
Sinopsis
"Aborsi bukan solusi. Kami memang melakukan kesalahan, tapi aku tak mau menutup kesalahan itu dengan dosa." Tolak Damian mentah - mentah. Matanya menatap satu per satu wajah keluarga besarnya, tak ada setitik pun keraguan tampak disana.
Seakan tahu kegelisahan hati Faline, Damian menangkupkan telapak tangannya yang besar dan hangat di atas tangan wanitanya.
Sebuah gestur kecil yang sepertinya biasa, tapi genggaman seakan berkata, 'Jangan takut. Kamu punya aku.'
Damian dan Faline. Sama - sama kesepian dan mencari jati diri, tak sengaja saling mengisi lalu jatuh cinta. Merasa saling memiliki hingga terjerumus dalam sebuah kesalahan.
Mereka mencoba bertobat dan menikah, meski cemooh dan caci maki terus menghampiri. Akankah pernikahan ini tetap manis meski rintangan terus menghadang?
Cuplikan Bab 1 -- Akibat Dari Sebuah Kesalahan
__ADS_1
Dua anak muda bertemu karena takdir, di saat sedang mencari jati diri dan sama - sama merasa kesepian, lalu saling mengisi hingga terlalu larut dalam perasaan cinta dan kian hari kian merasa saling memiliki. Kemudian terjerumus dalam sebuah kesalahan....
"Positif." ucap Faline pelan, setelah akhirnya dia bisa bicara. Amplop hasil tes urine sudah dibuka dan mereka membaca hasilnya bersama.
Terdengar helaan napas panjang Damian yang duduk di sebelahnya. "Apa rencanamu?"
Faline terdiam, kepalanya menengadah. Dia sama sekali tidak menyalahkan Damian. Setiap perbuatan selalu ada akibatnya. Sekarang dirinya hamil meski mereka telah sangat berhati - hati. Penyesalan karena telah berbuat dosa itu ada, tapi sekarang dirinya harus memikirkan solusi.
Damian masih menunggu, pandangannya lembut dan teduh memberikan rasa nyaman bagi kekasihnya.
Damian tersenyum. "Aku sepakat denganmu." ucapnya sambil menarik Faline masuk ke dalam pelukannya. "Istriku, ibu dari anak-anakku, wanitaku satu dan selamanya. Kita menikah. Ya?"
Di dalam pelukan hangat Damian, Faline mengerjapkan matanya seakan baru tersadar akan sesuatu. "Tunggu, Damian. Tidak semudah itu kita menikah."
Cuplikan Bab 2
__ADS_1
"Kenapa terkesan terburu-buru? Apa kekasihmu hamil?" tanya Daniel to the point.
"Ya." jawab Damian singkat.
"Sudah aku duga! Apalagi yang bisa kamu lakukan selain membuat masalah, hah?" sergah Daniel tanpa menyembunyikan kemarahannya. Sumpah serapah mengalir lancar dari mulutnya.
Dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kantornya yang mahal dan nyaman, kaki kanannya disilangkan ke kaki kiri. Matanya menatap nanar sepasang kekasih yang baru saja mengaku dosa.
"Kamu yakin dia hamil anakmu?"
Damian mengepalkan tangannya erat. Kakaknya itu boleh menghinanya tapi tidak dengan Faline. Dia yang lebih dewasa dari Faline, seharusnya dirinya lebih bisa mengendalikan diri.
"Dia tidak pernah pergi kemana pun selain denganku. Aku sangat yakin, bayi di dalam sini adalah anakku." ucap Damian sambil mengusap lembut perut kekasihnya itu.
Daniel mengetukkan jari-jarinya di meja, tatapannya seperti seorang polisi yang menginterogasi seorang penjahat. Di hadapannya Damian sengaja menautkan jari-jari tangan mereka, supaya Faline tidak merasa gugup.
__ADS_1
"Apa kamu yakin kalau perasaanmu itu adalah cinta? Bukan n-a-f-s-u? Cinta itu tidak merusak orang yang kamu cintai! Cinta itu menjaga! Sama seperti yang aku lakukan pada istriku dahulu saat pacaran."