
"Aku ingin kamu dan anak - anakmu menikmati suasana disini. Berharap tempat ini bisa menjadi surga bagi kalian. Disini, bersamaku... "
Tubuh Zefanya menegang, bulu kuduknya pun meremang. Ingin rasanya dia merebahkan kepala di dada Ezra, menumpukan tangannya keatas tangan suaminya yang sedang melingkar di pinggang. Sungguh menyesal sekali, suasana romantis yang diinginkan semua wanita, saat ini tidak bisa dinikmatinya.
Menyadari Zefanya yang terlihat tegang, Ezra mengecup puncak kepala istrinya dan tersenyum kecut.
"Apakah bersentuhan denganku terasa sangat menakutkan, Ma Moitie?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya, menyembunyikan luka yang kian menganga.
Zefanya mengerjapkan mata. Dia tak menoleh dan hanya memandang jauh diluar sana.
Malam akhirnya tiba, sinar matahari tenggelam di batas cakrawala dan kegelapan melingkupi rumah peristirahatan. Lelah perjalanan dan bermain membuat seluruh penghuni rumah masuk kamar dengan lebih cepat.
Begitu pula dengan Ezra dan Zefanya yang memutuskan untuk kembali tidur di kamar yang terpisah karena Zefanya masih juga menolak untuk tidur bersama - sama. Hal ini sebenarnya membuat Ezra kecewa, namun sekali lagi dia mencoba mengerti keinginan istrinya.
Dia tidur terlentang di atas kasurnya menatap langit - langit kamar yang ada di atasnya, memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk melunakkan hati Zefanya. Dia memutar kembali waktu - waktu seputar pernikahan dan bulan madunya dengan Zefanya. Adakah sesuatu yang luput sehingga perceraian menjadi sebuah pilihan?
Dia sudah mempersiapkan semuanya sesuai keinginan Zefanya. Bahkan tempat bulan madu dan hotel semua pilihan istrinya, jadwal kegiatan atau pun aktifitas mereka di atas tempat tidur juga sepertinya tidak ada masalah. Mereka benar - benar hanyut dalam cinta.
Dalam waktu tiga puluh hari dia harus bisa menemukan penyebab pengajuan surat cerai itu. Dan apa pun masalahnya, akan dia hadapi. Semuanya itu dia lakukan demi cinta. Apapun akan dilakukan demi keluarga kecilnya yang tercinta.
Sementara itu, air mata Zefanya kembali mengalir deras. Di atas tempat tidurnya dia kembali menyesali, kenapa Tuan Halley tidak membawa rahasia itu ke kuburnya? Kenapa harus menceritakan padanya usai bulan madu? Seandainya dia tidak tahu apa pun, tentunya hidup mereka akan baik - baik saja. Saat ini tentu mereka sedang menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecil mereka, berkumpul di dalam kamar yang sama. Bercanda dan saling menyentuh tanpa takut adanya dosa.
'Bagaimana bisa Tuan Halley tega berbuat seperti ini kepada mereka? Kenapa Mama tak pernah memperingatkan aku saat jelas - jelas aku terpesona pada Ezra?'
'Bagaimana bisa keluarga mereka tetap berhubungan dengan baik selama bertahun - tahun sedangkan pada kenyataannya ada perselingkuhan di antara mereka?'
Zefanya memejamkan mata, mencoba untuk tidur dan melupakan masalahnya sejenak. Kira - kira lima menit kemudian, Zefanya mendengar bunyi hujan. Dia mencoba memejamkan mata tapi deru hujan yang deras membuat suara - suara yang menyeramkan di kaca jendela. Zefanya melihat cahaya berkilat - kilat masuk dari sela - sela korden. Hal yang pertama terpikir olehnya adalah anak - anaknya!
__ADS_1
Zefanya segera menyibakkkan selimutnya, suara hujan yang deras dan guruh membuatnya merasa harus menengok si kembar. Dia langsung meloncat dari kasur begitu cahaya petir menyusup masuk melalui jendela. Kakinya reflex berlari keluar kamar dan masuk ke dalam kamar anak - anaknya.
"Ada apa?" tanyanya setengah berteriak pada Ezra yang sudah berada disana.
"Sepertinya hujan badai. Tidak apa - apa, semua akan baik - baik saja. Kita semua aman di dalam sini." Ucapnya mencoba menenangkan Zefanya.
