TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
ADA APA DI DETIK DETIK MENJELANG SAH


__ADS_3

Elang Raja, adik dari ayah Ang tersenyum lebar saat tahu dengan siapa Ang menjatuhkan pilihan. Hatinya sangat lega, Klan Purba Putih bersanding dengan klan yang sama. Ia tentu tidak akan tinggal diam saat tahu strategi Jayendra yang menurutnya sangat memuakkan.


Dengan bergerak senyap ia mendatangi satu persatu orang orang yang terlibat dalam perjodohan Ang, salah satunya uyut Susmita.


"Jadi begitu, sayang. Uyut tidak bisa apa apa. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan bunga cantik abadi datang. Safira memang bukan jodoh Ang".


"Uyut sungguh sudah memberitahu orang tua gadis itu?'. Tanya Elang meyakinkan diri


"Hei, kamu pikir aku ini siapa bocah". Uyut Susmita sewot saat Elang mempertanyakan hal itu.


'Maaf uyut, Elang hanya ingin memastikan saja, habis buyutnya uyut Susmita itu tebar pesona, bikin hati gadis itu, sekarang pasti patah berkeping keping".


Ekspresi uyut Susmita berubah sedih. Jalan gadis itu memang membuatnya prihatin. Dia harus lebih dewasa dalam menyikapi soal perjodohan ini. Jika sudah menyebar keluar, hatinya harus kuat menerima beragam komentar yang menyertai.


"Aku yakin anak itu akan menjadi gadis yang kuat". Ujar uyut Susmita.


"Tentu uyut. Dan pasti akan ada pengganti terbaik untuknya". Kata Elang memberi dukungan.


Hati Elang begitu senang mendengar penuturan uyut Susmita tentang bunga cantik abadi dan Permata. Sudah tidak ada lagi penghalang untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan untuk keponakan dan Permata.


"Uyut, Elang pamit mau mempersiapkan diri". Ucapnya dengan menangkup kedua tangan takzim.


Uyut mengangguk. Ia pun juga harus mempersiapkan diri untuk pernikahan Bening Tiara.


Disepanjang jalan, pikiran Elang tertuju pada Jayendra. Matanya nyalang dengan tangan terkepal. Hatinya di liputi angkara murka, semua hal negatif menjadi satu bergulung gulung di benaknya.


"Aku pastikan, Jayendra tidak akan bisa lolos dari tanganku. Bagaimana mungkin dia mempengaruhi Ang sementara ia tahu hal itu seharusnya tidak ia lakukan". Batinnya geram.


Ditengah pikiran dan hati yang carut marut, tanpa sengaja ia menumpahkan air minum yang dibawa pelayan, mengenai tubuhnya dan terdengar pula suara jeritan kecil karena tumpahan air minum juga mengenai tubuh seorang gadis.


"Maafkan saya tuan, nona. Saya tak sengaja". Seorang pelayan perempuan berusia sekitar lima puluh tahun membungkuk hormat .


"Tak apa bibi. Silahkan dilanjutkan perkerjaannya". Ujar gadis itu lembut.


Elang terpaku. Gadis yang sedang menjadi pembicaraan orang orang tua berada tepat didepannya. Wajahnya berseri seri bahagia. Bibir Elang terkatup kembali saat ingin mengatakan pada gadis itu fakta yang sebenarnya. Hatinya seperti ikut merasakan kesedihan akan nasib putri Tunggul Amarta. Ia menghelai nafas berat.

__ADS_1


" Kau baik baik saja, Safira?". Tanya Elang.


"Tuan mengenal saya?".


"Tentu saja, kau putri Tunggul Amarta, bagaimana aku tak mengenalmu. Kau sering ikut ayahmu memanah dan bepergian di dimensi terbatas".


"Apa anda tuan Elang, om dari tuan Angkasa Biru?" Tanyanya dengan binar bahagia".


"Iya, kau benar. Kembalilah ke Dhayoh Utomo. Pergilah ke pernikahan bundanya Ang bersama kedua orang tuamu".


Wajah Safira memerah malu. Ia mendahului datang karena ingin bertemu pujaan. Hatinya sudah rindu.


"Kenapa malah mematung seperti itu?. Tak baik seorang gadis berjalan sendirian". Nasehat Elang.


Safira gugup, lalu menangkup kedua tangan, membungkuk hormat dan segera meninggalkan tempat itu segera.


"Gadis itu. Apa jadinya beberapa hari kedepan nanti". Ujarnya menggelengkan kepala.


Elang kembali berjalan menuju Dhayoh Utomo Jaler, tempat Jayendra dan rombongan tinggal.


Ditata emosi yang kembali muncul. Seorang pelayan pria, membungkuk hormat. Elang menyampaikan maksudnya, pelayan mengangguk hormat lalu berlalu dari hadapannya.


Pintu kamar di ketuk pelan, abdi keluarga Jayenda yang bernama Sapto Nrimo bergegas membukakan pintu.


