
Permintaan Zefanya membuat Ezra sekali lagi harus menahan perasaan. Jauh di dalam hatinya, dia ingin menghabiskan waktu bersama Zefanya sebagai suami istri lebih lama. Masa - masa bahagia pengantin baru langsung berakhir dengan menghilangnya Zefanya. Dan kabar kecelakaan itu menghantam dan menghancurkan hari - harinya.
"Sebenarnya harapanku sama denganmu, Zie. Aku ingin kita berdua merawat anak - anak tanpa bantuan pengasuh." ujar Ezra cepat tanpa menoleh ke arah Zefanya. "Nanti malam kita berdua akan menemui para pengasuh itu untuk membicarakan masalah putus kontrak secara baik - baik dengan mereka."
Ezra menekan pedal gas dan mobil yang ditumpangi mereka seakan melompat menuju jalan utama, melaju dengan kecepatan cukup tinggi untuk meluapkan emosi Ezra. Zefanya mengalihkan perhatian ke jendela, dia menjulurkan kepala siapa tahu bisa melihat sosok anak - anaknya yang sedang berjalan - jalan bersama pengasuh mereka.
"Mereka berjalan - jalan lewat jalan setapak di belakang rumah, tidak ke arah sini." kata Ezra lagi seolah tahu apa yang dicari oleh Zefanya. "Kalau besok udaranya sebagus hari ini, kita akan berjalan - jalan bersama mereka. Aku akan meminta juru masak menyiapkan bekal untuk kita. O'ya, kita juga bisa menghabiskan waktu dengan berlayar. Kamu juga sangat menyukainya dulu."
"Oh! Kedengarannya akan menyenangkan." seru Zefanya pura - pura bersemangat. "Tapi sayangnya, kita belum mempunyai pelampung - pelampung kecil untuk anak - anak. Kita akan pergi kalau mereka sudah memiliki benda - benda yang bisa menjamin keamanan mereka selama berlayar." ujarnya kembali memberikan alasan.
Dan alasan itu benar - benar konyol, Zefanya lupa siapa Ezra. Suaminya adalah salah satu orang terkaya di kota mereka, sekali saja dia mengangkat telepon maka barang apa pun yang dia butuhkan akan tiba dalam hitungan menit.
"Ah, itu bukan masalah. Aku sudah membelinya sejak lama sebagai persiapan kalau suatu hari kita akan pergi berlayar bersama." jawab Ezra dengan nada riang berbalut kemenangan. Senyum miring terukir di bibinya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan dirinya dalam hal perencanaan. Dia adalah tipe orang yang sangat detail dalam merencanakan sesuatu.
Jantung Zefanya serasa berhenti berdetak. Mereka akan pergi berlayar dan tadi Ezra mengatakan kalau nanti malam mereka akan memutus kontrak para pengasuh bayi mereka. Apakah artinya mereka hanya akan pergi berempat? Astaga! Zefanya merasa terjebak dengan rencananya sendiri.
"Setelah kunjungan kita ke dokter anak, kita akan makan fish and chip kesukaanmu di Fisher's. Sudah lama kamu tidak merasakan ikan kod goreng dengan potongan kentang besar. Bayangkan rasanya yang lumer di mulut saat dicocol dengan saus tomat dan saus tar tar." Ezra mengiming - imingi Zefanya, terus berusaha menggugah selera makan istrinya.
Zefanya menahan diri untuk tidak menjilat bibirnya, bayangan saus tar tar homemade buatan mereka serta porsi fish and chip yang besar. Pasti sangat menyenangkan kalau dia menikmatinya bersama Ezra. Sejujurnya apapun yang dilakukan bersama suaminya terasa menyenangkan, bahkan hanya duduk berdua bersebelahan tanpa melakukan apa pun sudah cukup membuatnya bahagia.
__ADS_1
Masalahnya, sekarang ini semua sudah berubah. Ketakutan Zefanya pada cinta Ezra begitu besar. Duduk bersama ditambah dengan makan malam, hanya akan membuatnya semakin terjerat pada perasaannya sendiri. Kenyataan yang membuat Zefanya benar - benar dilema.
Namun untuk menolak rencana Ezra pun akan sia - sia, laki - laki itu sudah berniat mengembalikan berat badannya seperti semula maka itulah yang akan terjadi.
