Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 53 -- Go Home, Please


__ADS_3

Usai bercakap-cakap santai dengan rekan bisnisnya melalui media zoom, Ezra membuka aplikasi kamera pengawas mansion dari laptop untuk melihat kondisi istri dan kedua anaknya. Dia melirik jam tangan yang menunjukkan kalau waktu makan malam sudah lewat dan Zefanya tidak tampak di mana pun.


Ezra menebak kalau Zefanya sedang berada di kamarnya, tempat dimana tidak ada kamera pengawas. Sementara itu, si kembar terlihat sedang bersama Aunty Laura di kamar mereka.


Ezra memperbesar tampilan layar untuk melihat putera dan puterinya dari jarak lebih dekat demi mengurangi rasa rindunya. Kedua anaknya sudah memakai piama, sedang berguling - guling di tempat tidur masing - masing siap untuk tidur. Tanpa sadar jari Ezra mengusap layar laptop, ingin rasanya Ezra pulang dan menciumi keduanya. Bercanda dan menimang mereka, sebagai obat penat setelah bekerja seharian.


Namun saat ini dia sengaja menjauh dari Zefanya, berharap istrinya bisa merasa ada yang hilang saat tidak ada dirinya sekaligus introspeksi. Meski rindu membuncah di dada, kali ini dia harus bertahan. Keinginan untuk segera berkumpul dengan keluarga kecilnya ditekan habis - habisan. Beberapa hari ini, Ezra tinggal di rumah peristirahatan supaya bisa berpikir ulang tentang pernikahan mereka.


Tiba - tiba ponselnya bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk. Dia mengecek ponsel dan membaca sebuah nama yang sangat dirindukan, my beloved one. Lalu ada beberapa kata yang muncul di pop up ponselnya.


"Maafkan aku. Aku menyesal, bisakah kita bertemu?"


Hanya dengan membaca nama yang tertera di layar saja jantung Ezra sudah berdegup sangat kencang, dan kini ditambah dengan permintaan maaf Zefanya dan keinginannya untuk bertemu. Apakah ini pertanda baik? Ataukah ada sesuatu yang buruk hingga Zefanya mencarinya? Tapi di layar monitor, semua baik - baik saja. Apakah istrinya sakit lagi?


Khawatir bercampur rindu mengalahkan segalanya, Ezra tidak pernah takut Zefanya akan mengecewakannya lagi. Cintanya pada sang istri terlalu besar. Terbiasa dimanja oleh Ezra, wanita muda itu tak pernah mencari suaminya terlebih dahulu saat mereka bertengkar. Dan kini Zefanya menghubunginya lebih dahulu setelah berkali - kali menolak dirinya dan meminta cerai. Ezra jadi khawatir.


"Sayang? Apa kamu baik - baik saja?" tanya Ezra khawatir. Dia menjawab panggilan Zefanya sambil menatap layar laptop dan kembali mencari-cari keberadaan Zefanya. Tapi, tidak ada. Sementara di seberang sana, Zefanya tidak bisa menahan air mata dan langsung sesenggukan sambil meminta maaf.


Ezra memgerutkan kening dan segera mengganti panggilan telepon menjadi panggilan video.

__ADS_1


"Jangan, Ez. Wajahku sangat buruk saat ini." tolak Zefanya sambil terus menangis.


"Dimataku kamu selalu cantik, Zie. Apa pun kondisinya. Katakan padaku kenapa kamu menangis?"


"Pulanglah, Ez."


Ezra tertegun sejenak, rasanya begitu lama tidak mendengar permintaan pulang dari wanita kesayangannya itu. Di masa lalu, setiap hari Zefanya selalu bertanya jam berapa dia pulang dari kantor. Setiap kali dirinya meninggalkan rumah, wanitanya pasti akan menuntut dirinya untuk menelepon. Kemudian saat di rumah, Zefanya mengekor kemana pun dirinya pergi.


Mungkin beberapa laki - laki tak suka wanita tipe clingy seperti Zefanya, tapi tidak dengan Ezra. Dia justru merasa dibutuhkan setiap kali wanitanya merengek. Selisih umur yang cukup jauh membuatnya selalu maklum dengan sifat kekanak - kanakan Zefanya.


Ezra berdehem. "Ya?" tanyanya seakan memastikan kalau memang Zefanya memintanya pulang.


