
Tidak Ada Perempuan Lain Hanya Kamu
Sebuah fakta baru mereka temukan kalau orang tua mereka pernah bertemu tanpa pasangan masing - masing, membuat pikiran Zefanya semakin kalut. Di masa itu ibu Ezra sudah sakit - sakitan dan sepanjang ingatan Zefanya tak pernah sekali pun Mamanya berkunjung ke rumah keluarga Halley tanpa Papanya. Bukankah ini pertanda, kejadian itu terjadi sebelum dirinya lahir?
Selanjutnya Zefanya merasa kakinya tidak menapak di lantai, ruangan di sekitarnya terasa berputar. Tubuhnya limbung, untung saja Ezra sempat menangkap Zefanya.
"Terima kasih, Pastur. Maafkan kami mengganggu malam - malam." pamit Ezra sambil membopong tubuh istrinya yang mendadak tak bertenaga.
Laki - laki bertubuh kekar itu membawanya masuk ke dalam mobil, cukup sudah kekacauan hari ini, saatnya mereka pulang dan menunggu waktunya tes tiba.
"Istirahatlah dulu." ucap Ezra saat meletakkan tubuh Zefanya di atas tempat duduk di dalam mobil.
Setelah memastikan istrinya nyaman, Ezra berjalan memutar menuju kursi pengemudi. Tak mau menatap Ezra, Zefanya membuang pandangan ke arah jendela. Pikiran buruk mengenai tuan Benjamin dan Mamanya kembali terlintas. Matanya terasa memanas, belum juga mereka melakukan test tapi dirinya sudah sangat ketakutan. Ezra menangkup pipi Zefanya lalu mencium kening istrinya dengan lembut.
"Jangan berasumsi sendiri sebelum bukti itu ada, Zie! Sampai semuanya jelas, jangan pernah menyakiti dirimu sendiri." tegas Ezra.
Zefanya menepis tangan Ezra. "Kamu menipu dirimu sendiri, Ez. Mamaku dan Ayahmu tak mungkin bertemu tanpa alasan. Kamu juga tahu kalau mamaku tak pernah terlibat dalam acara amal apa pun. Dia bahkan tidak berasal dari kota ini."
"Tidak, Zie. Pastur sudah berpesan supaya kita berhati - hati dalam mengartikan kata - katanya. Dia mencoba menenangkan kita tanpa melanggar kode etik seorang pastur."
"Kamu berkata seperti ini karena tak mau menerima kenyataan kalau kita adalah kakak beradik kan?" bantah Zefanya dengan nada mulai meninggi.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu mau menerima kenyataan ini begitu saja, Ma Moitie?" Emosi Ezra mulai tersulut, batinnya benar - benar berperang antara menolak percaya dan ingin segera membuktikan kebenaran.
Zefanya merapatkan bibirnya, tak bisa menjawab. Beberapa kali matanya mengerjap menahan butiran air mata yang siap meluncur.
"Kamu mencintaiku dan aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah merelakan pernikahan kita hancur begitu saja. Setidaknya aku tidak akan kabur sebelum membuktikan apa pun." lanjut Ezra lagi.
"Awalnya aku memang tidak bisa menerimanya, tapi sekarang aku sudah bisa ikhlas." balas Zefanya terus mengeraskan hatinya meski yang sebenarnya adalah dia takut kecewa karena terlalu berharap. Dia berusaha memalingkan wajah, tapi tidak bisa. Ezra kembali menangkup wajahnya, memaksanya untuk melihat ke dalam mata Ezra.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu tidak sungguh - sungguh dengan kata - katamu." desis Ezra marah bercampur sedih. Di saat dirinya mati - matian berjuang, Zefanya malah menyerah pasrah pada keadaan.
"Tolong bawa aku pulang. Anak kita sedang demam." elak Zefanya memelas sambil menangis pilu.
Ezra menggeretakkan gerahamnya, lalu melepaskan Zefanya. Kemarahan jelas terpancar dari seluruh tubuhnya. Da-danya bergerak naik turun menahan emosi yang meluap, sementara jari - jarinya mencengkeram setir begitu erat hingga kukunya memutih. Tatapannya yang dalam dan gelap memandang jauh di depan sana, dengan rahang yang mengeras.
Sebagai pelampiasan, kakinya menghentak pedal gas sedalam yang dia bisa. Mobil pun meninggalkan pasturan dengan raungan yang cukup keras. Kalau saja anaknya tidak sakit, tentu perdebatan ini masih akan dilanjutkan olehnya. Dia akan meyakinkan Zefanya kalau pernikahan mereka bukanlah sebuah kesalahan.
