Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 33 -- Stay With Us Forever


__ADS_3

Zefanya memejamkan mata kuat - kuat, tidak hanya berpura - pura tidur tapi juga memaksa dirinya untuk benar - benar tertidur. Tetap terjaga dan tidur berdampingan seperti ini hanya akan membuat segalanya makin runyam.


Tapi rasanya sulit sekali tidur di bawah tatapan tajam Ezra. Meski matanya terpejam, Zefanya bisa merasakan kalau Ezra tengah memperhatikan dirinya. Hampir tak mungkin aki - laki itu tidak tahu kalau dirinya sedang berpura - pura.


Dalam hati Zefanya merasa iri pada anak - anaknya yang bisa langsung tidur begitu saja tanpa beban. Sementara dirinya harus bertahan detik demi detik di bawah tatapan tajam Ezra, sebelum akhirnya terlelap. Laki - laki itu sedang menunggunya, mencari tanda sekecil apa pun kalau - kalau Zefanya mendengar ucapannya tadi.


Namun Zefanya cukup pintar bersandiwara, dia tak memberikan respon sedikit pun. Dia diam dan terus berdoa supaya kuat bertahan menghadapi Ezra dua puluh tujuh hari ke depan. Lambat tapi pasti, ketegangan tubuhnya mulai menghilang berganti dengan datangnya rasa kantuk.


Beberapa waktu kemudian, Zefanya terbangun dari tidurnya. Sesuatu yang berat terasa menindih pinggulnya. Nalurinya sebagai seorang ibu merasa kalau itu adalah salah satu dari anaknya. Dengan mata setengah terpejam, Zefanya meraba - raba untuk memastikan apakah kalau anaknya ada disana.


Begitu tangannya meraba seberkas rambut tebal, Zefanya langsung terjengit. Matanya terbelalak lebar melihat kepala yang ukurannya terlalu besar untuk ukuran seorang bayi. Zefanya benar - benar harus menahan diri untuk tidak memekik kaget, entah bagaimana posisi mereka bisa jadi seperti ini.


Zefanya melongo, melihat posisi tidurnya yang sudah menghadap Ezra yang juga tertidur pulas. Dia mengingat - ingat apa saja yang telah dilakukannya saat tertidur tadi. Bisa saja dia memeluk Ezra atau apa saja yang tidak disadarinya. Secara alami, dia dan Ezra saling mendekatkan diri, saling mendekat dan merangkul, hal yang biasa mereka lakukan dulu. Lengan Ezra dengan posesif melingkari di pinggulnya dan dia tak bisa dipungkiri kalau rasanya sangat nyaman tidur di dalam pelukan Ezra.


Hal mengejutkan berikutnya adalah tangan Zefanya pun sedang mendekap kepala dan bahu Ezra. Ya ampun, posisi mereka begitu in-tim hingga jantung Zefanya berdebar kencang memikirkan apa yang sedang terjadi pada mereka saat ini. Belum juga usai kepanikan yang melanda Zefanya, pintu kamar tiba - tiba terbuka. Meilissa melongokkan kepala ke dalam untuk menengok kondisi anak - anak asuh mereka di dalam. Pandangannya bertemu dengan sorot terkejut Zefanya.


"Ups! Maafkan kalau saya mengganggu, Nyonya." ucapnya sambil menarik kepala secepat kilat dan kembali menutup pintu. Biasanya anak - anak tidur sendiri di kamar mereka masing - masing, maka saat ini dia tak merasa perlu mengetuk pintu.

__ADS_1


Siapa sangka di hadapannya tadi terpampang sebuah adegan in-tim sepasang suami istri, yang seharusnya bersifat pribadi. Dia tak sengaja melihat mereka. Suami istri itu sedang tidur masih dengan posisi berpelukan. Nyonya rumahnya dengan blouse berantakan yang sudah keluar semua dari rok yang dikenakannya. Sementara itu lengan suaminya yang satu ada di paha wanitanya dengan posisi rok tersingkap.


Terpergok pengasuh anaknya, Zefanya merasakan pipinya memanas karena malu. Meilissa pasti berpikir yang tidak - tidak soal mereka, semoga saja gadis itu tidak suka bergosip.