Zefanya menghela napas, satu - satunya yang bisa dilakukan olehnya adalah mengalir bersama Ezra selama tiga puluh hari waktu yang diminta oleh suaminya. Dan satu lagi, berusaha memperlakukan Ezra sebagai teman baik selama sisa dua puluh delapan hari ke depan.
"Baiklah. Rencanamu terdengar bagus." jawab Zefanya akhirnya, berusaha berbicara dengan suara biasa.
Mobil berhenti di depan tempat praktek dokter yang memeriksa kesehatan anak - anak mereka. Ezra tak mengatakam apa pun, namun matanya menatap Zefanya dalam - dalam seakan ingin menembus hati nurani istrinya yang paling dalam. Nyali Zefanya ciut, laki - laki di hadapannya ini benar - benar bertekad untuk membuat rumah tangganya berhasil. Mata itu seolah menyatakan akan menyingkirkan apa pun yang menghalanginya.
'Kasihan, Ezra. Sekuat apa pun tekadnya tak mungkin dia mengalahkan takdir.' bisik Zefanya dalam hati.
Seseorang mengetuk jendela mobil Ezra dengan sopan, sepertinya dia sudah menunggu kedatangan mereka.
"Dokter Calvin sudah siap menemui anda saat ini." ucap wanita muda itu dengan sopan sesaat setelah Ezra membuka kaca jendelanya.
"Kami akan segera menemuinya, Suster. Terima kasih." Ezra segera melepas seatbelt dan keluar dari mobil.
Dia berjalan memutari mobil lalu membuka pintu. Tak ingin Ezra menyentuhnya meski tanpa sengaja, Zefanya sudah membuka seatbelt-nya terlebih dahulu. Bersentuhan dengan Ezra hanya akan membuat jantung dan hormonnya semakin kacau.
__ADS_1
Ezra membuka pintu dan mengulurkan tangan kepada wanita pujaannya. Tapi Zefanya memalingkan muka dan dengan susah payah mengungkapkan keinginannya.
"Ezra, kalau kamu tak keberatan, aku ingin masuk ke dalam seorang diri. Selama ini kamu sudah melakukan banyak hal untukku, membuatku selalu bergantung padamu hingga tidak bisa mandiri... Apa kamu bisa memahamiku?"
Telapak tangan yang menghadap ke atas itu, langsung mengepal dan luruh disamping tubuh Ezra. Sinar di mata Ezra meredup, berganti dengan ekspresi kecewa yang begitu dalam. Entah sudah berapa kali Zefanya menyakiti Ezra dan sepertinya akan terus berlanjut hingga akhir masa perjanjian mereka.
Dengan berat hati Ezra menyetujui permintaan itu, terlihat dari caranya mengangguk samar. Dia berdiri di tempatnya sambil menatap datar punggung Zefanya yang berjalan masuk menuju ke tempat praktek dokter.
Di dalam ruangan, Zefanya bertemu dengan seoranh dokter berusia yang usianya sebaya dengan dokter Sandra. Sikapnya yang ramah dan bersahabat membuat Zefanya merasa nyaman. Dia terlihat senang, akhirmya bisa bertemu dengan ibu si kembar Halley.
"Selamat anda sudah pulih, Nyonya. Aku turut bersedih mendengar keadaan anda saat itu. Untunglah bayi - bayi anda tumbuh sehat tanpa kurang suatu apa pun." Ucap dokkter Calvin spontan.
Bahkan sebelum Zefanya menanyakan apa pun, dokter itu sudah mengeluarkan kartu pertumbuhan Louis dan Louisa, lalu membuka laptopnya. Tanpa diminta, dia langsung menerangkan satu demi satu secara detail hal - hal yang berkaitan dengan kesehatan bayi - bayinya.
Zefanya menghela napas. Yang dikatakan Ezra sama dengan apa yang dikatakan dokter Calvin. Si kembar dalam kondisi sempurna. Namun ada hal yang membuat Zefanya belum puas. Ketika dokter menyimpan kembali kartu pertumbuhan dan bermaksud menyudahi pertemuan itu, Zefanya menolaknya.
"Maaf, Dokter. Sebenarnya ada hal lain yang harus saya tanyakan lebih dalam."
"Iya, Nyonya? Katakan saja." Pintanya sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangan, sudah saatnya memanggil pasien pertama.
__ADS_1