Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 22 -- A Scarry Thing


__ADS_3

'Maafkan aku karena baru bisa menceritakannya saat ini. Tapi aku tidak mau meninggalkan dunia dengan terus menyembunyikan kebenaran.'


'Aku benar - benar menyesal atas apa yang aku lakukan dulu bersama Ibumu.'


'Setelah kamu mengetahui kebenaran ini, maka aku bisa tidur dengan tenang.'


Gema suara itu kembali menyeruak dalam ingatannya.


Ingatan yang selama ini ditekannya kuat - kuat kini kembali muncul ke permukaan dalam bentuk yang lebih menyeramkan, seakan menghantuinya kemana pun dia pergi. Suara penuh penyesalan dan putus asa itu terus mengikutinya, membuat Zefanya harus segera melakukan sesuatu sebelum kesalahan ini makin dalam.


"Nyonya Halley?"


"Hah?"


Zefanya terbangun. Napasnya memburu dengan mata membelalak saat tubuhnya tersentak.


"Nyonya, Nyonya Halley?"


Zefanya menoleh saat menyadari yang memanggilnya bukan Ezra. Saat ini perasaannya berantakan dan tidak ingin bertemu dengan siapa pun.


Tadi dokter Robert sudah datang mengecek kondisi kesehatannya. Kali ini dokter Sandra datang dan sudah pasti ini atas permintaan Ezra. Sepertinya Ezra sengaja meminta dokter yang sudah menangani kondisi psikisnya paska kecelakaan karena suaminya itu tahu bagaimana Zefanya merasa aman dan nyaman bercerita dengan dokter Sandra.


Dokter Sandra tanpa permisi mengambil sebuah kursi dan menariknya ke samping tempat tidur. Kemudian dia duduk disana.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Zefanya, meskipun dia tahu alasan sebenarnya kenapa dokternya datang berkunjung. Namun hanya itu satu - satunya kalimat yang terlintas di kepalanya saat ini.


"Kamu sudah membuat suamimu sangat panik, Nyonya." ucap dokter Sandra pelan. Nada suaranya lebih seperti sebuah teguran. "Kamu mengunci kamar mandi dan tidak ada suara hingga beberapa waktu lamanya. Suamimu berinisiatif untuk mendobrak kamar mandi dan menemukanmu dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dia khawatir kalau kondisi seperti itu akan berlanjut menjadi koma. Sama seperti dulu."


Tanpa sadar Zefanya bergidik ngeri. Perasaan menyesal dan sedih kembali menyergapnya. Menyesal karena sudah membuat lelaki terbaiknya kembali cemas. Tapi di sisi lain, dia juga sedih mengingat semua yang telah menimpa hubungan mereka. Perasaan itu melemahkan tubuhnya, membuat seluruh sendi - sendinya jadi tak bertenaga.


"Kurang lebih pukul tujuh hingga delapan malam, suamimu menghubungi dokter Robert yang segera datang kemari. Apa kamu tahu bagaimana kondisi Tuan Ezra saat itu?"


"Bagaimana?" tanya Zefanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kondisi mentalnya sangat buruk."


Zefanya menyesal sekali sudah menanyakan kondisi Ezra, seharusnya tanpa bertanya pun dirinya tahu bagaimana cemasnya Ezra setiap kali dirinya sakit. Menghindari tatapan tajam dokter Sandra, Zefanya hanya bisa menunduk dalam - dalam.


Beberapa saat mereka diam. Tak bisa menguasai perasaannya sendiri, Zefanya akhirnya kembali bertanya.


"Apakah Ezra baik - baik saja sekarang?"


"Menurutmu bagaimana?"


Sebuah batu besar seakan menindih hati Zefanya, berat dan sesak. Dia menghirup udara banyak - banyak sebelum mencurahkan isi hatinya kepada dokter Sandra.


"Dokter, aku tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi. Ezra mengijinkan aku keluar dari rumah sakit dengan satu syarat, yaitu aku harus memberinya kesempatan selama tiga puluh hari untuk hidup bersama dibawah satu atap."


"Lalu?"


"Jika pada akhir masa itu, aku masih menginginkan perceraian maka dia tidak akan menghalangiku."


"Tapi?"


