
Zefanya menatap kosong pada dokter Sandra, tangannya terasa dingin. Membayangkan saja dia tak pernah, apalagi berterus terang ada Ezra tentang kenyataan yang sesungguhnya. Ini kenyataan yang sangat menyakitkan.
"Tidak mungkin aku memberitahu Ezra." seru Zefanya setelah beberapa saat termangu. Dia menggelengka kepala kuat - kuat seperti sedang melihat sesuatu yang menakutkan.
"Tuan Ezra berhak untuk tahu, Nyonya. Apa anda tidak tahu bagaimana rasanya bertanya - tanya terus setiap hari? Dan ini sudah berlangsung sejak anda menghilang setelah honeymoon." Dokter Sandra berusaha meyakinkan pasiennya.
"Astaga! Tapi hatinya akan hancur saat tahu yang sebenarnya. Seluruh dunianya akan runtuh!" bantah Zefanya.
"Hidup tuan Ezra sudah hancur sejak anda meninggalkannya. Semua sudah berantakan sejak hari itu. Apa anda lupa kalau anda dan anak - anak kalian adalah segalanya bagi Tuan Ezra?"
Zefanya terhenyak.
"Please, jangan bicara seperti itu."
Perasaan bersalah mulai menyelusup ke dalam hatinya, namun Zefanya harus terus berusaha berpegang pada logikanya. "Banyak orang bercerai di luar sana dan semuanya baik - baik saja. Bahkan ada banyak yang memiliki kehidupan lebih baik saat bercerai."
"Tidak kalau keadaannya seperti kalian." tegas dokter Sandra. "Bagaimana bisa kamu berpikir suamimu akan baik - baik saja sementara cintanya padamu begitu dalam?"
Tak sanggup mendengarkan lebih lanjut, Zefanya terus membantah ucapan dokternya.
"Lambat laun, Ezra akan melupakan aku dan suatu hari dia akan menemukan cinta yang baru lalu berbahagia." ucapnya pilu.
Di dalam kepalanya terbayang bagaimana Ezra memperlakukan pasangan masa depannya dengan cinta yang luar biasa sama seperti saat Ezra memperlakukannya. Rasanya sungguh pedih saat berharap suaminya kelak tidak akan jatuh cinta pada wanita yang salah.
"Tuan Ezra berhak tahu, Nyonya." Dokter Sandra terus berusaha membujuk Zefanya. "Anda tidak boleh menyembunyikannya. Lihatlah! Apa akibatnya ketika Tuan Benjamin dan ibu anda menyembunyikan fakta ini? Andai saja mereka mengatakan yang sebenarnya sejak awal tentu kalian tidak akan terlanjur jatuh cinta sampai sedemikian dalam. Kenapa harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi baru mengaku?"
"Oh! Mungkin ini sebabnya aku pernah mengalami beberapa periode tidak datang berkunjung ke mansion ini." Zefanya menepuk jidatnya, seperti baru saja mengingat sesuatu. Dia bahkan tak menggubris perkataan dokter Sandra. Pikirannya sudah kembali ke masa lalu jaman dimana dirinya masih remaja.
"Papa!"
__ADS_1
Tuan Frederick terlonjak kaget mendengar sapaan dari anaknya. Zefanya duduk di sofa sambil menatap ayahnya dengan pandangan memohon. Dia melirik jam lonceng tua yang bisa berdentang sewaktu - waktu. Rupanya sudah pukul sepuluh malam lewat, dirinya ketiduran saat menunggu papanya pulang dari bekerja.
Papanya itu mengerutkan kening. "Apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah waktunya kamu masuk ke kamar!" tanya Tuan Frederick penasaran. Tidak biasanya puteri kecilnya ini menunggunya di ruang TV hingga larut. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Zefanya kepada dia.
"Aku menunggumu, Papa."
"Untuk apa?"
"Aku ingin bicara."
"Soal?"
"Kunjungan ke mansion keluarga halley tahun ini."
Tuan Halley berjalan menuju ke lemari es, mencari makanan untuk dimakan. Perutnya terasa lapar setelah bekerja keras seharian hingga suara Zefanya terasa seperti dengungan di telinganya.
"Untuk apa kesana? Kamu kan sudah berkali - kali kesana. Nanti saat kuliah kamu juga akan tinggal di London."
