Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 40 -- A Kiss, And I Want More


__ADS_3

Sebuah Ci-uman, dan aku ingin lebih


Zefanya menarik selimut menutupi tubuhnya dan bersiap untuk tidur, matanya mengantuk tapi otaknya tidak mau bekerja sama. Dia melihat bayangan Ezra dimana - mana. Di langit - langit kamar dia melihat wajah kecewa Ezra, di dinding kamar terpampang tatapan pedih laki - laki itu. Kemudian saat matanya terpejam, Zefanya melihat ekspresi rindu Ezra, menari - nari di hadapannya.


Belum hilang bayangan Ezra yang terus muncul di kepala, perasaan waswas menyergap dirinya memikirkan rencana Ezra besok.


Begitu matanya terbuka maka malam sudah berganti pagi dan rencana untuk pergi ke pulau bersama Ezra bisa saja terlaksana. Setelah itu, matanya benar - benar tidak bisa terpejam. Otaknya terus berputar, mencari jalan keluar untuk meloloskan diri dari rencana jalan - jalan bersama Ezra.


Andaikata Louise datang besok. Hal ini bisa dijadikan alasan oleh Zefanya. Sayangnya, tiket penerbangan sudah dipesan dan tidak mungkin diubah sesuka hati. Apa kata Ezra saat mengetahui perubahan jadwal yang sangat tiba - tiba nanti?


Zefanya terbangun. Dia berjalan ke pintu dan melongok keluar kamar lalu melihat ke sekelilingnya. Belum terlihat ada pelayan yang bekerja, lampu lorong masih menyala pertanda matahari belum terbit.


Rasa rindu pada Louis dan Lousia membuatnya berjalan tanpa suara menuju kamar anak - anak. Ezra ternyata sudah ada disana sedang menggendong puteranya yang sedang merengek dan terlihat gelisah di dalam pelukan Ezra.


"Ada apa?" tanya Zefanya heran melihat wajah Ezra yang tampak khawatir.


"Suhu tubuhnya agak tinggi." jawab Ezra menjelaskan.


"Demam?"


"Iya. Mungkin gejala flu."


Raut Zefanya seketika berubah murung, penyesalan memenuhi rongga dadanya. Dirinya tak menyadari kalau Louis sudah mulai tidak enak badan sejak semalam. Saat mau tidur semalam Louis memang sudah mulai rewel, tapi tidak terpikir sedikit pun akan kemungkinan puteranya sakit.

__ADS_1


"Sini aku gantikan menggendong Louis." ucap Zefanya.


Diam - diam Zefanya mengamati Ezra yang menyerahkan puteranya tanpa banyak protes, sepertinya Ezra memang lelah. Rambutnya terlihat berantakan dan kerutan di dekat mata terlihat lebih jelas namun semua itu tidak juga berhasil menghapus ketampanannya. Desiran halus menyapu jantung Zefanya, dia cepat - cepat memalingkan wajah sebelum tertangkap basah karena telah mencuri pandang pada suaminya.


"Aku sudah memberinya obat penurun panas, tapi sepertinya obat itu belum bekerja." Ezra memijat pelipisnya.


Tak tega melihat Ezra kelelahan, Zefanya memberi saran, "Tidurlah dulu sebentar. Aku bisa menjaga Louis."


Ezra menggelengkan kepala. "Sebentar lagi Louisa akan bangun. Aku merasakan sendiri bagaimana rewelnya Louis saat sakit. Kamu akan kerepotan kalau mengurus mereka berdua sekaligus."


Laki - laki ini memang baik, dia selalu memikirkan Zefanya lebih dari apa pun. Zefanya menahan haru dan berusaha membujuk Ezra.


"Diluar sana banyak ibu - ibu yang mengurus dua anak sekaligus dan mereka baik - baik saja."


Ezra meregangkan otot - ototnya. "Kamu baru saja sehat dan sedang dalam masa pemulihan, seharusnya tidak bekerja terlalu keras. Lagipula selama ada aku disisimu, aku tak akan membiarkanmu kelelahan."


"Aku tidak akan sakit lagi hanya dengan menjaga kedua anakku, Ezra. Disini juga banyak pelayan yang bisa aku mintai tolong, aku tidak akan repot. Dan satu lagi, aku meyimpan nomer dokter Calvin, aku janji akan menghubunginya begitu dibutuhkan." Zefanya memasang senyum terbaiknya demi meyakinkan Ezra untuk beristirahat.


