
"Sekarang terpaksa aku membuat peraturan. Kita lakukan semuanya sesuai dengan caraku. Atau... " Ezra menggantung ancamannya di udara.
"Atau?" Lirih Zefanya pasrah.
"Atau kamu kembali ke rumah sakit dan merenunglah disana sampai kamu mau bicara padaku!"
"Aku tak mau kembali kesana. Aku tak mau!" ucap Zefanya panik. Kedua tangannya di goyang - goyangkan di depan dadanya. Kalah, Zefanya sudah kalah dan dipaksa menyerah pada keputusan Ezra, laki - laki yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Zefanya.
Ezra mengangguk puas. "Good girl. Kalau begitu, sekarang saatnya menikmati dessert."
Dia memberi kode pada pelayan untuk mengantarkan dessert pesanannya, sebuah cotton candy ice cream yang sedang trend saat ini. Sejak dulu, Ezra selalu memberi Zefanya ice cream setiap kali perasaan gadis itu sedang tidak enak. Oh'ya... bagi Ezra sampai kapan pun Zefanya adalah gadis kecilnya yang manis, terlepas dari sikap keras kepalanya dan suka ngambek.
Sebuah ice cream cone dengan bentuk yang unik tersaji diterima Ezra dari pelayan dan memberikannya pada Zefanya.
"Beberapa tempat menyebutnya dengan cloudy ice cream karena cone-nya seperti diselimuti oleh awan." Ezra menerangkan sambil menunjuk pada cotton candy yang menyelimuti ice cream tersebut.
"Oh, aku kira karena rasanya seperti permen kapas."
Ezra tersenyum. Pancingannya berhasil. Istrinya itu mudah sekali dialihkan perhatiannya, apalagi kalau sudah membahas tentang makanan kesukaannya. Meski tubuhnya kecil, Zefanya suka sekali makan. Dia adalah orang nomer satu yang mengetahui setiap ada restaurant baru yang buka di dekat tempat tinggal mereka. Kebiasaannya merengek ingin mencoba, selalu membuat Ezra tak bisa untuk menolaknya.
"No, Ma Moitie. Ice cream ini ada tiga macam rasa. Vanilla, matcha dan Hojicha. Dan aku memilih vanilla favoritmu." Ezra mengedipkan sebelah mata. "Apa kamu ingin menambahkan topping?"
"Memang bisa?"
Ezra mengangguk. "Ada cookies, popcorn dan permen jepang. Kamu mau yang mana?"
Zefanya tampak kebingungan. Jujur dia ingin mencoba semuanya satu per satu. Tapi harga dirinya menghalangi. Tadi dirinya sudah berulang kali menolak Ezra, dan kini malah tertarik pada makanan yang ditawarkan oleh laki - laki di hadapannya.
__ADS_1
'Kamu benar - benar rakus, Zie!' Maki Zefanya dalam hati.
Ezra tertawa pelan. Tawa pertama yang muncul di wajahnya setelah sekian lama keningnya terus berkerut karena memikirkan nasib istrinya yang di antara hidup dan mati. Zefanya terpana. Mendung di wajah Ezra seketika menghilang, wajahnya terlihat bersinar. Matanya yang lembut saat menatap Zefanya dipadukan dengan garis rahang yang tegas, membuat jantung Zefanya menggelepar. Tak sanggup menahan pesona seorang Ezra Halley.
'Sekarang bagaimana caranya aku menyakinkan Ezra kalau aku bersungguh - sungguh dengan perceraian ini sementara hatiku berkhianat?'
Mengetahui istrinya bingung dalam menentukan pilihan, Ezra berjanji akan memesan satu macam topping setiap kali ice cream di tangan Zefanya habis.
"Aku akan kekenyangan, Ez." tolak Zefanya berusaha untuk tegas. Tapi gagal, suaranya lebih mirip rengekan seorang anak kecil.
"Nikmati saja pelan - pelan. Makan semampumu, aku akan menghabiskan sisanya." bujuk Ezra.
"Tapi --"
"Kamu butuh banyak makanan untuk mengembalikan berat badanmu seperti semula, Zie." ujar Ezra lembut tapi tegas.
Zefanya diam dan mengambil ice cream-nya yang kedua, popcorn. Rasa manis dan gurih meleleh bersamaan di lidahnya, membuat Zefanya berdecak puas. Ezra sendiri tampak puas dengan perkembangan situasi yang terjadi saat ini.
