
Ezra benar - benar luar biasa. Bagaimana pun kacau perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, dia sama sekali tidak menunjukkan. Hatinya geram, sekali lagi Zefanya sengaja memperlebar jarak di antara mereka. Kali ini dengan berusaha menghadirkan kakak perempuan dan keponakannya di mansion. Dengan kehadiran dua orang itu, sudah pasti kesibukan Zefanya akan bertambah. Kesempatan untuk berjauhan juga semakin besar.
Ezra memasukkan sepotong keju cheddar ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan tenang lalu menelannya.
"Apakah menurutmu, mengundang Louise adalah hal yang bijak? Mengingat bagaimana keluarga mereka saat ini?" tanya Ezra dengan nada datar, tanpa gejolak apa pun.
Zefanya menghela napas. "Maksudmu tentang suaminya?"
"Zie... " ucap Ezra perlahan.
Zefanya mendongak.
"Apa kamu tahu? Dengan mengundang Louise dan puternya sama artinya mengundang suaminya juga?"
Zefanya diam, terlihat berpikir. Ezra membetulkan posisi duduknya dan menatap Zefanya dalam - dalam. "Suami kakakmu itu, tidak tahu arti bekerja. Menjadi tamu di rumah kita hanya akan membuatnya semakin malas."
Zefanya mengangguk ragu. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku hanya mengundang Louise dan keponakanku. Aunty Laura bilang kalau Louise sedang ada masalah dan aku ingin mendukungnha. Mungkin dengan berlibur kesini akan membuatnya lebih tenang. Dia butuh dukungan keluarga, Ezra."
Meskipun alasan Zefanya terdengar masuk akal, rasa bersalah membuat Zefanya melarikan pandangannya dari tatapan tajam Ezra. Dia tahu kalau Ezra sangat pintar. Suaminya itu pasti tahu alasan kenapa dia mengundang Louise ke mansion. Apalagi kalau bukan untuk menghindari Ezra?
Ezra menghela napas panjang. "Baiklah. Kapan kamu ingin Louise datang?" tanya Ezra mengalah.
"Secepatnya." sahut Zefanya tanpa berpikir ulang.
"Kalau begitu aku akan menyuruh asistenku untuk mengurus keberangkatannya."
"Ha?"
"Biar asistenku membelikan tiket dan menghubungi Louise secepatnya."
__ADS_1
Zefanya terperanjat. "Tidak, tidak usah." tolaknya cepat - cepat. Ada rasa sungkan menyelusup di hatinta, Ezra berbaik hati untuk membiayai kebutuhan kakaknya.
"Ehm, maksudku, Louise bisa membeli tiket sendiri." tambah Zefanya kemudian. Dia mengucapkannya dengan sangat pelan, khawatir kalau perkataannya akan menyinggung Ezra.
"Apa Louise mempunyai cukup uang untuk datang kemari?" tanya Ezra to the point.
Dia tahu segalanya tentang kakak iparnya itu, mulai dari hubungan Louise dengan suaminya hingga keuangan mereka yang sedikit kesulitan. Suami Louise tidak bekerja, dia lebih suka menghambur - hamburkan uang dan bersenang - senang diluar daripada mengurus anak istrinya.
"Louise masih punya tabungan."
"Tabungan itu sebaiknya disimpan untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk perjalanan seperti ini. Lagipula, dia kesini karena undangan darimu sudah seharusnya kita membiayai perjalanan mereka."
"Tabungan Louise adalah uang warisan dari ayah kami. Lebih baik Louise menghabiskannya untuk diri sendiri dari pada untuk suaminya." ketus Zefanya, terlihat sangat tidak menyukai suami kakaknya.
"Mereka akan bertengkar kalau suami Louise tahu istrinya mempunyai simpanan tanpa sepengetahuan mereka. Selama ini Louise menyembunyikan tabungannya."
"Ah, ya...Sebenarnya pernikahan mereka ada di ujung tanduk... --"
"Ba-bagaimana kalau kita pulang? Tampaknya mereka sudah terlalu lama diluar. Kalau kamu lelah, aku bisa menggantikanmu menyetir. Aku masih ingat cara menyetir dengan baik." usul Zefanya mengusir canggung yang tiba - tiba muncul di antara mereka.
