Sampurno memandang sang anak dengan raut sedih. Sebagai ibu, ia tentu merasa terpukul dengan cerita sang anak.
"Sayang, sumpah itu akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Yoga dan kau akan tumbuh dewasa. Jayendra Ningrat tidak mempermasalahkan Om Guntur Peksi yang akan menikahi bulik Bening Tiara. Jadi tidak akan ada masalah sama mereka". Ujar sang ibu, berusaha menghibur
Kilat menggeleng, ia tahu benar siapa Yoga. Ia tidak mungkin begitu saja melupakan sumpahnya.
"Kita ketempatnya Yoga kalau begitu. Ibu tidak ingin melihatmu tidur dengan gelisah bahkan mengigau. Itu tidak baik bagi kesehatan jiwa dan tubuhmu,sayang". Kata Sukma.
Kilat tertunduk. Ia tidak mau Yoga semakin membencinya. Tapi ia juga tidak ingin Yoga memenuhi sumpahnya.Akhirnya ia mengangguk mau. Berangkatlah ia, ayah dan ibu sore itu ketempat Yoga . Orang tua Yoga baru tersadar perubahan sang anak begitu pula dengan Jayendra. Beribu maaf dia ucapkan pada kedua orang tua Yoga dan Kilat. Dipertemukanlah kedua anak itu. Yoga menunduk dan menangis terisak. Ia sebenarnya juga tersiksa. Siapapun tahu, ia kesayangan omnya lalu secara tiba tiba seperti dipisahkan dan direnggut kasih sayangnya. Hatinya sakit berkeping keping.
__ADS_1
"Ayo salaman. Tidak baik bermusuhan. Om minta maaf sudah membuatmu seperti ini Yo". Kata Jayendra. Yo, begitu omnya biasa memanggilnya.
Yoga mengangkat wajah yang masih penuh airmata, Sang ibu menghapus dengan sapu tangan sutra bersulam burung merak emas, sementara omnya mengacak sayang rambutnya.
"Sudah ya jangan menangis. Om janji ndak akan bikin Yo sedih lagi". Hibur Jayendra.
Yo tersenyum cerah meski masih dengan sesenggukan, diulurkan tangannya pada Kilat.
"Maafkan Yoga ya Kliat. Yoga salah".
Kilat menerima uluran tangan Yoga. Hatinya gembira bukan kepalang. Yoga saudara sekaligus temannya sudah kembali. Dipeluknya erat sambil berkata
"Maafkan Kilat juga ya, ndak bisa menghibur Yoga yang lagi sedih".
Yoga mengangguk. Ia sudah mau menerima Kilat tapi tidak dengan Guntur, ia masih begitu benci, apalagi saat ia memergoki omnya memandang Bening dengan raut wajah frustasi. Kilat mengetahui hal ini tanpa sengaja saat ia mempersiapkan pernikahannya dengan menyunting pujaannya, Mega Padang dari Klan Lemah Abang.
"Tuuh kan, kak Kilat ternyata hobby melamun".Kembali Bulan berkata dengan malas
"Ayo waktunya meronce bunga bintik emas dan jambul emas untuk ritual besuk pagi". Kilat menggandeng Bulan untuk segera ke Balai Damel .
Orang orang semua sibuk di Balai Damel. Semua perangkat untuk ritual Pelilah Ageng dibuat disitu.
"Bagaimana sayang? Kalau kau tidak punya. Kita carikan". Uyut Susmita membuyarkan lamunan Bulan.
"Anu uyut, Bulan bingung. Bulan belum pernah jatuh cinta. Bagaimana mungkin Bukan menikah dengan laki laki yang tidak Bulan kenal". Tuturnya
"Kau bisa berkenalan dengan calon suamimu,sayang".
"Tapi apa nanti Bulan langsung bisa jatuh cinta saat bertemu? Langit saja sampai kaku tidak bisa gerak badannya". Bulan memandang Langit seolah minta dukungan
Langit menggeleng lemah.Ia seperti orang kalah sebelum bertanding. Ia pasrah, terlebih melihat wajah bundanya yang begitu lelah.Ia tahu bundanya tidak menginginkan kejadian tragis menimpa keluarganya. Sorat matanya begitu semangat, walau ia tahu bundanya lelah, bahkan sangat lelah.
__ADS_1
"Sayang kau kan belum mencoba bertemu. Temuilah dulu, ngobrol setelah itu kau baru bisa menilainya". Bening begitu sabar menghadapi kepolosan anak anaknya. Pergaulan terbatas memang membuat mereka awam soal lawan jenis beserta romantikanya.
"Iya Bunda, akan Bulan coba. Tapi..kira kira dari klan mana bunda?". Tanya Bulan
"Klan Purba Putih aku menyarankan dari keluarga besar bundamu" Kata Uyut Pandhu yang dengan sabar menjadi pendengar.
"Kalau Klan Purba Ungu dari keluarga besar uyut Pelangi" Ujar uyut Susmita
"Biarkan para sesepuh yang menyeleksi, nanti setelah dapat kau bisa berkenalan lewat Ilmu Pemanggil Sukma milik uyut Pandhu".
"Jika hatimu sudah mantap, kau bisa bertemu langsung dengannya disini,sayang. Lalu pernikahanmu akan segera ditentukan". Kata Bening.
"Baiklah bunda. Bulan setuju".
Ada raut kelegaan di wajah Bening. Semua anaknya tidak ada yang membangkang.Ia begitu bersyukur mempunyai lima anak yang selalu mendukungnya meskipun harus dengan ekstra sabar karena anak anak masih begitu polosnya.
"Jika demikian, besuk pagi pagi sekali bantu bundamu mempersiapkan pernikahannya". Titah uyut Susmita.
Mereka berlima mengangguk, bahkan Shaka berkata dengan lumayan keras
"Horee bunda menikah. Shaka punya ayah baru". Tawapun berderai dengan dibarengi tingkah lucu seperti anak kecil.
Hati bening terusik dengan kata ayah baru. Sungguh ia tidak ingin Guntur tergantikan. Ia ingin Jayendra dipanggil tidak dengan sebutan ayah karena panggilan itu hanya diperuntukkan untuk mendiang suaminya.
"Kangmas Guntur. Maafkan Bening. Besuk adalah pernikahan Bening. Semoga semuanya berjalan lancar. Semoga pilihan Kangmas Guntur benar. Bukan Bening meragukan Kangmas, tapi jujur Bening sangat takut. Kehilangan Kangmas sempat membuat Bening terpuruk, untung ada anak anak yang menjadi obat dan semangat. Bening tidak tahu apa yang terjadi jika harus kehilangan lagi". Batin Bening bermonolog.
Uyut Susmita menyenggol lengan uyut Pandhu saat melihat ekspresi Bening.
"Biarkan saja, nanti kalau sudah nenikah dengan Jayendra, bayangan Guntur Peksi perlahan akan memudar". Batin uyut Pandhu pada istrinya.
Uyut Susmita mengedipkan mata tanda mengerti.
__ADS_1