Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 26 -- Need More Energy


__ADS_3

"Kunjungan dokter Sandra sepertinya memiliki efek yang baik bagimu. Setidaknya wajahmu sudah lebih merona." suara Ezra yang lembut dan dalam memecah lamunan Zefanya.


Laki - laki itu masuk ke dalam ruangannya saat Zefanya buru - buru menundukkan pandangannya dari sosok Ezra yang mempesona. Kali ini suaminya itu terlihat santai dengan pakaian rumahannnya, celana selutut warna cream dan kaos berkerah warna hitam yang begitu pas di tubuh.


Gaya berpakaiannya menampakkan otot - otot lengan dan dada yang bisa membuat pikiran wanita mana pun melayang, tak terkecuali Zefanya. Jujur saja, dia tergoda untuk menyentuh dan memeluk tubuh Ezra.


"Ya." jawab Zefanya tanpa sadar menahan napas. "K-kami mengobrol banyak tentang si kembar." tambahnya untuk menyembunyikan kegugupan.


"Zie... " ucap Ezra setengah berbisik. "Maafkan aku sudah membuatmu terkejut. Seharusnya aku memberitahumu tentang mereka sebelum kamu tiba di rumah ini. Tapi karena saat kita bertemu, kamu bisa mengenalku... , aku pikir kamu juga akan mengenali mereka saat melihatnya dalam gendonganku."


"Tidak apa, Ez. Setidaknya ada hal baik dibalik semua yang terjadi. Sekarang aku jadi mengingat semua hal, termasuk bagaimana terjadinya kecelakaan itu."


Raut wajat Ezra memucat. Pembicaraan soal kecelakaan memberikan trauma tersendiri baginya. "Tapi proses kembalinya ingatan itu membuatmu terguncang dan tidak sadarkan diri. Itu benar - benar mengerikan, Zie. Aku takut sekali." ucap Ezra penuh penyesalan. Dia terlihat menyalahkan diri sendiri.


Tak tega Ezra terus menyesali kejadian sebelumnya, Zefanya mencoba menghibur.


"Apa pun itu, aku akan bersyukur karena seluruh masa laluku sudah aku ingat. Diriku sudah benar - benar pulih sekarang. Kamu tak perlu mencemaskan kondisiku akan menurun atau bagaimana. Aku sudah cukup kuat saat ini."


Ezra tak berkata apa pun. Dia berdiri dengan satu tangan di pinggang sementara tangan satunya mengusap wajahnya sendiri. Setelah itu dia menghembuskan napas, lalu dengan alis berkerut menatap Zefanya tanpa ekspresi. Pertanda Ezra tidak mempercayai perkataannya.


"Aku benar - benar sehat, Ezra. Bahkan sangat sehat untuk menemui anak - anakku dan membawanya ke dokter anak hari ini." Zefanya mencoba meyakinkan Ezra. "O'ya, tentu saja kalau dokter mereka sedang kosong hari ini."

__ADS_1


Dalam pikiran Zefanya, Ezra tentu tidak akan curiga dengan niatnya yang tersembunyi. Setiap ibu dimana pun tentu akan menemui dokter anak untuk menanyakan hal - hal yang berkaitan dengan kesehatan buah hati mereka. Apalagi dirinya yang sudah sekian lama tidak berjumpa dengan anak - anaknya, seharusnya Ezra senang karena Zefanya memperhatikan anak - anak mereka sesaat setelah dirinya pulih.


Namun yang terjadi di hadapan Zefanya justru sebaliknya, Ezra menatap bingung pada istrinya.


"Kenapa kamu ingin membawanya ke dokter? Kalau kamu khawatir tentang kesehatan mereka, tenang saja mereka sangat sempurna. Aku rutin membawa mereka berkunjung ke dokter anak. Baby sitter mereka juga orang - orang bersertifikat yang tahu betul tentang kesehatan bayi. Tidak ada hal yang perlu kamu khawatirkan saat ini.


Zefanya terdiam. Bingung bagaimana caranya meyakinkan Ezra untuk mengijinkannya menemui dokter anak tanpa bercerita alasan sebenarnya.


