
"Dengan atau tanpa ijinmu, aku akan keluar dari tempat ini. Besok!" ucap Zefanya penuh tekad.
Ezra berdiri mematung di tempatnya, wajahnya tampak menggelap dan tiba - tiba saja terlihat lebih tua. Dia terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata hingga beberapa saat lamanya.
"Kamu belum mengingat semuanya, Zie." lirih Ezra.
"Aku tahu. Tapi Dokter Sandra bilang kemungkinan akan ada beberapa bagian dari ingatanku yang benar - benar hilang. Apa kamu memang menginginkanku untuk tinggal disini selamanya?" desak Zefanya putus asa. Sepertinya nasib dirinya ada di tangan laki - laki ini. Bahu Zefanya meluruh, semangatnya menghilang.
"Maafkan aku yang sudah melukaimu dengan tiba - tiba kabur darimu. Baiklah, terserah padamu saja. Kalau kamu ingin membalas kejahatanku dengan menolak perceraian dan mengurungku disini selamanya." ujar Zefanya pasrah. Dia berbalik badan, lebih baik dirinya masuk ke kamar tidur. Biarkan saja Ezra disana. Mungkin dengan begitu Ezra akan membenci lalu menceraikannya.
Ezra ternganga, tubuhnya bergetar hebat menahan amarah sekaligus kecewa. Bibirnya terkatup rapat hingga menyerupai satu garis tipis saja. "Apakah aku sehina itu dimatamu? Jadi menurutmu aku begitu tega untuk mengucilkan dirimu hanya demi balas dendam?" cecar Ezra. Nada suaranya pedih. Beberapa waktu lalu dia berduka begitu dalam karena Zefanya kecelakaan dan kini hatinya harus terluka karena permintaan wanita yang dicintainya.
Bercerai?
Hal yang tidak pernah ada dalam kamus kehidupannya. Baginya, menikah hanya satu kali dan selamanya. Dan jika tidak dengan Zefanya, maka dia pun tak akan mau dengan wanita mana pun.
Sekarang giliran Zefanya yang tertegun. Dia melihat sendiri bagaimana hancurnya hati suami yang dicintainya itu. Gelombang penyesalan menerpa Zefanya begitu hebat. Tapi dirinya terlanjur melangkah. Berhenti disini sama saja mengulang dari awal.
Tidak! Zefanya tak sanggup untuk mengulang rasa sakit ini. Menyakiti Ezra sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri.
"Maaf, Ezra. Aku hanya emosi karena tak tahan terkurung disini. Aku ingin kembali melihat dunia luar. Maafkan aku. Kamu tak seharusnya mendapat perlakuan seperti ini dariku. Aku tahu perbuatanku ini tak bisa dimaafkan, tapi perpisahan adalah yang terbaik."
Ezra tak merespons. Matanya memicing terus menatap Zefanya yang mulai gelisah. Dia tak berani membalas tatapam Ezra. Laki - laki itu sedang berusaha menemukan kebohongan dalam dirinya.
"Apa alasan kaburmu ada hubungannya dengan Ethan? Kalau memang ada kaitannya dengan adikku, aku bisa memastikan dia tidak akan pernah berada di dekatmu." ujar Ezra masih dengan tatapan penuh selidik.
Zefanya buru - buru menggeleng kuat - kuat.
__ADS_1
"Bukan! Bukan! Ini tak ada hubungannya dengan Ethan." jawab Zefanya cepat - cepat. Dia tak ingin Ezra dan Ethan ribut hanya karena dugaan Ezra yang tak berdasar tentang adiknya sendiri.
Ethan dulu pernah mengejar - ngejar Zefanya saat gadis itu masih bersekolah di Queen Marry University of London. Mengetahui Zefanya tertarik pada Kakaknya, harga diri Ethan seakan tergores. Suatu hari di sebuah acara ulang tahun teman Zefanya, Ethan mencampuri sesuatu pada minumannya. Untunglah, Ezra menjemputnya lebih awal dan melihat 'gelagat aneh' Zefanya pada Ethan.
Saat itu juga Ezra menegur Ethan dengan keras dan menghajar adiknya yang kurang ajar itu. Dan setelah itu, Ethan benar - benar tak berani lagi mengganggu Zefanya.
Dengan adanya kejadian itu, tingkat kewaspadaan Ezra semakin tinggi. Dia, yang usianya delapan tahun lebih tua dari Zefanya selalu mengawasi dengan mengantar jemput dirinya setiap hari dari campus dan mengajak gadis itu ke kantornya.
