Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 30 -- The Replica Of Ezra


__ADS_3

Perjalanan pulang dilalui mereka dengan suasana normal, pembicaraan mengalir dengan lancar seputar tumbuh kembang kedua anak mereka. Kalau dilihat dari luar, semua akan mengira hubungan Ezra dan Zefanya baik - baik saja. Sepasang suami istri sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah sambil membicarakan anak - anak dengan raut wajah bahagia. Tidak ada canggung di antara mereka.


Ezra berbicara sambil terus menyetir mobil sport miliknya menunuu mansion. Disampingnya Zefanya tak bisa menahan diri mencuri lihat ke arah suaminya. Rahang keras Ezra dari samping menampilkan sosok maskulin, tampan dan gagah. Zefanya tiba - tiba saja merasa haus. Ya. Haus akan pelukan dan ciuman suaminya, dia menginginkan jari jemari Ezra kembali menyentuhnya. Membawanya terbang ke malam - malam dimana mereka saling memberikan cinta.


'Astaga! Kamu benar - benar gila!' tegur hati nurani Zefanya saat mendapati dirinya masih mendambakan Ezra.


Dari tempat duduknya, Ezra mengulum senyum ketika menyadari beberapa kali Zefanya mencuri pandang. Namun dia berpura - pura tidak tahu.


"Kita sudah sampai, Ma Moitie." bisik Ezra di dekat telinga Zefanya. Dia sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Zefanya, sementara tangannya mengusap lembut pipi Zefanya.


Sesuai dugaan, Zefanya terjengit. Dia bergegas membuka seatbelt dan pintu mobil, lalu meloncat turun dari mobil. Kemudian, tanpa menunggu reaksi Ezra, Zefanya menerobos pintu utama dan terus berlari menuju kamar anak - anaknya.


Seorang pelayan menyapa, namun Zefanya hanya membalas sapaan itu ala kadarnya. Tak sedikit pun mengurangi kecepatan larinya. Tiba di kamar Louisa, Zefanya terengah - engah menyapa pengasuh - pengasuh si kembar. Mereka semua ternyata sedang berkumpul di kamar baby Louisa.


"Oh, Nyonya Halley!" pengasuh yang sedang mengganti diapers itu menoleh dan menghentikan pekerjaannya untuk menyapa nyonya rumahnya.


Tak terlalu menghiraukan ekspresi terkejut pengasuh itu, Zefanya langsung menghampiri anak laki - lakinya. Dia sudah pernah melihat Louisa sebelumnya tapi tidak dengan Louis. Ini pertama kali mereka bertemu setelah terpisah selama berbulan - bulan.


Dipandanginya lekat - lekat wajah Louis. Puteranya itu berambut cokelat tua mirip dengan mertuanya. Tapi saat ini, Zefanya memutuskan untuk tak memikirkan apa pun soal kemiripan itu.

__ADS_1


"Hey, Louis." bisiknya penuh rindu. Mata Zefanya menatap bayi laki - laki itu dengan penuh cinta. Kini dia mengerti kenapa Ezra berkata dia seperti melihat replika Zefanya dalam diri Louisa karena saat ini pun, Zefanya seakan melihat Ezra kecil di dalam diri Louis.


"Selamat siang, Meilissa, Suzzie." sapa Ezra yang tiba - tiba saja muncul dari belakang Zefanya. Dia langsung menyapa kedua pengasuh anak - anaknya. Wanita - wanita berwajah ramah itu menyambut tuannya dengan sopan. Meilissa membawa Louisa mendekat kepada Zefanya dan Ezra.


Jean yang berdiri di sebelah Zefanya mengangkat Louis supaya posisinya lebih mendekat pada Zefanya dengan tujuan Mama si anak yang diasuhnya bisa melihat dengan lebih jelas.


"Louis lebih pendiam dari pada Louisa, Nyonya. Namun ketika lapar, dia akan sangat aktif mengoceh. Untuk hal - hal selain itu, putera anda lebih banyak diam dan memperhatikan. Setiap kali dia diam, ekspresinya benar - benar mirip dengan suami anda, Tuan Halley."


Zefanya tersentak dengan penjelasan pengasuh puteranya. Selama lima bulan terakhir ini, wanita di hadapannya inilah yang menjaga puteranya. Menjadi ibu bagi anak yang dikandungnya selama delapan bulan, karena mereka lahir prematur. Ingatan bahwa dirinya hanya sempat merawat anak - anaknya selama satu bulan membuat rasa cemburu itu menggelegak di dalam dadanya.