"Bagaimana caranya kamu bisa pergi ke Edinburg tanpa memakai sedikit pun uang dariku? Kamu menghilang begitu saja dan muncul dengan kabar menyedihkan." ujar Ezra sedih.
Meski sudah menduga Ezra akan menanyakan hal ini, Zefanya tetap saja merasa terkejut. Tapi itu adalah pertanyaan normal yang akan diajukan setiap orang saat orang yang dicintainya menghilang begitu saja. Dan muncul dalam kondisi mengenaskan di rumah sakit.
Andaikata posisi mereka dibalik, sudah pasti dia akan melontarkan pertanyaan yang sama detik dimana mereka pertama kali bertemu. Dan typical Zefanya, dia akan terus mendesak hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Zefanya memasukkan potongan kecil cone yang tersisa ke dalam mulutnya. Sekali lagi, Zefanya memandang wajah Ezra yang tampak menunggunya dengan sabar. Suaminya itu membiarkan dirinya menikmati ice cream-nya hingga habis. Sekali lagi, Ezra membuktikan kesabarannya dalam menghadapi Zefanya.
Menyadari Ezra layak mendapatkan penjelasan, Zefanya memutuskan untuk berterus terang.
__ADS_1
"Hm... , kamu memang memberiku banyak uang di kartu - kartu milikku selama ini. Dan aku jarang memakainya karena setiap helai baju dan barang yang aku pakai, semuanya sudah kamu berikan lebih dari cukup."
"Lalu?"
"Sebenarnya aku bisa saja mengambil uang dari kartumu, tapi aku takut kamu dengan mudah melacaknya. Jadi aku hanya membawa sisa uang yang sempat aku ambil saat terakhir pergi ke pusat belanja."
"Setelah itu, apa yang terjadi?"
Zefanya terdiam, dia memandang takut - takut pada Ezra. Situasi ini mengingatkannya pada saat dimana dia sedang dalam fase badung - badungnya dan ingin mencoba segala hal. Alih - alih membentaknya, Ezra justru bertanya satu per satu kronologis dirinya pergi ke club malam sembunyi - sembunyi untuk merayakan ulang tahun salah satu teman SMAnya. Hingga Zefanya dibuat tak berkutik lalu berjanji tak akan pernah mengulangi perbuatannya lagi.
"Uangku habis untuk menyewa tempat tinggal dan makan beberapa hari. Jadi aku mencari pekerjaan yang baik. Sayangnya, aku tak membawa apa pun termasuk ijasahku."
"Jadi apa yang kamu lakukan?"
Ezra melipat kedua tangannya di depan dada, otot lengannya menggoda Zefanya untuk bergelanyut manja seperti yang sudah - sudah. Tentu saja Zefanya cepat - cepat menepis pikiran kotornya jauh - jauh dan kembali bicara senormal mungkin. Hati kecilnya terus mengingatkan untuk tidak kembali jatuh pada pesona Ezra, meski sudah gagal dari awal.
"Aku... , aku melamar menjadi pengasuh anak. Sebuah keluarga berbaik hati menerimaku tapi ternyata tak berlangsung lama. Mereka hanya memakaiku untuk menggantikan pengasuh anak mereka yang sedang sakit. Saat pengasuh itu kembali, pekerjaanku pun berakhir."
"Kamu tahu kan kalau kamu ada Aunty Laura di Edinburg? Kenapa kamu tidak menghubunginya?" tanyanya dengan wajah datar sambil meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan.
Zefanya tertegun. "Aku rasa aku sudah menghubunginya."
"Tidak, Zie. Tahu - tahu pengacaramu datang padaku dan menyodorkan surat cerai. Aunty Laura bahkan sama sekali tak tahu menahu mengenai kabarmu hingga aku mendengar dari orang suruhanku kalau sebuah kecelakaan tragis menimpamu." Ekspresi Ezra kembali muram. "Kakakmu saja tak tahu dimana kamu berada."
Zefanya melongo. Ingatannya kembali tumpang tindih, sebuah gelombang rasa sakit kembali menerjangnya.
"Ugh! Jujur saja, aku tak ingat apa pun soal pengacara itu. Dokter Sandra yang memberitahuku soal kecelakaan itu dan juga soal perceraian kita yang belum tuntas."
__ADS_1
Ezra membersihkan mulutnya dengan serbet.
"Alasan kaburmu saja belum jelas dan kamu masih berani meminta aku untuk menceraikanmu? Jangan konyol, Zie!" Lalu dia bangkit berdiri. "Let's go home!"