
"Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi, kalau kamu benar - benar ingin keluar dari sini." ucap Ezra dingin.
Zefanya tersentak. Hatinya gentar mendapati Julien menatapnya lekat seperti seekor harimau yang mengincar mangsanya. Tapi tentu saja Ezra tak akan menyakitinya. Suaminya itu hanya mencari celah, memindai setiap perubahan micro ekspresi yang tersirat di wajah Zefanya dan mencoba menemukan apa penyebab sebenarnya yang membuat Zefanya seperti ini.
Keheningan panjang kembali terentang diantara mereka. Nyali Zefanya menciut, firasatnya mengatakan syarat yang diberikan Ezra justru akan mempersulit dirinya.
Melihat Zefanya yang diam seribu bahasa, Ezra melanjutkan kalimatnya. "Kamu akan bebas dengan satu syarat, yaitu tinggal bersamaku dan memberiku kesempatan satu bulan untuk mempertahankan pernikahan ini. Jika sampai akhir masa perjanjian, kamu masih tetap ingin bercerai maka aku akan merelakanmu."
'Satu bulan tinggal bersama?'
Zefanya seakan kehilangan tempatnya berpijak, kakinya goyah. Wajahnya berubah pias. Mulutnya terbuka hendak membantah, tapi otaknya kosong. Tak tahu harus berkata apa, dia menutup mulutnya kembali.
"Ma moitie? Kamu baik - baik saja?"
Nada suara Ezra yang manis dan khawatir, melelehkan hati Zefanya. Sekuat tenaga Zefanya menahan diri, berdiri canggung di tempatnya.
"Aku tak bisa." bisik Zefanya. Hilang sudah kepercayaan diri yang dari tadi sudah dikumpulkan. Berhadapan dengan Ezra malah membuatnya kembali jatuh cinta pada sosok yang seharusnya dia tinggalkan.
"Sudah aku duga." potong Ezra garang.
"Kalau kamu tahu kenapa kamu tetap memintaku tinggal bersamaku lagi?"
Rahang Ezra mengeras, menahan segenap emosi yang berdesakan di dada. "Aku ingin membuktikan bahwa kamu benar - benar ingin meninggalkan aku. Kamu tak bisa memutuskan hal seperti ini secara tiba - tiba."
Zefanya memandang Ezra. Lelaki dihadapannya terlihat rapuh. Matanya memandang dirinya tanpa berkedip.
"Ya Tuhan. Apa permintaanku terlalu sulit untuk dikabulkan, Zie? Aku bahkan tidak mengatakan kita harus tidur satu kamar." keluh Ezra seakan putus asa.
"Ap-Apa?"
__ADS_1
"Ya, Ma Moitie. Aku tak memintamu untuk satu kamar denganku. Cukup tinggal bersamaku, yakinkan hatimu kalau kamu benar - benar tidak membutuhkan aku."
Ezra mengulang kembali kalimatnya lambat - lambat, mencoba mengkonfirmasi bahwa yang di dengar oleh Zefanya tidak salah.
Sekarang Zefanya jadi gemetar. Soal kebaikan Ezra tak perlu diragukan lagi. Tapi berkorban sampai sebesar ini? Zefanya belum pernah terpikir hingga ke arah itu. Bagaimana bisa seorang laki - laki merelakan tidur terpisah dengan istri yang dicintainya. Zefanya ingat bagaimana Ezra tak bisa melepaskan dirinya barang sebentar di saat bulan madu mereka. Setiap ada kesempatan, Ezra tak pernah bisa berhenti menyentuhnya.
Zefanya menggelengkan kepala. "Aku tak sampai hati membiarkanmu tak mendapatkan hak-mu sebagai seorang suami. Ini akan menyiksamu."
Zefanya tersentak saat Ezra tiba - tiba mendekatkan wajahnya hingga jaraknya hanya beberapa inchi dari wajah Zefanya. Refleks Zefanya mundur satu langkah dan menjaga jarak.
Ezra memejamkan mata dan bicara dengan nada tertahan. "Kamu bilang tak sampai hati menolak hak-ku. Tapi kamu berniat menceraikan aku."
Dada Ezra naik turun, menahan sumpah serapah yang sudah ada di ujung lidah. Dia tak ingin mengumpat Zefanya dengan kata - kata kotor, istri yang dicintainya. Wanita yang membuatnya benar - benar frustasi.