"Aku sangat percaya kemampuan menyetirmu." jawab Ezra sambil tersenyum penuh arti. Dia sendiri yang melatih dan memastikan kemampuan Zefanya menyetir saat gadis itu baru masuk kuliah.
"Jadi kita pulang?" Tanya Zefanya penuh harap.
Dia langaung berdiri, setelag sebelumnya mengambil si kembar dan menggendongnya. Satu di kanan dan satu di kiri.
"Tidak, Sayang. Kami belum mau pulang. Aku dan anak - anak masih ingin menikmati hari ini. Bagaimana kalau kamu menyetir sampai ke rumah peristirahatan?" Ezra bertanya balik. Nada suaranya lembut tapi tidak bisa dibantah.
Hati Zefanya mencelos. Rumah peristirahatan mereka memang tidak jauh dari situ tapi itu sama artinya dengan beberapa jam ke depan bersama Ezra. Sementara itu, didepannya Ezra sudah berjalan mendahului menuju mobil dengan membawa ranselnya.
__ADS_1
Zefanya tidak berani memaksa untuk pulang karena hanya akan semakin membuat Ezra penasaran. Dengan langkah gontai, Zefanya mengikuti Ezra yang langsung mengambil alih si kembar supaya Zefanya bisa duduk di kursi pengemudi.
Dengan tangan gemetar Zefanya memutar kunci mobil. Bukan karena dia takut mengendarai, sama sekali bukan. Dia hanya takut berada dekat dengan Ezra yang seakan siap menginterogasi dirinya kapan pun ada kesempatan.
"Jangan lupa lepaskan dulu hand rem." Ezra mengingatkan dengan sabar. "Kita bisa mengisi bensin nanti setelah pulang dari rumah peristirahatan."
Zefanya membuka kap mobilnya dan membiarkan angin sepoi - sepoi menghembus di wajahnya. Suasana pinggir pantai yang sepi di jam - jam segini membuat Zefanya mengemudi sambil melamun.
Andai saja dia bisa menikmati waktu - waktu bersama Ezra sebagai pasangan yang saling mencintai lebih lama, dia berjanji akan benar - benar berubah. Dia akan patuh pada Ezra, tidak lagi kekanak - kanakan seperti sebelumnya. Dia juga akan belajar memasak, meski ada juru masak di mansion yang selalu siap sedia melayani mereka.
Rumah peristirahatan kian dekat, Zefanya makin galau. Ezra berkeras untuk tetap tinggal bersama demi membuktikan kalau Zefanya tidak sungguh - sungguh dengan niatnya bercerai. Dan kini, waktunya makin dekat kalau dia atau mereka berdua akan sama - sama hancur.
Zefanya menguatkam hati untuk menyelesaikan hari ini dengan menyimpan rahasia itu. Setelah ini Louise akan datang, setidaknya satu hingga dua minggu akan terlewati bersama kakaknya. Ezra tidak bisa terlalu banyak mengganggunya.
Dan setelah itu, dia hanya perlu bertahan beberapa hari sisanya sebelum mereka benar - benar akan bercerai. Menceritakan kenyataan yang sebenarnya kepada Ezra hanya akan menimbulkan kepahitan di hatinya. Dia akan sangat kecewa terhadap ayah yang sangat dibanggakannya. Kita tak pernah tahu apa yang berubah di hati saat kecewa itu datang menghampiri.
Satu hal yang pasti, Ezra tak akan pernah sama lagi. Berapa kalipun Zefanya menimbang, jawaban akhirnya selalu sama. Lebih baik suaminya menderita sesaat karena patah hati dari pada kehilangan jati diri karena benci kepada ayahnya.
"Zie... Zie...!"
Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Zefanya tak menyadari panggilan Ezra. Baru setelah Ezra menepuk lengannya dan memaksanya berhenti menyetir, Zefanya baru sadar kalau mereka sudah melewati rumah peristirahatan.
"Berhenti di depan! Kita mampir supermarket terlebih dahulu untuk membeli bahan makanan."
Tubuh Zefanya menegang.
"Malam ini kita akan menginap." tegas Ezra.
"Tapi anak - anak?" protes Zefanya tak berdaya, mencoba merubah pikiran Ezra untuk tidak lebih lama bersama.
__ADS_1
"Mereka akan baik - baik saja bersama kedua orang tuannya."