Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 46 -- A Bitter Truth


__ADS_3

Sebuah Kenyataan Pahit


Mengenal betul siapa Zefanya, Ezra menindih istrinya rapat - rapat untuk membuatnya menyerah. Tak sedikit pun dia memberi kesempatan bagi Zefanya untuk meloloskan diri. Detik dimana Zefanya berhenti melawan, detik itu juga Ezra berubah sikap.


Mengetahui bagian mana saja yang disukai oleh Zefanya, Ezra mulai memperlakukan Zefanya dengan lembut. Menyentuh setiap titik sensitif yang bisa meninggikan sebuah 'rasa' di dalam diri istrinya. Dengan penuh perasaan Ezra terus membuai Zefanya, berusaha menghanyutkan wanita itu ke dalam cintanya.


Jiwa Zefanya terbelah dua, antara terbuai dan ingin menolak. Sama halnya Ezra yang merindukan dirinya, Zefanya juga menginginkan kedekatan ini. Cinta Ezra terasa melalui sentuhan dan kecupannya yang lembut. Tangan Ezra bergerilya, membuat kesadaran Zefanya semakin menipis.


Tapi nuraninya terus berteriak, "Ini dosa, Zie! Dosa!"


"STOP!" teriak Zefanya sekuat tenaga sambil menahan tangis.


Ezra mulai melepas kancing blouse-nya, tak mau mendengarkan teriakan Zefanya. Kecupan itu beralih dari leher ke bahu Zefanya yang sudah terbuka. Demi apa pun, Zefanya tidak ingin ini berhenti tapi dia harus menghentikannya. Harus!


"Hentikan, Ez! Ini dosa!" ucapnya lagi, kali ini sambil menangis. Hatinya hancur berkeping - keping karena harus menolak suami yang sangat dicintainya.


Ezra tertawa sumbang. "Dosa? Kamu mengada - ada, Ma Moitie... "


"Tidak, Ez." ucap Zefanya pasrah. Tubuhnya tak bisa bergerak karena terhimpit tubuh Ezra yang besar dan gagah. Setidaknya Ezra sudah menghentikan agresinya, sekarang waktunya mereka berdiskusi.


"Kita masih resmi suami istri kalau kamu lupa, dan melakukan hal seperti ini adalah hal yang wajar." balas Ezra tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.


Tak sanggup menghadapi tatapan penuh selidik Ezra, Zefanya memalingkan wajahnya.


"Kalau boleh aku tebak, apa ini alasanmu kabur dariku dan meminta cerai?"


Zefanya meneguk air liur, bimbang kembali datang. Pilihannya hanya dua sekarang. Bicara hal yang sesungguhnya atau membiarkan mereka sama - sama berbuat dosa dengan membiarkan Ezra memaksa dirinya untuk melakukan kewajiban seorang istri. Tanpa alasan yang tepat, Ezra tak akan melepaskannya malam ini.


"Yang kita lakukan ini adalah dosa." cicit Zefanya lagi dengan ekspresi kalut.


Ezra menangkup wajah Zefanya dan memaksanya untuk saling bertatapan. Posisi wajah mereka kini begitu dekat hingga Zefanya merasakan panas menjalar di pipinya.


"Sekarang katakan yang sebenarnya!" perintah Ezra tanpa belas kasihan. Dia sudah tidak mau lagi menebak - nebak apa yang terjadi sebenarnya. Kebohongan Zefanya harus dihentikan.


"Pola pikir apa yang merasukimu hingga berpikir kalau ritual suami dan istri adalah sebuah dosa. Kepercayaan apa yang kamu anut saat ini?"


Ezra memiringkan wajahnya dan kembali mencecar Zefanya.


"Apa alasan permintaan ceraimu adalah karena kamu takut dosa?"

__ADS_1


Zefanya mend-e-sah. Suaminya ini terlalu pintar untuk dibohongi seharusnya dia memilih tinggal di rumah sakit saja selama mungkin dan mencari cara untuk kabur dari sana. Tiga puluh hari tinggal di mansion adalah kesalahan besar.


"Zie?" panggil Ezra dengan nada mengancam saat Zefanya tak menjawab satu pun pertanyaanya.


Zefanya mengangguk takut - takut, lalu menjawab dengan suara pelan. "Ya."


Ezra tertegun, dahinya berkerut. "Kenapa dosa?"


Zefanya diam, menimbang - nimbang. Ezra masih tak mau melepaskannya, matanya menatap lurus ke dalam mata Zefanya. Terlihat menunggu jawaban dari istrinya.