Di kursinya Zefanya memejamkan mata, laki - laki di sampingnya seperti bukan Ezra. Ini adalah kompleks rumah sakit, pasturan dan gereja, Ezra yang dulu tak akan pernah membuat gaduh terutama di tempat umum seperti ini. Namun Zefanya juga menyadari, penyebab kemarahan Ezra adalah dirinya. Dia sudah kembali menyakiti suaminya. Dirinya memang pengecut.
"Asistenku akan mengatur janji untuk test DNA sekaligus bertemu dokter. Besok! Dan jadwal paling pagi!" ucap Ezra penuh penekanan.
Zefanya merinding. Lelakinya itu sudah bertekad dan tak akan ada yang bisa menghalangi, uang dan kekuasaan Ezra akan mempercepat semua proses.
"Bagaimana kalau hasilnya sia - sia?" lirih Zefanya.
Zefanya semakin ciut. Andai saja dulu dia punya keberanian dan keteguhan hati seperti Ezra.
"Harapanmu terlalu tinggi." keluh Zefanya.
"Harapan itulah yang membuatku bertahan hingga hari ini, Zie. Saat semua dokter angkat tangan, aku memutuskan untuk memindahkanmu ke rumah sakit terbaik di London. Ketika semua bilang mustahil, aku berlutut dan berdoa hingga akhirnya istri yang aku cintai ini membuka mata."
Ezra mengulurkan tangan dan meraih telapak tangan wanita yang duduk di sebelahnya. "Apa kamu lebih suka aku menyerah dari dulu?"
Zefanya benar - benar terpojok. Tak ada satu pun kata yang bisa diucapkan untuk membantah suaminya. Kalau boleh jujur, Ezra yang dicintainya adalah Ezra yang pantang menyerah dan selalu berjuang untuk dirinya.
"Aku mengerti perasaanmu, Ez. Dan aku harap kamu juga memahamiku." ucap Zefanya dengan hati - hati.
Gelagat Zefanya terbaca dengan jelas oleh Ezra, tubuh laki - laki itu kembali menegang.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Sampai hasil tes membuktikan kalau kita bukan kakak beradik, aku ingin tinggal di tempat lain. Hotel atau apartment, misalnya ---"
"Zie! Aku bersumpah tidak akan menyentuhmu lagi mulai detik ini. Tapi jangan keluar dari mansion."
"Maafkan aku, Ez. Aku juga pernah berjanji hal yang sama pada diriku sendiri. Tapi aku tidak bisa, aku tak sanggup menolakmu." Zefanya menelan ludah dengan perasaan getir. "Aku juga menginginkanmu. Tolonglah aku untuk terakhir kalinya. Apa jadinya kalau aku tidur dengan kakakku sendiri? Aku akan merasa sangat hina." mohon Zefanya sambil mulai menangis, satu - satunya senjata yang belum pernah dikeluarkan oleh Zefanya. Memohon sambil menangis, maka hati Ezra akan melunak.
Tiba - tiba saja suasana mobil menjadi hening, hanya terdengar suara isakan halus Zefanya. Sisa perjalanan dilalui dalam diam, Ezra menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sampai di mansion, Ezra membantu Zefanya keluar dari mobil. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sorot matanya sudah kembali lembut, menatap Zefanya penuh pengertian.
"Apakah sebenarnya kamu ingin berkata kalau benar kita adalah kakak beradik, maka kamu akan meninggalkan aku dan anak - anak?"
Zefanya terhenyak. Hati Ezra begitu luas, kesabarannya benar - benar membuat dirinya merasa sengsara.
"Tidak ada jalan lain selain bercerai. Kalau kamu mau, aku akan menjaga mereka saat siang hari. Lalu malam hari mereka akan bersamamu. Dan suatu hari apabila kamu menemukan wanita... --"
"Tidak ada wanita lain, Ma Moitie. Hanya kamu!" Ezra memotong kalimat Zefanya dan menatapnya nanar. "Aku tak percaya kamu tega berkata seperti itu padaku, Zie."
"Tapi kamu berhak bahagia, Ezra. Meski pun tidak dengan aku."
"Zefanya Halley!"
Ezra menghirup udara banyak - banyak, menekan segala emosi yang berkumpul di dadanya. "Kalau kamu bisa berkata seperti itu, artinya kamu tak mengenalku dengan baik. Aku sangat kecewa padamu."
"Ezra... "
"Dengarkan aku! Setelah penantian bertahun - tahun menunggu gadis kecilku menjadi wanita dewasa. Setelah berjuang demi kesembuhanmu, berusaha keras mengembalikan ingatanmu. Apa kamu pikir aku akan dengan mudah jatuh cinta pada wanita lain?" sergah Ezra berapi - api.
__ADS_1