Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 42 -- A Trick


__ADS_3

Sebuah 'Tipu Muslihat'


"Yeah! Tidak usah khawatir. Suamiku juga sudah merindukan aku. Tentu saja aku harus segera kembali ke pelukannya."


Sindiran Louise terasa tajam di hati Zefanya, secara tidak langsung dia sudah mengusir Louise. Padahal sebelumnya Zefanya yang meminta - minta kakaknya itu untuk datang dan menemaninya di mansion.


"Maafkan aku, Louise. Aku belum ingin berpisah denganmu tapi pernikahanku adalah urusanku sendiri. Tolong jangan ikut campur." pinta Zefanya putus asa.


Dia memandang sedih pada kakaknya. Louise hanya mencoba memikirkan yang terbaik bagi dirinya. Ketulusannya sebagai kakak tak perlu diragukan terlepas dari sikap ketus Louise kepadanya saat ini. Zefanya tentu akan merasa sedih saat Louise meninggalkan mansion besok.


"Tidak! Aku akan terus ikut campur karena yang kamu lakukan ini adalah salah, Zie." tolak Louise dengan tegas.


Dalam pandandannya, tidak ada masalah berarti dalam rumah tangga adiknya. Ezra adalah laki - laki terbaik yang pernah dikenalnya. Tak ada laki - laki lain yang bisa memahami dan memanjakan Zefanya sebaik Ezra. Louise iri tapi dia bahagia ada laki - laki yang mencintai adiknya sebesar itu.


Menahan emosi yang kembali meluap, Zefanya menarik napas untuk meringankan sesak di dadanya. Tak ada seorang pun yang mengerti dirinya. Tidak Louise dan juga Auntie Laura, semua berpihak pada Ezra.


"Kalian semua sama. Kamu tahu kenapa aku kabur dari kalian saat itu? Jawabannya adalah karena tidak seorang pun akan mendukung keputusanku! Aku menyesal berbincang denganmu." geram Zefanya sambil mengertakkan giginya.


"Terlebih lagi diriku. Aku sangat menyesal datang kemari dan menemanimu. Sekali lagi aku beritahu kamu." Louise berhenti sejenak dan menghirup udara. "Dan kamu akan menyesalinya suatu hari nanti." tambah Louise lagi penuh penekanan.


'S-i-a-l!' umpat Zefanya dalam hati.


Dengan emosi yang meluap - luap, Zefanya berjalan kembali ke arah mansion sambil mendorong kereta si kembar. Gerakannya yang tiba - tiba menyentak kedua anaknya. Mereka terkejut dan mulai merengek namun Zefanya tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Tak ingin Louise menyusulnya, dia berjalan cepat menuju mansion dengan si kembar yang mulai menangis bersahutan tapi Zefanya tak berhenti sedikit pun. Pikirannya sudah terlalu pusing memikirkan cara menghindari Ezra, dia tak ingin menambah dengan percakapan yang menyakitkan hati.


Sakit kepala Zefanya makin bertambah ketika Carlos meraung - raung karena masih ingin bermain dengan Louisa. Dia berontak begitu kuat saat ingin dipisahkan dari sepupunya itu. Kericuhan itu ditingkahi dengan tangis si kembar hingga Ezra keluar untuk membantu Zefanya menangani anak - anak mereka.


"Kenapa, Boy?" Tanya Ezra sambil mengangkat kedua anaknya dari kereta.


"Dia tidak mau berpisah dari Louisa." adu Zefanya sambil memperhatikan puterinya yang langsung tenang di dalam dekapan papanya.


Ezra tersenyum lalu menciumi pipi Louisa. "Rupanya tuan puteri cantikku ini berhasil memikat hati keponakanku."


Kata - kata Ezra membuat Zefanya tersentak, seakan Louisa dan Carlos akan mengulang kembali ceritanya dan Ezra. Kepalanya semakin penuh dengan kemungkinan - kemungkinan di masa depan akan hubungan anak - anak mereka dan sepupu - sepupunya.


"Aku sama sekali tidak heran. Louisa sangat cantik." puji Louise.


"Tentu saja dia cantik, Louisa adalah fotocopy Mamanya." sahut Ezra cepat. Matanya bersinar dan menatap Zefanya penuh cinta.


