Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 49 -- Fight For Our Love


__ADS_3

Berjuang Untuk Cinta Kita


Siapa pun pasti ingin terus bersama dengan orang yang dicintai dan mencintai kita. Keinginan untuk terus bersama kian menyeruak, terus berjuang untuk menemukan fakta dibalik pernyataan tuan Benjamin.


"Kita tak pernah tahu apa yang terjadi saat seseorang kritis. Siapa tahu masih ada dilema di alam bawah sadarnya. Oleh sebab itu, besok pagi kita ke rumah sakit untuk menemui dokter yang merawatnya sekaligus melakukan tes DNA." Ezra terus membesarkan hati Zefanya untuk tidak menyerah.


"Awalnya aku sepertimu, Ezra. Mati - matian aku menolak. Hatiku ingin percaya kalau kita bukanlah kakak beradik. Tapi yang mengatakan adalah ayahmu sendiri. Orang yang melihatmu sejak lahir hingga dewasa."


"Ayah kandung pun bisa melakukan kesalahan. Bukankah begitu, Sayang?" tanya Ezra sambil menangkup kedua pipi Zefanya supaya mereka bisa saling bertatapan.


Zefanya menelan ludah. Tatapan Ezra seakan menyihirnya, masuk ke dalam pesona laki - laki itu dan terjerat semakin dalam.


"I-iya, kamu benar. Ayah kandung juga bisa melakukan kesalahan." ulang Zefanya dengan pikiran yang kosong.


"Kalau begitu, berarti benar kalau kita bukanlah kakak beradik. Aku tak bisa mempercayainya kalau akhirnya kamu akan kembali lagi ke dalam pelukanku, Sayang." bisik Ezra dengan suara yang serak. Bibir merah Zefanya yang sedikit terbuka membuat imajinasi Ezra mulai bergerak liar. Ingatannya kembali ke malam - malam saat mereka bulan madu, dimana dia bisa merasakan hangatnya tubuh Zefanya. Mendengar rin-ti-han wanita itu di bawah tubuhnya, memanggil namanya dengan penuh cinta.


"Aku benar - benar merindukanmu, Ma Moitie." gumam Ezra sambil menempelkan bibirnya ke bibir Zefanya. "Aku tak bisa lagi menahan perasaan ini." lanjutnya, berbisik sambil terus me-lu-mat bibir istrinya yang terasa begitu manis dan nik-mat.


Ezra benar - benar seperti orang yang kelaparan dan mendapat makanan. Tenggorokannya yang kering selama ini seperti diberi air, rasanya begitu sejuk mengalir hingga ke dalam hatinya. Zefanya tak kuasa lagi menolak Ezra, dia benar - benar takluk dalam lembutnya ciu-man Ezra. Tubuh mungilnya kian menempel, masuk ke dalam pelukan hangat suaminya.


Mereka bahkan tak menyadari saat pastor Markus melintas dan menggelengkan kepala melihat sepasang wanita dan pria berme-sra-an tak kenal tempat. Pelukan dan ciu-man Ezra membuat Zefanya merasa seakan jantungnya kembali berdenyut setelah sekian lama berhenti, berdetak lebih cepat dan mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya.


"Aku mencintaimu Ma Moitie."


Zefanya terdiam. Ucapan Ezra meremas jantungnya, dia ingin membalasnya dengan kalimat yang sama. Tapi rasa takut terhadap kenyataan pahit itu masih tersisa di sudut hatinya. Lidahnya kelu. Dia merindukan Ezra, dengan segenap hatinya.


"Jangan pergi lagi, Zie." bisik Ezra, kedua lengannya masih mendekap erat tubuh istrinya. "Aku mencintaimu, Zie. Di saat berjaya mau pun terpuruk. Di saat sehat atau pun sakit. Dulu, sekarang bahkan saat rambutmu memutih dan kulitmu keriput. Aku akan selalu mencintaimu."


Tubuh Zefanya mulai bergetar, kakinya terasa tak bertenaga. Ezra menahan tubuh Zefanya supaya tidak merosot dan ke tanah berumput, air mata mulai mengalir dari kedua mata Ezra.


Zefanya tidak bisa menjawab. Cinta Ezra yang luar biasa membuatnya merasa kerdil. Malu. Bodoh. Yang pada akhirnya, membuat air matanya ikut mengalir. Mereka berpelukan sambil menangis. "Berhentilah melarikan diri. Berjuanglah bersamaku. Aku yakin cinta kita tidak salah. Aku tak ingin berpisah denganmu." mohon Ezra menyayat hati.


Zefanya tersedak oleh air matanya sendiri, dia mengangguk - angguk pasrah. Apa pun yang dilakukan Ezra, Zefanya meyakini kalau itu yang terbaik untuk mereka dan juga si kembar.


"Mari kita temui pastor, aku rasa dia sudah kembali." ajak Ezra sambil merapikan penampilan Zefanya yang berantakan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pastur Markus masih belum datang?" tanya Zefanya, berusaha mengalahkan rasa bersalah yang kembali mendera. Barusan mereka berciu-man. Ya, Ezra dan dirinya. Bagaimana kalau mereka benar - benar kakak beradik? Kakak beradik tidak boleh ber-ci-uman sepanas ini.