Zefanya menarik napas panjang dan menghembuskannya.


"Karena... Ayahmu adalah Ayahku."


Ezra mengerjapkan matanya dengan wajah bingung. Dia tak bisa mencerna kata - kata yang diucapkan oleh Zefanya. Tangannya masih menangkup di pipi Zefanya.


"Katakan sekali lagi dengan lebih jelas!"


Tak bisa menarik kembali kata - katanya, Zefanya mulai menata hati. Menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi saat rahasia ini terkuak.


"Benjamin Halley adalah ayahku." Ucap Zefanya lambat - lambat, berharap waktu berhenti dan tidak perlu lagi membahas hal ini.


"Ya Tuhan, tolong mampukan aku untuk berterus terang." Doa Zefanya untuk menguatkan hati.


"Apa yang aku katakan salah?" Ezra mengangkat alisnya.


"Tidak. Bukan begitu... "


"Lalu?"


"Benjamin Halley adalah ayah kandungku, jadi ayah kita sama tapi berbeda ibu."


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang kamu dengar. Sebelum meninggal, ayahmu menceritakan kepadaku sebuah kebenaran. Beliau bahkan meminta maaf kepadaku sebelum menutup mata."


"Ceritakan semuanya dan jangan ada yang ditutupi!" perintah Ezra sambil merapikan kancing blouse Zefanya lalu duduk bersila di atas tempat tidur. Zefanya ikut duduk di depan Ezra dengan posisi kepala tertunduk.


"Ayahmu dan ibuku mempunyai hubungan istimewa." Zefanya menarik napas lalu melanjutkan ceritanya. "Kita adalah saudara satu ayah dan beda ibu."

__ADS_1


"Kamu yakin kamu tidak berbohong?"


Zefanya menggeleng sedih. "Tapi ini adalah kenyataan. Hal itu terjadi setelah Louise lahir."


Ezra mematung di tempatnya. Otaknya bekerja keras untuk menerima dan menyerap informasi yang baru saja di terimanya. Dia berusaha memilah lalu menelaah kejadian demi kejadian masa kecilnya, terutama tentang hubungan kedua orang tuanya.


Zefanya menatap pilu suaminya. Ekspresi Ezra begitu kalut, sama seperti dirinya saat pertama mendengar kenyataan ini dari ayah mertuanya.


"Kamu benar - benar mengatakan semuanya dengan jujur, Zie?" Telunjuk Ezra mengangkat dagu Zefanya yang terus menunduk. Dia ingin sekali lagi menilai kejujuran Zefanya dari matanya.


"Kamu tidak bohong?" tanya Ezra.


Hatinya masih berharap kalau cerita Zefanya hanyalah sebuah karangan semata.


"Semua orang, termasuk dirimu mengetahui kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, Ez. Dari pertama kali bertemu, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Mana mungkin aku meninggalkanmu kalau hanya alasan sepele. Menjadi istrimu dan tinggal bersamamu adalah impianku terbesar."


"Apa kamu berani bersumpah?"


"Aku bersumpah kalau aku mendengar semua itu dari Tuan Benjamin. Dengan telingaku sendiri di saat - saat terakhirnya. Aku mendengarnya dalam kondisi sadar, tidak mengantuk apalagi mabuk. Dan saat ini, aku tidak mengurangi atau menambahi apa pun pada ceritaku."


Bahu Ezra luruh, begitu pun dengan jari yang menahan dagu Zefanya. Dia tahu Zefanya jujur tapi kebenaran cerita ini sangat diragukan.


"Apakah ada saksi saat ayahku mengatakan semua ini padaku?"


Zefanya berpikir sejenak dan berusaha mengingat - ingat. "Dokter atau suster di rumah sakit.... " gumam Zefanya ragu.


"Jadi mereka ada bersamamu saat kamu sedang bicara dengan ayahku?"


"Sepertinya... , iya." jawab Zefanya masih tidak yakin.


Zefanya mengumpat dalam hati, kenapa di saat seperti ini otaknya tidak mau bekerja sama mengingat hal penting seperti ini?


"Coba ingat - ingat lagi, Sayang." ucap Ezra dengan lembut. Seburuk apa pun kenyataan yang didengarnya, Ezra tak sampai hati menyakiti Zefanya.


"Sepertinya ada dokter atau suster yang merawat. Yang aku ingat, ada petugas medis disana."


"Kalau kamu yakin ini bukan kebohongan, apa kamu membebaskan aku untuk menyelidikinya?"


"Ya." jawab Zefanya mantap.

__ADS_1


__ADS_2