Merasa ngeri, tanpa sadar Zefanya merebut Louisa dari Ezra dan membawanya masuk ke dalam. Louisa kaget dan mengerang sambil mengeliat, bayi perempuan itu merasa tidak nyaman dengan perlakuan Zefanya.


Sayangnya, sang Mama sedang kacau pikirannya. Dia terlalu trauma memikirkan kisah cintanya dengan Ezra, tak ingin anak - anaknya mengulang cerita yang sama dan menyakinkan. Dalam hati dia berjanji tidak akan seperti orang tuanya dan Ezra yang membiarkan semuanya terlanjur terjadi.


"Ma Moitie?" Panggil Ezra dengan cemas untuk menyadarkan Zefanya. "Wajahmu pucat sekali. Apa kamu baik - baik saja?"


"Tidak, aku tidak apa - apa." jawab Zefanya sambil bergegas masuk dengan Louisa masih di dalam gendongannya.

__ADS_1


"Aku rasa ada yang sedang kamu pikirkan." Ezra mengikutinya dan terus memperhatikan setiap gerakan dan perubahan ekspresi Zefanya. Tatapan tajam Ezra begitu telilti, sekecil apa pun perubahan tak ada yang lolos.


"Kamu pasti sedih akan berpisah dengan kakakmu. Aku sudah merencanakan sesuatu yang menyenangkan nanti malam. Semoga kamu menyukainya."


Zefanya berhenti di depan pintu kamar anak - anak dan menoleh. "Rencana apa?" tanyanya penasaran.


Pancingannya berhasil, Ezra tersenyum.


"Malam ini akan ada pesta perpisahan sederhana dengan Louise. Joan sudah menyiapkan ruang makan utama dan juru masak juga sudah memasak banyak sekali makanan."


"O'ya? Siapa saja yang akan ikut berpesta?"


"Teman - teman kuliah kalian. Sahabat dekatmu saat kuliah. Louise membantuku mengundang semua teman - temanmu, Ma Moitie. Aku hanya ingin kamu bahagia bisa berkumpul dengan mereka semua. Bersenang - senanglah nanti malam." ucap Ezra tulus. Baginya senyum dan tawa Zefanya sangat langka akhir - akhir ini. Siapa tahu kehadiran teman akan membuat istrinya kembali bergembira. Apa pun akan diusahakan olehnya untuk mengembalikan senyum Zefanya.


Tidak ada hal yang lebih mengharukan bagi Zefanya selain ada orang yang begitu memikirkan dirinya. Ezra dengan besar hati mengadakan pesta untuknya dan tentu saja Louise juga akan menyukainya. Zefanya begitu nelangsa, kebaikan Ezra akan dibalasnya dengan sesuatu yang menyakitkan akhir bulan nanti.


"Jam berapa mereka semua akan tiba?" tanya Zefanya tanpa bisa benar - benar bahagia.


"Masih ada sisa satu jam untuk bersiap - siap, Zie. Tidak perlu khawatirkan anak - anak, para pelayan siap untuk mengurus mereka. Dan aku juga bisa menemani mereka kapan pun dibutuhkan. Nikmati saja acaramu, Sayang."


Ezra mengambil alih Louisa dari Zefanya, sekarang si kembar berada di tangan Ezra. Louisa di sebelah kiri dan Louise di sebelah kanan.


"Kalau begitu, aku akan bersiap - siap sekarang." ujar Zefanya langsung menuju kamarnya.

__ADS_1


Saat kakinya menginjak ruang makan besar tempat jamuan makan diadakan, Zefanya langsung menyesal sudah menuruti saran Ezra untuk hadir di acara itu. Suasana makan malam bergitu meriah dengan banyak orang yang mengenal mereka sejak lama. Lalu Ezra menyambut hangat kehadiran Zefanya, dia mengulurkan tangannya yang tidak mungkin di tolak oleh Zefanya. Mereka sedang berada di hadapan orang banyak.


Sekali lagi, Zefanya masuk ke dalam jebakan Ezra. Laki - laki itu sengaja membuat situasi menjadi sedemikian rupa sehingga mereka harus tampil layaknya suami istri yang mesra. Ini artinya selama beberapa jam ke depan, Zefanya harus berperan sebagai Nyonya rumah yang baik dan yang mengerikan adalah dia terpaksa membiarkan Ezra menempel pada dirinya.


__ADS_2