TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
CAKRA DEWA IN ACTION


__ADS_3

Cakra Dewa mempercepat laju berlari dengan ilmu Bayu Mlajar tingkat akhir, Gerakannya sangat sulit di ikuti mata telanjang. Hanya dalam waktu tiga puluh menit ia sudah sampai di Pegunungan Sebaris.


Pemandangan alam yang luar biasa indah. Aneka pepohonan rimbun terlihat sepanjang mata memandang. Burung burung dengan rupa beraneka warna, capung, kupu kupu dan lebah beterbangan memukau mata.


Cakra Dewa senyum senyum sendiri saat imajinasinya melambung tinggi. Bertemu pujaan hati, melamar dan menikah dalam waktu dekat lalu merencanakan keluarga besar. Ia ingin punya banyak anak.


"Lucu ya kalau punya sepuluh anak lucu lucu. Apalagi kalau wajahny mirip Safira, pasti menggemaskan". Monolognya dalam hati.


Tatapan matanya menangkap laju dua orang dengan gerakan halus. Senyum lebar mengembang. Tebih Netra dapat melihat dari jarak yang begitu jauh dan Penciuman tajam bernama Ambet Inggil dapat mendeteksi bau sepanjang puluhan kilo.


Ilmu warisan leluhur yang di dapat saat ia berumur tujuh tahun sampai membuat ayah ibumu kebingungan karena waktu itu ia belum dapat mengendalikannya dengan baik. Akibatnya semua bau kumpul jadi satu membuat Cakra Dewa uring uringan.


"Ah Safiraku sudah datang". Matanya terpejam sambil menghirup aroma harum tubuh sang gadis.


Sepuluh kilo dari tempat Cakra Dewa, dua orang perempuan tua dan muda kembali menghentikan langkah.


"Biru Rupo, bik Sumi eh maksudnya Marto boleh minum lagi ya. Haus sekali. Tadi seperti terbang di awang awang.Wuush wuush sampai bibir Marto bergetar terus. Tubuh Marto juga jadi dingin seperti salju". Ujar Marto alias bik Sumi.


Biru Rupo alias Safira menatap bik Sumi kasihan. Ia juga diliputi rasa bersalah mengingat usia bik Sumi sudah mulai menua.


Awalnya Safira ingin pergi sendiri tapi bik Sumi bersikeras untuk ikut, jadilah mereka berdua berangkat ke Pegunungan Sepanjang.


"Ayo Marto, tinggal sedikit lagi sampai". Kata Biru Rupo sambil menggenggam tangannya.


Dan wuuuush dalam hitungan menit, keduanya membelah jalan dengan cepat.


"Hmm, gadis dari Klan Purba Ungu. Menarik". Seorang laki laki usia empat puluh limaan muncul dari balik pohon raksasa bernama Reseksi Sepuh berusia ratusan tahun. Atmo Panji dari Klan Geni Urip mendeteksi pergerakan ke duanya saat ia berencana menemui Yudistira, ipar dari Guntur Peksi.


"Aku harus mengikuti mereka. Aku ingin tahu tujuan mereka". Ucapnya bermonolog. Ia pun bermaksud mengikuti jejak keduanya. Langkahnya terhenti saat dua orang dengan tubuh tinggi besar menghadang jalan Atmo Panji. Tampang yang seram dengan otot otot menjulang seperti binaraga membuat nyali Atmo Panji Menciut.


"Maaf tuan, Anda menghalangi langkah kakiku, silahkan minggir". Ucapnya sesopan mungkin.

__ADS_1


"Kau ikut kami atau tanggung akibatnya". Ancam salah satu dari mereka.


"Sebentar tuan, kalau boleh tau tuan berdua ini siapa?" Tanya Atmo


"Kau tidak perlu tahu". Secepat kilat, keduanya mengunci pergerakan Atmo Panji dengan Ajian Sarang Lipat, membuat Atmo Panji selalu mati langkah. Dengan cekatan kedua orang berbadan bak raksasa itu membawanya tanpa ada perlawanan berarti.


Sedangkan dua perempuan beda umur itu tanpa perasaan apapun melenggang menuju puncak Pegunungan Sebaris sebelah utara.


"Sejuknya hawa disini. Bik Sumi benar. Disini sangat tenang, membuat Safira betah". Ujarnya.


Wajah Safira berseri seri cantik sekali, membuat desiran di dada Cakra Dewa seperti ombak yang bergulung dilautan. Ia yang sejak tadi mengamati dari atas Menara Estu Inggil berkali kali menepuk nepuk dada, memerintahkan jantungnya untuk bisa di kondisikan.