"Maka, kita akan pulang dan kembali besok untuk bertemu dengan pastur sekaligus tes DNA."


Ezra sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhirnya supaya Zefanya tak lagi mundur apalagi ragu. Penampilan Zefanya sudah rapi tapi tidak dengan hatinya yang terus bergemuruh. Tangannya terasa dingin di genggaman Ezra.


"Semua akan baik - baik saja, Sayang." ucap Ezra pelan sambil membimbing Zefanya berjalan menuju ke pastoran.


"Aku harap begitu."


"Tidak akan ada yang berubah. Meskipun kamu adalah adikku, semuanya akan tetap sama. Kamu adalah tanggung jawabku sampai kapan pun, hingga aku menutup mata."


"Tapi ada hal - hal yang tidak boleh dilakukan oleh kakak beradik, Ez." keluh Zefanya sedih.


Dia masih tak tahu bagaimana caranya menatap Ezra tanpa rasa cinta. Lalu bisakah dirinya menyentuh Ezra tanpa merasakan getaran apa pun?


"Berdoalah, semua tidak seburuk yang kamu pikirkan, Zie." sahut Ezra dengan penuh tekad.


Degup jantung Zefanya semakin bergemuruh saat pastur Markus sendiri yang menyambut mereka. Tak mau menunggu lama, Ezra langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


Pastur benar - benar tercengang. "Tentu saja pernah, Tuan Halley. Saya rasa hampir seluruh penganut agama Katolik pernah melakukan pengakuan dosa."


Jawaban klise pastur tak membuat Ezra puas.


"Apakah ayah saya pernah mengaku dosa kalau dia memiliki hubungan dengan wanita lain selain ibuku, Pastor?" tanya Ezra lagi.


Pastor Markus benar - benar ternganga dengan pertanyaan anak muda di hadapannya.


"Maaf, Tuan Halley. Tapi saya akan sangat berdosa kalau membocorkan pengakuan dosa seseorang." tolak Pastur Markus tegas.


"Tapi ini sangat mempengaruhi kelangsungan pernikahan kami, Pastur. Apakah kami harus berpisah atau tidak?"


Pastur mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu tuan Halley?"


Lalu Ezra menceritakan pengakuan ayahnya kepada Zefanya dan di akhiri dengan permohonan semoga pastur mau membantu mereka.

__ADS_1


Dua pasang mata memandang penuh harap kepada pastur yang mengusap dahinya, terlihat jelas kalau dia juga sedang berusaha memahami situasi yang sedang terjadi. Besar harapan Ezra dan Zefanya untuk mengetahui faktanya malam ini juga, bagi mereka test DNA besok masih terlalu lama. Apalagi masa penantian satu minggu hasilnya, pasti akan terasa benar - benar menyiksa.


"Saya mengerti situasinya sulit bagi kalian, Tuan dan Nyonya Halley. Tapi sekali lagi, pengakuan dosa hanya untuk Tuhan. Saya tidak bisa mengatakan apa pun terhadap kalian." Ucap pastur penuh simpati.


Ezra dan Zefanya menundukkan kepala dalam - dalam. Dari awal sebenarnya mereka sudah tahu kalau pastur akan menolak tapi rasa penasaran Ezra mengalahkan segalanya.


Pastur memandang sedih sepasang suami istri yang pernah diberkati oleh dirinya.


"Saran saya adalah berdoa dan bersabarlah menunggu besok untuk melakukan test DNA. Mengenai pengakuan dosa orang tua kalian, tidak perlu lagi dipikirkan. Hasil test-lah yang akan memutuskan kalian akan berpisah atau melanjutkan pernikahan ini."


Ada sesuatu dalam kalimat pastur yang membuat Zefanya tergelitik untuk bertanya. "Apa maksud anda orang tua kami? Ibuku dan ayah Ezra pernah datang menemui anda?"


"Jangan salah mengambil kesimpulan, Nyonya. Berpikirlah positif." sahut pastur Markus tanpa menjawab mau memberi jawaban dengan jelas.


Tak puas dengan jawaban pastur tadi, Zefanya kembali menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Apakah anda mengenal baik Tuan Benjamin Halley, Pastur?"


"Sudah tentu, Nyonya. Dia salah satu donatur di panti asuhan yang di kelola oleh pastoran kami."


"Lalu, bagaimana dengan ibuku? Namanya adalah Nyonya Lorena."


"Sekali lagi saya katakan kepada Nyonya. Tolong berhati - hati dalam mengambil kesimpulan di setiap jawaban saya."


"Jawab saja, Pastur. Apa anda mengenal ibuku?" desak Zefanya tak sabar.


"Ya."


"Anda mengenal ibuku sebagai apa? Dan kapan anda terakhir bertemu dengannya?"


"Nyonya Lorena pernah datang bersama Tuan Benjamin saat acara amal bertahun - tahun yang silam."


"Kapan tepatnya?"


"Saya lupa, tapi itu terjadi saat Tuan Ezra masih kecil."

__ADS_1


Zefanya dan Ezra bertukar pandang. Sebuah fakta baru mereka temukan kalau orang tua mereka pernah bertemu tanpa pasangan masing - masing.


__ADS_2