"Aku merindukanmu."


"Aku pulang sekarang." putus Ezra cepat. Setelah itu dia bergegas mematikan laptop, tak sabar lagi ingin berjumpa dengan istrinya.


Di mansion, waktu terasa berjalan lambat bagi Zefanya. Dari bibinya, dia tahu kalau Ezra tidak pergi kemana pun, hanya tinggal di rumah peristirahatan. Itulah sebabnya Zefanya menyuruh Ezra pulang. Saat ini Louis dan Louisa sudah tidur di kamar mereka, dan Zefanya dengan tak sabar menunggu Ezra pulang.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan, perjalanan dari rumah peristirahatan hingga ke rumah membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam.

__ADS_1


Zefanya menerima pesan dari Ezra, "Kalau yang akan kamu sampaikan adalah kabar baik, tunggu aku di kamar kita. Kamar utama. Aku akan langsung kesana."


Zefanya memandang layar ponselnya dengan hati berdebar keras. Perasaannya sama seperti saat dia sedang menunggu Ezra menjemputnya waktu kencan pertama mereka.


Oke, inilah saatnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Zefanya berjingkat - jingkat menuju kamar si kembar, lalu melongokkan kepala ke dalam. Putera puterinya tampak mendukung situasi hari ini, mereka tidur dengan lelap.


Aunty Laura tidur di kamar yang berbeda namun di lantai yang sama dengan si kembar. Zefanya melewati kamar bibinya dan tidak mendengar suara apa pun. Mungkin bibinya juga sudah beristirahat.


Zefanya melanjutkan langkahnya naik ke tangga dan berjalan terus menuju kamar mereka. Matanya menatap sebuah pintu menuju ruangan yang menjadi sorotan utama dari semua kamar di mansion ini. Kamar paling luas dengan fasilitas terlengkap, tempat tidur yang besar, kamar mandi yang nyaman dilengkapi dengan kolam whirpool, walk in closet dan yang paling menarik adalah jendela dengan kaca raksasa yang menghadap danau. Suasananya seperti sedang tidur di alam.


Zefanya masuk ke dalam walk in closet dan menemukan semua pakaiannya masih tersusun rapi disana. Dia mengedarkan pandangan, tak ada satu pun pakaian yang pas untuk suasana malam ini.


Kesalahannya pada Ezra terlalu besar, maka permintaan maafnya harus diikuti dengan sesuatu yang istimewa. Ezra layak mendapatkan kompensasi atas setiap penderitaan yang dialaminya setahun belakangan ini.


Kemudian Zefanya bergeser ke deretan pakaian milik Ezra, sebuah ide terbit di kepalanya. Dia ingin memberikan sesuatu yang sedikit berbeda pada suaminya malam ini.


Zefanya mengambil sebuah kemeja milik Ezra dan mencium aroma lembut pewangi pakaian. Tangannya mengelus kain katun premium yang halus itu. Dia paling suka melihat Ezra memakai setelan kantornya. Saat kelelahan setelah meeting panjang atau pulang dari kantor, Ezra akan melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja. Dasinya masih menggantung di leher dengan ikatan yang sudah longgar. Penampilan berantakan Ezra adalah favoritnya, terlihat s-e-x-y.


Baiklah! Malam ini dia akan melupakan pakaian tipisnya dan beralih ke kemeja Ezra. Kemudian Zefanya mematut diri di depan cermin, memastikan apakah ada sesuatu. yang kurang. Ah, parfum! Aroma Ezra masih melekat di ingatannya, Zefanya meraih sebotol parfum yang biasa dipakai oleh suaminya dan menyemprotkannya di titik - titik nadinya, pergelangan tangan, leher dan di belahan da-da. Seketika aroma khas Ezra melingkupinya, seakan laki - laki itu ada disini dan memeluknya.

__ADS_1


Senyum Zefanya merekah. Bebannya sudah terlepas dan kini siap untuk membahagiakan suaminya. Sekali lagi dia memeriksa penampilannya, mengoleskan lip balm di bibir dan bersiap menunggu suaminya.


Dia sedang menenangkan debaran jantung dengan berdiri di depan jendela kaca, memandang danau yang hanya diterangi oleh lampu - lampu kecil, lalu langkah - langkah kaki terdengar mendekat. Zefanya menarik napas panjang dan berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


__ADS_2