Dari cerita Joan, hidup Ezra benar - benar kacau beberapa bulan terakhir ini. Tuannya itu bertahan hanya demi menunggu Zefanya sadar dan juga demi si kembar yang kehilangan kasih sayang ibunya.


Zefanya menangkap keraguan yang masih jelas terpancar di wajah Ezra, dia benar - benar tidak tega membebankan anak - anaknya pada Zefanya meski kemajuan kesehatan Zefanya begitu pesat akhir - akhir ini.


"Aku akan membangunkanmu kapan pun diperlukan. Bagaimana?" tambah Zefanya dengan nada lembut yang sudah lama tidak dipakainya di depan Ezra. "Kalau kamu terlalu lelah, bisa saja ikut tertular flu."

__ADS_1


Sorot mata Ezra meredup, kalimat terakhir Zefanya benar - benar menyentuh hatinya. Bukankah secara tersirat Zefanya peduli kepadanya? Dengan kata lain, Zefanya masih menyimpan perasaan kepadanya.


"Andaikata bisa, aku mau saja terserang flu dan harus dirawat olehmu."


Ezra mendekat dan mengecup bibir Zefanya dengan cepat, menikmatinya sesaat sebelum wanita itu sempat bereaksi lalu melepaskannya tiba - tiba. Zefanya membeku dan menatap Ezra dengan tatapan shock. Sebuah ci-uman singkat tapi mengguncang batinnya, merasuk ke dalam jiwanya. Kelembutan dan cinta Ezra yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang.


Kedua tangan Ezra menangkup wajah cantik yang disukainya, sementara jempolnya mengusap lembut bibir Zefanya.


"Aku mencintaimu, Ma Moitie. Sangat... " ucapnya penuh perasaan.


Zefanya mundur tanpa tahu harus bereaksi bagaimana. Tadi dia benar - benar lupa, kalau Ezra masih terus berusaha menaklukkan dirinya. Pandangan Zefanya lari kepada Louis, benar - benar kehabisan kata - kata. Rasanya begitu sesak saat tidak bisa membalas perasaan orang yang sangat kita cintai.


Saat ini Zefanya tak tahu, harus bersyukur atau bersedih karena puteranya sakit. Tidak ada seorang ibu yang berharap anaknya sakit dan bisa jadi Louisa tertular saudara kembarnya. Tapi di sisi lain, sakitnya si kembar seolah menjadi jalan untuk membatalkan rencana jalan - jalan bersama Ezra. Beberapa hari ini mereka tidak akan pergi kemana - mana, kemudian Louise datang maka Ezra dan dirinya tidak akan mempunyai banyak kesempatan untuk berdua. Insiden ci-uman ini tidak boleh terulang lagi.


"Aku ada di kamar depan, Ma Moitie. Jangan pernah ragu memanggilku, kapan pun itu." ucap Ezra penuh penekanan.


Dia melepaskan kedua tangannya dari wajah Zefanya sambil mati - matian menahan diri untuk mengecup sekali lagi bibir merah mungil kesukaannya. Setelah itu dia berjalan menuju pintu keluar dan menghilang.


Tidak ada kata yang bisa menggambarkan hancurnya hati Zefanya. Seperti ada yang hilang saat Ezra melepaskan tangannya dan menghilang di ambang pintu. Seolah - olah ada bagian dari dirinya yang sedang diambil secara paksa. Sakit dan sesak tapi menangis pun tak bisa mengurangi bebannya.


Andaikata...


Iya, ini hanya sebuah pengandaian. Andaikata Ezra tahu hal yang sesungguhnya, akankah lebih mudah bagi Ezra untuk melepaskan dirinya? Bisakah mereka mengubah cinta sepasang kekasih menjadi kasih sayang saudara? Terus memupuk kedekatan sebagai kakak dan adik? Mampukah mereka memandang satu sama lain tanpa keinginan untuk bersentuhan layaknya saudara dekat?

__ADS_1


Dia mendekap Louis dan menciuminya dengan air mata meleleh di pipi.


"Tidak bisa, Louis. Tidak bisa. Sudah satu tahun aku tahu kalau ayahmu adalah kakakku. Tapi cintaku padanya tidak pernah berubah." Ucapnya pilu, mengadukan ketidak adilan nasibnya ini kepada puteranya.


__ADS_2