"Ma moitie, kalau kamu cemas akan kesehatan jantung Louis, semuanya sudah tidak apa - apa. Memang saat lahir jantungnya sedikit lemah, tapi masalah itu sudah bisa segera diatasi. Lihatlah pertumbuhannya, dia gemuk dan sehat." ucap Ezra. Ada nada bangga saat dia mengucapkan kalimat terakhir.


Zefanya menghembuskan napas lega. "Syukurlah. Tapi sebagai ibu, aku merasa ketinggalan banyak hal selama lima bulan ini dan aku ingin mengejar kehilanganku. Aku ingin melihat grafik pertumbuhan mereka, imunisasi, makanan apa saja yang mereka makan, apa yang boleh dan tidak bileh dilakukan kepada bayi seusia mereka. Uhm, hal - hal seperti itu... " Mata Zefanya terasa menghangat, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. "Hal - hal yang kelihatan sepele tapi harus diketahui oleh seorang ibu."


Namun rasa terkejut itu tidak bertahan lama, perlahan ekspresinya berubah lega dan bahagia.


"Setelah sekian lama berpisah dengan mereka, sudah pasti kamu merindukannya." ujar Ezra lembut. "Sekarang juga, aku akan membuat janji dengan dokter si kembar. Bersiaplah!" tambah Ezra dengan sigap. Seperti biasa, apa pun keinginan Zefanya maka dia akan mengabulkannya, kecuali perceraian tentu saja.


"Semoga saja hari ini jadwal dokternya tidak penuh."


"Jangan khawatir, Ma Moitie. Aku akan mengusahakan supaya dokter bersedia menemui kita hari ini."


Zefanya hampir saja membelalakkan mata.

__ADS_1


'Kita? Bukan kita tapi aku!' ralatnya dalam hati.


"Ehm, dimana si kembar?" Tanya Zefanya untuk menyembunyikan kegelisahannya.


"Mereka sedang berjalan - jalan menikmati matahari ditaman." Ucapnya sambil menatap Zefanya penuh harapan seolah ingin mengatakan kalau seharusnya mereka yang berjalan membawa anak - anak mereka.


Zefanya berdehem. "Sebaiknya kamu menghubungi dokter sekarang dan aku akan bersiap - siap."


Dia langsung melejit ke ruang pakaian dan menutup pintunya sebelum Ezra sempat bereaksi apa pun. Dengan cepat Zefanya memilih gaun yang akan dipakainya dan sedikit berdandan kemudian bergegas keluar kamar untuk menemui kedua anak dan baby sitternya di taman. Langkahnya melambat ketika dilihatnya Ezra muncul dari arah yang berlawanan.


"Aku... aku mau ke dapur untuk sarapan." ujarnya sambil meninggalkan Ezra yang bengong. Mungkin saja istrinya sudah sembuh bukankah tadi pagi dia sudah sarapan?


Di depan pintu dapur dengan waswas dia menoleh ke belakang, dan bersyukur dalam hati karena Ezta tidak mengikutinya. Rasanya belum siap pergi berdua dengan Ezra.


Juru masak yang sedang sibuk membuat kue untuk tea time nanti, menyambut Zefanya dengan girang. "Silahkan dicoba cake-nya, Nyonya. Tuan Ezra meminta saya membuatnya untuk anda."


Dia menawarkan dundee cake buatannya kepada nyonya besarnya itu.


Usaha juru masak menyiapkan kue dikombinasikan dengan makanan favoritnya membuat Zefanya kembali mengurungkan niat untuk mogok makan. Di hadapannya bau harum menguar dari kue berbentuk sederhana warna coklat tua dengan kacang almund dibagian atas kue yang tersusun unik. Ezra benar - benar tahu seleranya. Lagipula saat ini dirinya membutuhkan banyak asupan makanan untuk segera pulih. Ada anak - anak manis yang menunggu kasih sayangnya. Perjalanannya untuk berkumpul dengan anak - anaknya akan semakin panjang kalau harus sakit lagi.


Sambil menikmati cake-nya, Zefanya mulai mereka - reka apa yang akan dilakukannya setelah ini terhadap anak - anaknya. Yang pasti dia harus segera pulih untuk mengajukan permintaan pertama pada Ezra atas putera dan puterinya itu.

__ADS_1


__ADS_2