Diam - diam Zefanya mere-mas roknya. Dia bisa merasakan betapa Ezra menahan amarah di hadapannya. "Maafkan aku... --"
"Saat ini, aku tidak dalam posisi tawar menawar. Kamu tidak berhak menentukan apa yang baik dan buruk untukku." potong Ezra.
Ezra maju satu langkah besar, Zefanya mundur. Suaminya tak mau berhenti, terus mendesak tubuh Zefanya hingga ke tembok.
"Kamu masih mencintaiku. Benar kan?"
Zefanya menggigit bibirnya dan memejamkan mata, tak sanggup menatap mata gelap milik Ezra.
Hatinya terbelah antara berkata jujur atau bohong. Sekali saja kata cinta itu terucap, maka Ezra semakin tidak mau melepaskannya. Zefanya membuka mata dan memberanikan diri membalas tatapan suaminya itu.
"Tapi tidur terpisah akan menyakitimu, Ez." ucap Zefanya tak menjawab pertanyaan Ezra.
"Pernikahan itu bukan hanya soal tempat tidur. Bertahun - tahun aku berhasil menahan diri untuk tidak menyentuhmu hingga kamu dewasa dan siap untuk menikah denganku. Dan untuk kali ini pun aku akan bertahan." jawab Ezra penuh tekad.
__ADS_1
"Tapi kalau kewajibanku saja aku tak bisa memenuhinya, sudah pasti hal - hal lainnya pun tidak akan beres." sahut Zefanya panik.
Firasatnya mengatakan perdebatan ini sepertinya akan dimenangkan oleh Ezra. Sekali laki - laki itu bertekad, maka hal itu lah yang akan dikerjakannya.
"Kamu tahu? Tidak ada masalah pada masa - masa honeymoon kita. Semuanya begitu luar biasa indah. Caramu mencintaiku, menatapku. Yang aku tahu, ada hal yang prinsip disini hingga kamu memutuskan untuk berpisah. Dan aku akan mencari tahu dalam waktu satu bulan. Lagipula, aku layak diberi kesempatan satu bulan untuk bersamamu. Apabila di akhir masa rekonsiliasi perasaanmu masih sama, yaitu ingin bercerai maka aku akan bekerja sama memperlancar proses perceraian itu."
Bahu Zefanya luruh. Kisah mereka benar - benar ironi. Ezra mati - matian mempertahankan pernikahan, sementara Zefanya berusaha keras untuk berpisah.
Dokter Sandra benar, dia harus mengerahkan seluruh kekuatan kalau ingin terbebas dari Ezra. Itu pun kesempatan berhasilnya sangat kecil, mengingat kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki Ezra di kota ini.
"Baiklah. Jemput aku jam sembilan pagi setelah aku sarapan dan bersiap - siap. Aku perlu waktu untuk mengemas barang - barangku dan mengucapkan selamat tinggal pada semua orang yang sudah bersikap baik padaku." Ucap Zefanya, mencoba mengulur waktu sepanjang mungkin.
Perubahan Zefanya yang tiba - tiba cukup mengejutkan Ezra, namun dia berusaha tak menampakkanya.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu tepat pukul sembilan." Ezra menutup perdebatan mereka dan berpamitan untuk pulang.
Zefanya mengangguk setuju, tapi masih ada sedikit ganjalan di hatinya.
"Ez... "
"Ya?"
"Ehm, aku berniat untuk membayar sendiri sebagian biaya perawatanku. Aku masih punya tabungan dari harta warisan Papa."
"Aku masih suamimu, kalau kamu lupa." Jawab Ezra dingin.
"Selama kita masih secara resmi terikat dalam sebuah pernikahan maka aku akan terus bertanggung jawab atas dirimu. Aku sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk mencintai, melindungi dan setia kepadamu di saat susah mau pun senang. Sehat atau pun sakit."
Ezra sengaja mengucapkan kembali janji pernikahan mereka untuk membangkitkan sisi emosional Zefanya. Usai berkata seperti itu, Ezra berbalik badan dan meninggalkan Zefanya sendiri di ruangan VVIPnya.
__ADS_1
Tubuh Zefanya merosot, dia menangis sesenggukan. Dia paham maksud Ezra, lebih dari paham. Tapi pernikahan mereka adalah sesuatu yang sangat mustahil.