
"Setelah Tuan Halley setuju, maka anda bisa pergi bersama rahasia yang anda simpan rapat - rapat."
'Rahasia?'
Seperti ada palu raksasa memukul keras, tepat di ulu hati Zefanya. Dokter Sandra tahu kalau dirinya menyimpan rahasia. Zefanya memucat. "Tidak. Tidak ada rahasia apa pun." sangkal Zefanya lemah.
Raut wajah Dokter Sandra berubah sedih. "Nyonya, saya sudah cukup lama menangani anda. Saya tahu kalau masih ada sesuatu yang anda pendam. Sebenarnya tidak apa - apa, semua orang berhak mempunyai rahasia. Masalahnya suami dan istri seharusnya tidak menyimpan rahasia. Tapi kalau anda memilih untuk menyimpannya, maka anda harus tegar." nasehat Dokter Sandra. Dia juga tak ingin pasiennya terus gelisah, entah hal apa yang membuat Zefanya tak berani mengungkapkan ketakutannya.
Sesaat Zefanya menunduk. Dokter pilihan suaminya bukanlah dokter sembarangan, dia salah satu dokter terbaik di London. Pengalamannya dalam menangani pasien sudah tak perlu diragukan lagi. Kemudian Zefanya menengadah, tak bisa berkata apa - apa, hanya bisa mengedarkan pandangannya ke ruangan VVIP yang ditempatinya. Rumah sakit terbaik dengan pilihan kamar terbaik bagaikan hotel bintang lima. Ezra, suaminya itu benar - benar totalitas dalam mencintai. Dia memberikan segalanya untuk Zefanya.
Dokter Sandra benar. Satu - satunya cara untuk meninggalkan tempat ini adalah Ezra. Dia dan kekuasaannya tidak bisa dilawan selain bicara baik - baik.
'Ya Tuhan. Beri aku kebijaksanaan. Biarkan aku memilih kata- kata yang tepat saat bertemu dengan suamiku.' doa Zefanya dalam hati.
Perlahan keberanian dalam diri Zefanya terkumpul, dia menoleh kepada Dokter Sandra yang menatapnya iba. "Dokter, bisakah kamu memberitahu suamiku kalau aku ingin bertemu dengannya?" pinta Zefanya.
Dalam hati Zefanya terus berdoa semoga keberaniannya tak lenyap saat nanti benar - benar berhadapan dengan Ezra.
Dokter Sandra menggelengkan kepala. "Maaf, Nyonya. Saya rasa yang terbaik adalah anda menghubunginya sendiri. Bersikaplah dewasa. Dengan anda menghubunginya sendiri, Tuan Halley akan berpikir anda sudah memikirkan semuanya matang - matang. Bukan kabur seperti yang selama ini anda lakukan." tegas Dokter Sandra.
Zefanya membelalakkan mata. Dokter di hadapannya benar - benar berada di pihak Ezra. Wanita itu mendengus kesal, apa dokter ini tak tahu kalau saat ini ponsel saja dirinya tak ada. Mungkin saja ponselnya hilang saat kecelakaan, rusak atau sudah diamankan oleh Ezra.
Seakan tahu apa yang ada dipikiran Zefanya, Dokter Sandra kembali bersuara. "Suster Yoana akan membawa ponsel untukmu kalau itu yang menjadi keberatanmu. Suamimu menitipkan ponsel baru untukmu pada kami karena ponselmu hancur terlindas mobil."
Zefanya membuka mulut hendak beralasan lain lagi, tapi pikirannya kosong. Tak ada lagi alasan yang bisa dia keluarkan. "Baiklah. Terima kasih banyak sudah membantuku." Akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan oleh Zefanya.
Dokter Sandra menepuk - nepu bahu Zefanya pelan. "Anda telah mengalami banyak hal dalam setengah tahun terakhir ini. Dan perjalanan ini akan segera sampai di ujungnya. Saya berharap yang terbaik untukmu. Good luck!" ucap Dokter itu sambil berjalan keluar.
__ADS_1
'Argh! Aku membutuhkan lebih dari sekedar keberuntungan.' protes Zefanya entah kepada siapa. Dia mere-mas rambutnya, frustasi.
Tak lama Suster Yoana masuk dengan membawa ponsel keluaran terbaru ditangannya. Lagi - lagi Tracey hanya bisa termangu di tempatnya menyadari ini adalah kesekian kalinya Ezra memberikan fasilitas terbaik untuk dirinya.