"Ah..jadi pengin cepat cepat melamar Safira. Abang Cakra sudah siap lahir dan batin". Ucapnya terkekeh.


Dilihatnya sang pujaan tengah bercakap cakap dengan pelayan tua itu.


"Ndoro ayu Safira, apa kita sudah tidak menyamar lagi?".Tanya Sumi polos.


Safira tertawa. Memperlihatkan deretan gigi putih yang tertata rapi.


"Baiklah kalau begitu. Bik Sumi mau cuci muka dulu. Air di sendang Resik pasti sejuk dan bening". Ucapnya sumringah


"Bening? Ibundanya tuan Ang". Kata bening yang spontan di ucapkan bik Sumi menimbulkan kembali kesedihan hati.


"Aduh ndoro ayu Safira jangan seperti ini. Maaf bukan maksud bik Sumi ingin membuat ndoro ayu Safira terluka". Kata bik Sumi menangkupkan kedua tangan di dada sambil membungkuk hormat.


"Tidak apa apa bik Sumi. Safira memang belum sepenuhnya bisa melupakan, makanya kita kemari". Kata Safira lembut.


"Ayo pergi ke Pendopo Kartiko. Pemberitahuan kedatangan kita pada Ki Singo Legowo". Tutur bik Sumi.


"Siap bik Sumi. Safira sudah tidak sabar". Dengan semangat membara, Safira segera melangkahkan kaki.

__ADS_1


"Tunggu Safira Asmara. Kau tidak boleh pergi ke sana". Suara berat khas Cakra Dewa terdengar di telinga Safira. Bik Sumi yang mendapatkan kode darinya langsung undur diri.


Safira tertegun. Bagaimana mungkin laki laki muda yang berdiri ratusan meter darinya bisa berbicara seakan akan begitu dekat suaranya.


"Safira, apa kau mendengarkan kata kataku".Kata Cakra sambil berjalan menghampiri dirinya.


Safira masih asyik dengan pikirannya. Ia tidak menyadari kedatangan Cakra Dewa.


"Ehhhmm". Suara deheman Cakra Dewa tidak juga membuat Safira menyadari kehadirannya.


"Ehhmm". Sekali lagi Cakra Dewa berdehem. Kali ini Safira merespon dengan menoleh pelan .Bola matanya membesar. Ia baru tersadar siapa laki laki di sampingnya.


"Caaakrrraa". Ucapnya terbata.


Safira mendadak mengingat suatu kejadian memalukan tiga tahun lalu saat ia pergi ke air terjun Banyu Arum. Ia yang awalnya hanya ingin menikmati sejuknya udara di sekitar air terjun, menjadi tergoda untuk mandi. Di lepas pakaian satu persatu lalu menceburkan diri dalam sejuknya air.


"Segarnya". Ia kemudian berenang menuju air terjun yang memuntahkan air, meluncur ke bawah dengan cepat.


Dari atas pohon Sri Abang Mbranang, tak jauh dari air terjun Banyu Arum, seorang laki laki muda tengah asyik makan buah dari pohon Sri Abang Mbranang. Buah berwarna merah menyala dengan ukuran kecil, mirip buah cermai.


"Manis, banyak airnya. Legit dan renyah". Gumamnya.


"Setelah ini, berenang dibawah air terjun pasti menyegarkan". Ucapnya bermonolog


Segera ia melompat dengan meringankan tubuh tingkat tiga. Setelah sampai ke bawah, ia bergegas menuju air terjun.


Sementara Safira masih asyik menikmati guyuran air terjun. Ia tidak waspada dengan tempat dimana ia berada sekarang.


Saat membalikkam badan, ia terkejut bukan main, seorang laki laki muda, memandangnya tanpa berkedip. Spontan ia berteriak sambil menutupi tubuh atasnya.


"Maap aku tak sengaja". Laki laki muda itu membalikkan badan lalu pergi perlahan.

__ADS_1


Safira shock. Air matanya mengalir deras. Tubuhnya tiba tiba lemas. Dengan sekuat tenaga ia berenang ke tepian, mengambil pakaian miliknya. Dengan cepat dipakainya. Ia menangis sesenggukan, menyesali keputusaanya karena menyelinap keluar dari kediaman tanpa sepengetahuan kedua orang tua.


"Sekali lagi, maafkan aku. Perkenalkan aku Cakra Dewa dari Klan Purba Putih". Ucapnya sopan.


__ADS_2