"Tapi aku ingin bersama Louise kesana, Papa. Aku akan kesepian disini." Zefanya mencoba beralasan. Dia tak ingin papanya tahu kalau alasan sebenarnya adalah Ezra. Kunjungan inilah yang selalu ditunggu - tunggu olehnya setiap tahun.
Frederick mengigit cokelat besar - besar dan mengunyahnya, setelah itu dia menggeleng. "Disini dan disana sama saja. Aku akan menyuruh Alice datang untuk menemanimu disini." sahut Papa gadis enam belas tahun itu dengan santai.
"Papa!" rajuk Zefanya sambil menghentakkan kaki. Gadis itu memang sedikit keras kepala karena terlalu dimanja oleh Frederick. Air matanya sudah mulai merebak, biasanya Frederick akan langsung luluh.
"Sweetheart, Papa tidak akan merubah keputusan Papa. Sekarang masuk kamar dan tidur!" ucap Frederick lagi dengan lembut tapi tegas. Dia harus segera pergi sebelum gadis itu berhasil meluluhkan hatinya.
Zefanya menatap sedih Papanya yang pergi meninggalkannya menuju kamar. Sia - sia sudah usahanya menunggu.
"Ceritakan padaku saat - saat dimana kamu berhenti bertemu dengan pangeran impianmu. Selama ini kita belum membicarakannya karena kamu belum bisa mengingatnya." pinta dokter Sandra sambil menepuk bahu Zefanya pelan untuk mengembalikannya dari lamunan.
__ADS_1
Zefanya menoleh dan terdiam sesaat. Dokternya mengangguk sambil mengulas senyum penuh simpati. Setelah itu Zefanya menceritakan isi lamunannya, bagaimana kakaknya Louise tetap pergi ke Mansion tanpa dirinya bahkan sempat menginap selama beberapa waktu. Tapi, Zefanya tidak pernah lagi diajak.
Perasaan Zefanya kembali berantakan saat mengingat bagaimana dia harus menahan keinginan untuk bertemu dengan Ezra waktu itu.
"Dari ceritamu, aku merasa kalau ayahmu sangat mencintaimu." Dokter Sandra mengutarakan isi hatinya setelah berpikir sejenak.
"Louise dan Ezra bilang aku adalah puteri kesayangannya. Apa menurutmu Papa tahu rahasia ini?"
Dokter Sandra mengangkat bahu. "Kalau dia tahu, apa menurutmu papamu akan tetap menjadi suami ibumu hingga akhir usia mereka?"
Zefanya mengusap wajahnya dengan ekspreai bingung. "Hanya satu hal yang pasti disini, Papa mencintai kami bertiga. Mama, Louise dan aku."
"Apa pendapat Ezra saat tahu kamu tidak lagi datang kesini?"
"Kalau mengenai hal itu, aku pikir Ezra mengira Papa tidak mengijinkan aku datang karena ulah adiknya yang tidak sopan kepadaku. Adik laki - lakinya terus menggodaku."
"Lalu bagaimana bisa orang tua kalian merestui pernikahan kalian, terutama ibumu. Andaikata dia tahu anda adalah anak dari Benjamin, kenapa dia membiarkan semua itu terjadi?"
"Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat tepat saat aku lulus SMA. Auntie Laura membawa Isabelle bersamanya sedangkan Ezra menjemputku untuk kuliah di London."
"Lalu bagaimana reaksi Tuan Benjamin saat Ezra membawamu kemari? Apa dia menolakmu?"
"Ayah mertuaku sudah mulai sakit - sakitan waktu itu, dan sepertinya dia belum mencium kedekatan kami. Uhm, dan iya, dia juga menyayangiku."
Dokter Sandra menggelengkan kepala, "Bukan itu, maksudku... " Dia berhenti sejenak dan menatap Zefanya dalam - dalam. "Kalau anda adalah anak kandungnya, bagaimana bisa dia merestui pernikahan kalian berdua?" Tanya dokter Sandra masih tak mengerti.
Zefanya tertegun, otaknya kembali memproses ingatan - ingatan di masa lalunya.
"Mungkin itu sebabnya kami menikah diam - diam tanpa restu dari ayah mertuaku... Hari itu kami melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan siapa pun dan langsung berangkat ke Maldives setelahnya untuk honeymoon."
__ADS_1