'Tapi bukankah wajar sepasang suami istri melakukan hal seperti ini? Toh bagi Meilissa dan semua orang, mereka adalah sepasang suami istri yang sah di mata Tuhan dan negara?' Zefanya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Yah, setidaknya sampai hari ini mereka masih sah tercatat sebagai suami istri.


'Iya... Itu tidak apa - apa kalau kamu tidak tahu yang sebenarnya, Zie! Kalian bukan suami istri tapi kakak beradik! Hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi dan tidak boleh diulang lagi!' tegur sisi hatinya yang lain dengan berapi - api, membangkitkan kembali rasa bersalahnya.


'Oh! Lalu bagaimana caranya aku menjalani sisa dari tiga puluh hati perjanjiannya dengan Ezra? Aku tak yakin bisa terus menerus menghindari kontak fisik.' keluh Zefanya sambil menangis dalam hati. Dia benar - benar tersiksa dengan situasi seperti ini.


Tangisan salah seorang anaknya mengejutkan Zefanya, dia pun panik. Di belakang punggungnya, Louis terlihat marah karena terbangun tiba - tiba akibat punggung Zefanya menyenggolnya dengan keras. Suara melengking itu membangunkan saudara perempuannya. Sesaat Louisa membuka mata lebar terkejut, lalu ikut menangis. Dan, sekarang dua bayi kembar itu menangis bersamaan.


Bingung dan penyesalan menyergap Zefanya, wanita itu bangkit berdiri secepat yang dia bisa. Sayangnya, tidak cukup cepat untuk menghindari Ezra. Laki - laki itu terbangun saat merasakan Zefanya terlepas dari pelukannya. Ditambah suara tangis bayi kembar yang berhasil membuat matanya semakin terbuka lebar.


Sesaat Zefanya gugup mendapati sorot mata Ezra yang seolah mengejek dirinya yang telah berhasil terlena.


"Bukankah tidurmu nyaman sekali, Ma Moitie? Sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini." ucap Ezra pelan, tapi terasa menusuk. Senyum kemenangan terukir di wajahnya yang bangun tidur. Tetap tampan dan mempesona.

__ADS_1


Zefanya bergidik ngeri. Sekali lagi Ezra sudah berhasil mengalahkannya, dan sepertinya akan terus begitu. Kalut dengan pikirannya, Zefanya meraih Louis yang menangis lebih kencang dibanding Louisa. Sementara Louisa? Bayi perempuan itu menangis sambil beringsut menuju ke tempat Ezra berbaring. Ezra langsung meraih dan menepuk - nepuknya lembut dan seperti biasa Louisa akan tenang di dalam hangatnya dekapan sang papa.


Zefanya meletakkan Louis di atas meja untuk mengganti diapers yang sudah penuh dan menggantinya dengan yang baru. Louis masih saja menangis, maka Zefanya memberikan sebotol s-u-s-u dan menimangnya. Awalnya anak itu menolak. Tapi saat s-u-s-u menetes di bibirnya, dia langsung melahapnya dengan rakus. Rupanya dia juga haus.


"Maafkan mama, Louis. Mama tidak sengaja membangunkanmu." Lirih Zefanya penuh sesal


Perlahan - lahan Louis semakin tenang dalam gendongan Zefanya hingga akhirnya berhenti menangis.


Suasana ruangan jadi terasa hening, tangis si kembar sudah tenang. Yang satu berguling - guling di box bayi dan satu lagi di atas matras berlapis selimut tebal di lantai. Zefanya menyibukkan diri dengan diapers kotor dan beberapa barang yang berserakan di meja bayi.


Setelah yakin Zefanya bisa mengatasi puteranya, Ezra mengambil Louisa dan menggendongnya.


"Kamu bersama Papa dulu, Sweety. Mamamu sedang sibuk mengurus Louis. Setelah saudaramu beres, maka Mama akan ganti mengurusmu. Ok?"


Zefanya tersenyum lega dan mengangguk setuju dengan kata - kata Ezra. Namun rasa lega itu tak berlangsung lama, kata - kata Ezra selanjutnya membuat Zefanya merasa tegang luar biasa.


"Karena Mama akan tinggal disini, bersama kita dan selamanya." Ucap Ezra tegas, dengan penekanan di setiap kata.

__ADS_1


__ADS_2