Zefanya menepuk - nepuk punggung Louisa yang mulai bergerak dengan gelisah. Ezra mengusap lembur kepala puteranya.
"Anak laki - laki yang pemberani." pujinya pada Louis yang masih tidur nyenyak tanpa sedikit pun menyadari keganasan badai diluar sana. Zefanya memandangi kedua anaknya yang terlihat begitu polos di tengah badai yang mengamuk. Andai saja dirinya bisa menghadapi masalahnya dengan sikap yang sama tenangnya dengan mereka.
"Zie?"
"Eh, uhm... "
Zefanya tergagap saat mendengar Ezra memanggilnya, lamunan pun terputus.
"Ya... Aku baik - baik saja. Bagaimana denganmu, Ez?"
Ezra tak langsung menjawab, sorot matanya tiba - tiba menjadi tak terbaca. Kecanggungan mendadak muncul di antara mereka, suasana terasa lebih mencekam dibandingkan dengan badai diluar sana.
"Apa kamu tahu? Ini adalah pertama kalinya kamu menanyakan keadaanku sejak kamu sadar dari koma?" tanya Ezra haru bercampur pilu.
Zefanya menelan ludah. Kepedihan Ezra terasa hingga ke dalam tulang sum sum. Dia tidak bisa menanggapi apa pun, lidahnya kelu.
Saat Zefanya membeku, petir dan guntur kembali menyambar. Suaranya lebih kuat dan menggelegar. Louisa terbangun dan menangis dan segera disusul oleh Louis.
Zefanya melompat untuk menggendong salah satu dari mereka dan mendekapnya. Demikian halnya dengan Ezra, laki - laki itu meraih satu bayi sisanya dan memeluknya sambil mengecupi kepala buah hatinya itu.
__ADS_1
Sementara itu Ezra mengambil s-u-s-u di lemari penyimpanan dan menuangkan cairan berwarna putih itu ke dalam botol masing - masing lalu memberikan satu botol kepada istrinya untuk Louis.
Di dalam ruangan dengan penerangan minimalis, Zefanya membiarkan Louisa memegang erat jari tangannya. Mereka kembali diam beberapa saat.
"Zie?"
"Ya?"
"Aku akan menjaga anak - anak. Kamu bisa tidur sekarang."
"Tidak, Ezra." tolak Zefanya dengan tegas. "Kamu yang lebih membutuhkan istirahat supaya besok tidak mengantuk saat menyetir kembali ke rumah. Lagipula kamu sudah berbulan - bulan menjadi orang tua tunggal bagi mereka, malam ini biarlah aku mengambil tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku ingin mereka dekat denganku dan mencintai aku."
Ezra menghela napas dan memandang prihatin pada Zefanya. Dia selalu mengutamakan kepentingan wanitanya selama ini.
"Kamu juga merawat mereka sendiri saat hamil dan masa - masa awal melahirkan. Bulan - bulan pertama sangatlah penting untuk menjalin ikatan batin dengan anak - anak. Mengenai rasa sayang, mereka menyayangimu, terbukti dengan mereka yang langsung dekat denganmu. Jangan khawatirkan mereka, istirahatlah."
Zefanya tertegun. Ezra benar, anak - anaknya begitu mudah menempel pada dirinya.
"Terima kasih, Ez. Kamu baik sekali kepadaku." ucap Zefanya. Leher sedikit tercekat tanpa berani menatap Ezra, khawatir kalau - kalau dia mengatakan sesuatu yang lebih pribadi lagi.
"Kamu masih bisa merasa aku baik, meskipun aku memaksamu untuk tetap tinggal selama tiga puluh hari?" Tanya Ezra dengan getir. Pernyataan Zefanya begitu kontradiktif. Mulutnya berkata kalau Ezra baik tapi dia juga yang menolak keras untuk kembali bersama. Benar - benar ironi.
Zefanya menunduk dalam - dalam, takut dan sedih bercampur menjadi satu. Dia tidak takut Ezra akan menyakitinya karena kenyataannya justru dia yang berkali - kali mengecewakan suaminya.
"Ezra... " panggilnya pelan dengan pilu.
"Ya! Aku tahu. Kamu memintaku tidur dan meninggalkan ruangan ini kan?" sergah Ezra cepat. Dia harus tahu diri kalau tidak ingin merasa sakit hati lagi karena diusir oleh Zefanya. "Baiklah! Aku akan menuruti keinginanmu."
__ADS_1