Suzzie tahu lebih banyak tentang puteranya adalah hal yang wajar, tapi rasa cemburu itu tak bisa ditahan. Tangan Zefanya tanpa terkontrol langsung meraih dan mendekap erat Louis. Harum lotion bayi bercampur susu terasa begitu menyenangkan, merasuki indera penciuman Zefanya.


Mata Zefanya terbelalak, melihat bayi laki - laki gemuk dengan pipi bulat kemerahan. Ini adalah puteranya yang sempat menjalani perawatan di inkubator karena detak jantungnya lemah. Mengenang perjuangan Louis melawan maut saat itu, membuat Zefanya tak bisa menahan diri untuk menciumi pipi puteranya.


Dia kembali menghujani Louis dengan kecupan dan cubitan - cubitan gemas di setiap bagian tubuhnya yang montok. Si bayi diam saja, hanya matanya yang bening menatap Zefanya penuh rasa ingin tahu. Tatapan yang membuat mata Zefanya terasa menghangat, sisi melankolisnya tersentuh. Puteranya tidak mengenali dirinya.


Tak ingin ada yang melihat air matanya menetes, Zefanya membenamkan wajahnya ke perut Louis. Rupanya gerakan itu mengejutkan Louis yang langsung menangis kencang.


Terkejut dengan tangisan Louis, Zefanya memperbaiki posisi gendongannya. Dia menggendong Louis dengan posisi berdiri, bersandar di dadanya sambil menepuk - nepuk punggungnya, berusaha menenangkan bayi laki - laki itu.

__ADS_1


"Maafkan, Mama. Maafkan, Mama. Kamu terkejut ya?" ucapnya pelan sambil menimang - nimang bayi di dadanya. Tangannya kini mengusap - usap kepala Louis, berusaha membujuknya supaya tenang. "Mama cuma terlalu merindukanmu, Sayang."


Tapi, Louis terlanjur kaget. Dia tidak dapat ditenangkan.


"Sebenarnya tadi tuan muda sudah lapar, Nyonya. Dia akan marah kalau makanannya datang terlambat. Tidak apa - apa, Nyonya. Biar saya memberinya makan." Suzzie mencoba menghibur Zefanya yang terlihat mulai panik.


Kata - kata yang seharusnya menghibur ternyata justru membuat Zefanya sedih. Pengasuhnya itu lebih tahu soale puteranya dari pada dia, ibu kandungnya.


Mengerti perasaan Zefanya, Ezra mencium kepala Louis. "Silahkan makan bersama pengasuhmu, Boy. Papa dan Mama akan menyusul bersama adik perempuanmu." ucapnya sekaligus memberi kode pada Suzzie untuk mengambil Louis dari Zefanya.


Meski tidak menyaksikan kelahiran putera dan puteri kembarnya, Ezra tahu siapa yang lahir lebih dahulu dan siapa yang terakhir karena begitu mengetahui keberadaan Zefanya dan bayinya, Ezra langsung mencari tahu segalanya yang berhubungan dengan si kembar. Setelah itu dia membawa anak - anaknya kembali ke mansion.


Perawatan intesif diberikan pada Louis yang tidak sesehat Louisa dan kini puteranya itu bahkan bisa menangia lebih kencang dari puterinya.


Rasa cemburu Zefanya sedikit berkurang saat melihat kalau tidak mudah bagi pengasuh itu untuk menenangkan Louis sebelum memberi makan. Merasakan usapan Ezra di rambutnya, Zefanya segera mengalihkan perhatian pada Louisa.


"Oh, Louisa. Kamu cantik sekali." Zefanya menangkup wajah mungil puterinya dengan kedua tangan dan mencium pipinya yang berlepotan makanan. Rupanya Louisa sudah lebih dahulu makan, dan hampir menghabiskan satu mangkuk brokoli yang sudah dihaluskan.


Louisa menggapai - gapai kepada Ezra seperti orang sedang minta tolong. Ezra menghampiri dan mengambil Louisa dari kursi makannya. Seketika bayi perempuan itu menyurukkan kepalanya ke leher sang papa seakan mencari perlindungan.

__ADS_1


Zefanya berusaha menarik perhatian Louisa, dia memutari ayah dan anak itu sambil mencoba mengajak main peek a boo. Tapi bayi itu malah ketakutan dan mulai terisak.


Bahu Zefanya luruh dan memandang Louisa dengan tatapan putus asa.


__ADS_2