"Karena kamu tidak suka anak - anak. Bagimu mereka hanyalah makhluk kecil yang merepotkan. Dan kamu tidak bisa menjalani syarat itu karena bukan hanya Ezra yang kamu hadapi tapi juga sepasang bayi kembar. Apa begitu maksudmu?"


"Tidak! Tentu saja tidak!" protes Zefanya spontan tanpa menyadari kalau dokter Sandra sedang memberinya pertanyaan jebakan.


"Oh, sayangnya... anggapan seperti itu yang sedang terpatri di benak suamimu, Nyonya." ucap dokter Sandra dengan wajah penuh simpati. "Tuan Ezra bilang kalau kamu bahkan tak mau melihat wajah putra kesayangannya."


Dokter Sandra benar - benar seorang psikolog yang profesional, dia tahu benar bagaimana memancing Zefanya keluar dari cangkangnya. Wanita muda dihadapannya itu mencebik dan meloncat turun dari tempat tidurnya. Mata dokter Sandra mengikutinya kearah mana pasiennya itu pergi. Zefanya berdiri di ambang jendela sambil menatap danau dengan latar belakang pepohonan hijau. Pemandangan yang indah, sayangnya tak cukup untuk menenangkan hati Zefanya yang gelisah.


Matanya tertuju pada warna hijau diluar sana, tapi yang terlihat dimatanya justru wajah Ezra yang sedang frustasi setiap kali menghadapi tingkahnya akhir - akhir ini. Pertahanannya runtuh. Dia tak tahan lagi untuk mengungkapkan semua yang ada di pikirannya.


Keringat dingin keluar di dahinya. Zefanya mencoba untuk merelaksasi dirinya sendiri. Beberapa saat dia memejamkan mata, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dokter Sandra berdiri di dekatnya, mengamati Zefanya tanpa berkedip, menunggu hingga rasa gugup Zefanya mereda.


Setelah dirasa cukup, Zefanya berbalik badan dan menghadap dokter Sandra.

__ADS_1


"A-aku... aku takut melihat mereka." lirih Zefanya, tersirat rasa pedih yang mendalam saat dia mengakui perasaannya yang sebenarnya.


"Kenapa?"


Zefanya susah payah menelan ludah, terasa sakit di tenggorokannya hingga tak bisa berkata - kata. Hanya matanya saja yang menatap doktet Sandra dengan sorot mata yang tidak bisa di definisikan.


"Apa karena kedua bayi lucu itu mengingatkanmu pada mereka? Apa karena wajah mereka begitu mirip dengan suamimu?" pancing dokter Sandra.


"Sama sekali tidak!" bantah Zefanya penuh emosi.


Louisa begitu mirip dengan dirinya tapi entah dengan Louis. Dia sudah terlanjur pingsan sebelum sempat melihat puteranya.


Dokter Sandra tidak berkata apa pun lagi, namun tatapan matanya yang teduh membuat Zefanya perlahan merasa tenang. Sorot mata itu mengajak Zefanya untuk melepaskan semua beban pikirannya.


"Aku... takut kalau mereka akan tumbuh dan menjadi mirip dengan ayah Ezra."


Kening dokter Sandra mengernyit. "Ayah Ezra adalah kakek si kembar. Bukankah hal yang normal, beberapa ciri kakek menurun pada cucunya?"


"Tidak... tidak... kamu tak akan mengerti." gumam Zefanya.


Tangannya mulai bergetar, dia berjalan mondar mandir untuk mengusir rasa gelisahnya. Dokter Sandra menghampiri dan memeluknya supaya tenang.


"Aku mengerti, Dear."


"Tidak!"


"Yes, aku akan mencoba mengerti."


"Oh, Tuhan! Berjanjilah padaku untuk merahasiakan ini kepada siapa pun. Kamu harus memegang sumpah jabatanmu dengan benar! Berjanjilah." tuntut Zefanya tanpa ampun.


"Kamu tahu kan kalau aku adalah salah satu psikolog terbaik di negara ini?"


Zefanya mengangguk ragu.

__ADS_1


"Ya. Aku berjanji atas setiap hal kecil yang kamu ucapkan akan terjamin kerahasiaannya." lanjut dokter Sandra dengan sangat yakin.


__ADS_2