"Permisi tuan, ada tuan Elang ingin bertemu dengan tuan Jayendra. Kata beliau ada urusan penting" ujar pelayan


Jayendra mengernyit, ia bertanya tanya dalam hati untuk apa Elang menemuinya.


"Aku akan menemuinya sekarang". Kata Jayendra


Ia mengikuti langkah pelayan sementara abdi keluarga, Sapto Nrimo menatap tuannya dengan raut cemas.


"Apakah tuan Elang keberatan dengan pernikahan tuan Jayendra". Ucapnya bermonolog.


"Aduh gawat, aku harus memberitahu tuan Pandhu". Tergesa gesa Sapto Nrimo melangkah menuju kediaman utama uyut Pandhu.

__ADS_1


Sementara di ruang tunggu Dhayoh Utomo Jaler, Elang kelihatan tak sabar. Semakin lama semakin sulit baginya menahan diri. Dilihatnya dari kejauhan Jayendra berjalan mengikuti langkah pelayan. Dikepalnya kedua tangan erat erat. Urat wajahnya terlihat semua, memperlihatkan amarah yang sudah naik sampai ke ubun ubun.


"Kau sungguh sungguh memalukan. Kau tidak layak menjadi pengganti kakakku". Suara Elang menggelegar, membuat Jayendra terkejut, sedangkan pelayan yang baru saja berjalan beberapa langkah, tiba tiba berhenti seperti patung.


"Tunggu dulu, ini ada apa. Aku tidak paham arah pembicaraanmu". Kata Jayendra dengan mimik muka menegang.


"Kau masih berpura pura hah!". Seru Elang.


"Aku sungguh sungguh tidak mengerti. Kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin". Jayendra berusaha bersikap tenang.


"Apa kau pikir aku tidak tahu akal busukmu itu? Kau menggiring Ang hanya menemui Safira".


"Aku bukan orang seperti itu, Elang. Meskipun Safira berada dalam rombonganku, tapi aku tak pernah melakukan seperti yang kau tuduhkan itu". Kata Jayendra membela diri.


"Lalu bagaimana ceritanya Ang dengan cepat memutuskan hanya menemui Safira saja dan mengabaikan Permata".


"Ang menanyakan padaku tentang dua nama gadis, Safira dan Permata. Kalau ia bertanya padaku tentang Permata, terus terang aku tidak bisa memberinya informasi detail, akan tetapi jika ia bertanya tentang Safira, aku mengenalnya sejak ia bayi, jadi aku bisa memberi informasi apapun tentangnya".


Elang mendengus. Tentu saja Jayendra mengetahui seluk beluk Safira, mereka masih punya ikatan darah yang sama.


Apa menurutmu itu berlebihan, Elang?". Tanya Jayendra dengan sorot mata tajam.


Suasana kemudian menjadi sunyi. Kedua laki laki beda klan ini saling tatap dengan aura mencekam.


"Apa kau begitu buta, hingga kemunculan Bunga Cantik Abadi kau abaikan demi memanjakan egomu? Safira masih terhitung keluargamu, akan tetapi aturan di sini begitu jelas, saat bunga itu sudah menentukan sang mempelai, bukankah seharusnya kau berhenti?". Suara Elang semakin dalam mencoba untuk tetap mengontrol emosi


Mata Jayendra membola tak percaya, ia sampai saat ini belum mendengar kehadian bunga cantik abadi ditengah TACENDA. Bisa jadi karena kesibukannya mempersiapkan diri mendekati hari penting dalam hidupnya. Akan tetapi sesaat kemudian jantungnya berdegup kencang. Bukankah berita akan menyebar dengan cepat saat bunga cantik abadi hadir ditengah tengah calon mempelai perempuan


"Aneh. Mengapa kali ini tak ada kabar apapun. Apa ada yang sengaja menutupi? Tapi siapa?". Jayendra berfikir keras tapi sepertinya usahanya nihil.


"Kenapa diam? Apa kau sudah menyadari kesalahan fatal yang kau lakukan, Jayendra?". Elang menatap penuh curiga.


"Tania Mutiara kah? Apa dia pura pura tidak tahu tentang bunga itu agar aku tetap memberikan semua informasi tentang Safira pada Ang?". Jayendra menggelengkan kepala yang tiba tibs terasa berat.


"Aku tidak rela, keponakanku memiliki calon ayah yang berfikiran sempit sepertimu".

__ADS_1


Kata kata Elang seperti palu raksasa yang menghantam Jayendra. Hatinya begitu sakit mendengar perkataan adik bungsu Guntur Peksi itu. Bibirnya bergetar menahan perasaan yang berkecamuk. Elang menuduhnya tanpa dasar yang jelas.


"Kau menuduhku membabi buta, Elang. Kau menuduhku tanpa bukti". Suaranya berubah dingin dengan raut wajah menggelap.


__ADS_2