
Terlalu banyak bekas luka di tubuh akibat kecelakaan, Zefanya tidak memperhatikan sebuah garis merah jambu berwarna pink pucat di bagian bawah perutnya. Dan kemungkinan besar itu bekas operasi caesar. Zefanya mengusap bekas luka itu sambil bertanya - tanya dalam hati, bagaimana bisa seorang ibu melahirkan tapi sama sekali tidak mengetahui apa pun soal itu. Mengingatnya pun tidak.
Setelah di ingat - ingat, dokter Sandra pernah mengatakan kalau ada bagian dari masa lalu yang belum diingatnya. Dan sepertinya yang dimaksud oleh dokter Sandra adalah tentang puterinya yang bernama Louisa.
"Zie?" panggil Ezra sambil mengetuk pintu kamar mandi. "Zie, aku tahu kalau hal ini pasti sangat mengejutkanmu. Tolong buka pintu. Kita harus bicara."
Zefanya melihat pintu kamar mandi dari cermin. Dia sekarang tahu kenapa Ezra membuat kesepakatan dengannya. Ada Louisa di mansion tempat tinggal mereka. Tentu saja Zefanya akan berpikir ulang untuk meninggalkan anak mereka. Anak yang kemungkinan besar akan menyandang cacat atau keterbelakangan mental.
Mengingat kemungkinan buruk itu membuat Zefanya menangis tersedu - sedu. Dia membekap mulutnya dengan handuk untuk meredam isakannya.
"Pergilah, Ezra!" Suara Zefanya terdengar serak karena menangis.
"Tidak akan, Zie. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri dalam keadaan terguncang. Setelah mengetahui soal Louisa, sebaiknya kamu tahu semuanya sekalian supaya kamu tidak mengalami guncangan lagi." ucap Zefa
Zefanya berbalik badan dan menghadap pintu, sorot matanya terlihat frustasi.
"Apa maksudmu, Ezra? Apa ada kejutan lagi untukku?"
"Buka pintunya, Zie. Lalu lihatlah sendiri kejutannya. Aku tahu kamu akan menyukai mereka."
'Mereka?'
Astaga! Seakan ada yang menggenggam erat hati Zefanya, sakit. Dia tidak ingat apa pun, tapi kata - kata Ezra membuatnya berpikir jauh. Takut menghadapi kenyataan yang baru saja terungkap, Zefanya tak sanggup memutar kunci pintu. Tenaganya lenyap dan hanya mampi bersandar di daun pintu supaya tubuhnya tidak merosot jatuh ke lantai.
Dari balik pintu, terdengar suara bayi perempuan yang sudah langsung dikenalnya sebagai suara Louisa. Tapi, ternyata ada suara bayi lain yang meningkahi suara Louisa. Berharap semua yang didengarnya hanyalah halusinasi, Zefanya menempelkan telingannya ke daun pintu. Mendengarkan dengan lebih seksama.
__ADS_1
"Zefanya, sayang... " bujuk Ezra lembut. "Kami akan tetap disini, menunggumu hingga keluar. Bukalah pintu, Ma Moitie. Louis dan Louisa sudah lama menunggu untuk mengucapkan hallo kepada Mommy mereka."
'Louis?'
'Louisa?'
Nama - nama itu berseliweran di dalam pikiran Zefanya. Tiba - tiba saja, seperti ada sebuah tembok besar yang runtuh di hadapannya. Sesuatu yang menutupi ingatannya hancur dan menampakkan memori yang terpendam selama ini. Tiba - tiba saja Zefanya terlempar di sebuah ruangan serba putih.
"Selamat anda melahirkan sepasang bayi kembar, Nyonya." Ucap perawat sambil menunjukkan sepasang bayi yang di dalam inkubator. Masing - masing tangan bayi itu ada gelang dengan dua warna berbeda, yang satu merah muda dan lainnya biru
Seorang perawat mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruang perawatan bayi prematur. Suara dua orang bayi menangis bersahutan menyambut Zefanya.
"Apa anda sudah mempersiapkan namanya, Nyonya?" tanya perawat itu lagi dengan ramah.
"Zefanya!" panggil Ezra dengan suara yang sarat akan kecemasan.
Kalau menuruti keinginan hatinya, Zefanya ingin menggapai pintu dan membukanya. Namun tangannya gemetar, serangan rasa gugup itu datang begitu saja tanpa bisa dibendung.
"Ugh!"
Zefanya merem@s - rem@s tangannya berusaha meredakan gemetar ditubuhnya. Dia berusaha mengingat instruksi yang pernah diajarkan oleh dokter Sandra mengenai cara mengatur pernafasan saat tremor-nya kambuh.
Sayangnya potongan - potongan kejadian kembali timbul tenggelam di kepalanya, napasnya terasa sesak dan tubuhnya membeku seakan mendadak lumpuh. Ingatan demi ingatan kembali bagaikan kilatan petir yang silih berganti, melesat masuk ke dalam kepala dan menerangi pikirannya.
Sebuah pesawat komersil membawanya ke Edinburg dan berusaha menghindar dari orang - orang yang mengenalnya supaya tak ada yang melaporkan dirinya kepada Ezra. Bulan berikutnya, hal yang ditakutkannya terjadi dia hamil. Sesuatu yang seharusnya membuat seorang wanita bahagia saat tahu hamil anak pria yang dicintainya, malah membuat Zefanya terguncang hebat.
__ADS_1
Tidak hanya itu, kamar mandi di hadapannya seolah berubah menjadi tempat penampungan milik dinas sosial, tempatnya bersembunyi selama ini.
'Oek... oek.... '
Tangisan bayi berdengung di telinga Zefanya, mengembalikan dirinya di malam - malam panjang yang dilaluinya bersama kedua bayi kembarnya yang prematur. Dia tak berani meninggalkan mereka meski sekejap. Sebanyak mungkin Zefanya mencurahkan cinta kepada sepasang bayi kembar itu. Belajar menggendong, memandikan, memberi su-su lalu mengganti popok sambil mereka - reka rencana merawat mereka di masa mendatang tanpa bantuan ayah si kembar.
Saat ini perasaan rindu yang begitu dalam menyergap Zefanya.
"My babies... " erangnya sedih, ternyata dia sudah berpisah dengan mereka kurang lebih lima bulan lamanya.
TIIIN!!!
CKIIIIITTT!!!
"HEY! HATI - HATI!" Suara seorang pria yang tak dikenal mengaung di telinganya.
Tiba - tiba saja kepalanya berdenyut hebat, sakit sekali. Suara klakson mobil menyakitkan telinga dan bunyi decitan ban mobil bergesekan dengan aspal muncul dari alam bawah sadar, menyentak Zefanya kembali ke masa sekarang.
"Oh, tidak! Aku mengingatnya sekarang!" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Hari itu adalah hari dimana kedua bayinya sudah siap keluar dari rumah sakit paska perawatan. Entah darimana Aunty Laura tiba - tiba muncul di rumah dinas sosial. Mereka bertengkar hebat karena bibi-nya itu tidak setuju dia bercerai dengan Ezra. Louise, kakaknya, yang ikut datang bersama Aunty Laura untuk menemuinya juga mendukungnya untuk kembali kepada Ezra.
Kecewa karena tak ada seorang pun yang mau berpihak kepadanya, Zefanya lari ketika tiba - tiba saja sebuah mobil sedan meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah kanan jalan. Setelah itu Zefanya tidak ingat lagi, apa yang terjadi padanya.
Baginya saat itu hanya ada kegelapan, sama seperti yang dialaminya sekarang, gelap...
__ADS_1