Di ruang kerja Ezra ada ruangan kecil yang sengaja di desain mirip kamar tidur, tempat dimana Zefanya bisa beristirahat dan menunggu Ezra hingga jam kantor selesai.m
"Ada harus aku kerjakan sebelum mengantarmu pulang." Ucap Ezra setiap kali mereka tiba perusahaan.
Dan ketika Ezra mengeluarkan laptop maka Zefanya akan cemberut. Lalu Ezra mendekat dan mencium keningnya seperti yang sudah - sudah.
"Aku akan membawamu pergi ke tempat makan favoritmu atau menemanimu melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi setelah semua pekerjaanku selesai. Oke?" bujuk Ezra dengan sabar.
"Hm-hm." Ezra mengangguk dan kali ini mencium pipi Zefanya kanan dan kiri. Kemudian mengusap kepalanya lembut dan mulai menyalakan laptopnya.
"I do love you, Ma Moitie." Ucap Ezra penuh perasaan saat dia hendak memulai pekerjaannya.
"I love you more, Ez." balas Zefanya tak mau kalah.
"Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau sambil menungguku. Kamu bisa menonton, memakai internet sesukamu, tidur atau bahkan melompat - lompat di tempat tidur." Mata Ezra mengerling jahil saat mengucapkan kalimay yang terakhir.
Zefanya mencubit lengan kokoh Ezra. "Hey, kamu pikir aku anak kecil?" protes Zefanya.
Ezra tertawa keras. "Lihatlah wajahmu setiap kali cemberut. Tak ada bedanya dengan Jemima." ucap Ezra, menyebutkan nama salah satu keponakan Zefanya.
__ADS_1
Zefanya berdecak. "Berhenti menggodaku dan bekerjalah. Aku ingin segera makan enak malam ini."
Satu film habis ditonton oleh Zefanya, tapi Ezra. masih berkutat dengan laptop dan tablet dihadapannya. Zefanya memilh film lain di saluran netflix miliknya. Lelah dengan posisi yang sama, Zefanya pindah ke ruangan istirahat milik Ezra. disana dia menonton sambil berbaring.
Entah sudah berapa lama Zefanya terbaring saat mendengar namanya disebut. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Ezra.
"Hei, akhirnya bangun juga." Ucap Ezra sambil membelai pipi Zefanya. "Aku sudah selesai dan siap mengantarmu kemana pun. Cuci mukamu dan kita berangkat."
Zefanya tersenyum malu, dia menerima uluran tangan Ezra yang membantunya bangun dari tempat tidur. Mata Zefanya masih terasa berat, tapi dia tetap menurutinya.
Melihat bekas air liur di sprei milik Ezra, Zefanya mengerang. Benar - benar memalukan.
"Tidak apa - apa." kata Ezra dengan nada sabar lalu mengecup pucuk kepala Zefanya.
Wajah Zefanya memerah dan berlari ke kamar mandi. Disana selalu tersedia semua perlengkapan milik Zefanya. Mulai dari pasta gigi, sikat gigi, shampoo, conditioner rambut, sabun mandi, bahkan juga termasuk skincare dengan merk yang selalu dipakai oleh Zefanya. Ezra memperhatikan kebutuhannya sampai sedetail itu.
Keheningan panjang yang tercipta diantara mereka membuat Zefanya mengingat kembali kebaikan - kebaikan Ezra. Hatinya menjerit setiap kali mengingat bagaimana laki - laki itu begitu memanjakannya. Andai saja cinta mereka bukan cinta terlarang. Zefanya pasti sudah memeluk suaminya dan meminta pulang ke rumah bersama Ezra.
Sementara itu, dari raut wajahnya Ezra tampak sedang memikirkan sesuatu. Diam - diam dia menelaah satu per satu kalimat demi kalimat yang Zefanya ucapkan. Mencari celah dan kemungkinan yang bisa dia temukan. Dia mengenal Zefanya dari kecil dan melihatnya tumbuh hingga dewasa lalu menikahinya.
'Apa yang luput dari perhatianku hingga Zefanya memilih untuk bercerai?' batin Ezra terus memberontak.
Suara Ezra menghembuskan napas bergema di ruang tamu kamar Zefanya yang sunyi
"Aku akan mengurus administrasi rumah sakit malam ini. Kamu akan keluar dari rumah sakit besok."
Awalnya hati Zefanya melonjak bahagia, wajahnya tampak lega. Sayangnya, senyum cantik itu langsung memudar saat mendengar kelanjutan kalimat Ezra.
__ADS_1
"Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi, kalau kamu benar - benar ingin keluar dari sini." ucap Ezra dingin.