"Silahkan, Nyonya." Suster Yoana meletakkan ponsel mahal itu ke dalam genggaman Zefanya dan memastikan Nyonya besar di hadapannya sudah memegang benda itu dengan baik.
"Terima kasih, Suster." ucap Zefanya sambil menghembuskan napas berat. Saatnya sudah tiba!
Suster Yoana mengangguk dan tersenyum ramah. "Saya ada di ruang sebelah. Jangan segan untuk memanggil saya kapan pun dibutuhkan." ucapnya lagi - lagi dengan kalimat yang sama.
Ingin ada seseorang yang benar - benar handal yang bisa terus mendampingi Zefanya selama dua puluh empat jam, Ezra sengaja membayar suster pribadi untuk istrinya itu. Suster dengan nilai terbaik dan sudah lulus interview ketat yang dilakukan sendiri olehnya.
Sepeninggal Suster Yoana, Zefanya maju mundur untuk menelpon Ezra. Nyalinya ciut. Bukan saja karena dia gentar pada wibawa Tuan besar Halley. Tidak sama sekali. Ezra tak pernah sekali pun menakutinya. Tapi lebih kepada Zefanya tak sanggup menghancurkan hati Ezra yang dicintainya.
Setelah berulang kali berdoa, Zefanya memberanikan diri untuk menyentuh layar ponselnya. Menyentuh angka demi angka yang sudah dihafal olehnya luar kepala.
"Hello... "
"Hello... " suara Ezra menyapa lagi.
"Ehm, yes... " jawab Zefanya kehilangan kepercayaan diri.
Hanya dengan satu kata sapaan dari Ezra saja sudah membuatnya terlempar ke masa lalu. Hari - hari bahagia mereka. Lamaran romantis Ezra yang berlatarkan kembang api di sebuah rooftop salah satu rumah makan ternama di kota mereka. Kemudian masa - masa bulan madu mereka dimana mereka tak bisa melepaskan diri satu sama lain. Tak puas - puasnya saling menyentuh dan menunjukkan cinta masing - masing.
Sementara itu, di seberang sana Ezra terguncang. Dia mematung di tengah ruang kerja di rumahnya. Sebelah tangannya memegang ponsel yang baru saja menerima panggilan dari Zefanya. Dia mengerjapkan mata, seakan sedang bermimpi.
Suara Zefanya! Setelah berbulan - bulan, Zefanya akhirnya bisa menghubungi dirinya. Ponsel itu sengaja dititipkan kepada Suster Yoana begitu Zefanya sadar. Hanya saja istrinya mengalami amnesia karena cedera di kepalanya.
__ADS_1
Perlahan Ezra melangkah ke kursi kerjanya, lututnya terasa goyah. Perasaan excited meluap - luap di dadanya.
"My God. Zie? Ma moitie?" ucap Ezra. Suaranya terengah sarat dengan emosi.
Tanpa sadar satu tangan Zefanya memilin - milin ujung bajunya sendiri. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga perutnya terasa mual.
"Y-ya. Ini aku."
"Ma moitie, tahukan kamu berapa lama aku menunggu saat seperti ini?"
Suara Ezra bergetar dan Zefanya bisa merasakan ada cinta, rindu, mendamba dan begitu banyak perasaan lain yang tak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Dalam sekejap, rencana yang sudah rapi tersusun di otaknya lenyap. Tak tahu harus memulai dari mana. Zefanya tidak sanggup mengatakannya.
"Apa ini benar - benar kamu, Ma Moitie? Jangan katakan ini mimpi. Aku benci mimpi seperti ini, karena saat aku terjaga maka aku akan sangat merindukanmu. Lebih dari saat ini." cecar Ezra untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Air mata Zefanya berderai tanpa bisa dihentikan.
'No, Ezra. Kamu tidak berhalusinasi, Sayang.' jerit hati Zefanya.
"Ya. Ini aku. Maafkan aku yang muntah - muntah dan kembali pingsan. Menurut Dokter Sandra, itu normal. Saat syaraf - syaraf kembali menyatu maka tubuh kita akan meresponnya. Dan efeknya adalah mual atau sakit kepala atau bisa juga keduanya." ucap Zefanya untuk mengulur waktu.
"Apakah itu artinya ingatanmu sudah pulih?"
"Ezra." potong Zefanya cepat - cepat.
Kemudian dia menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Kita harus bicara."
"Aku akan datang sekarang!" jawab Ezra tegas.
__ADS_1