
Zefanya seakan berdiri di persimpangan. Logikanya berkata bahwa penolakan kedua anaknya adalah hal yang wajar karena bagi mereka dirinya tak lebih dari orang asing. Tapi sebagai ibu kandung, Zefanya jelas merasa sangat terpukul. Dia memang pernah berkata pada Ezra kalau tidak suka anak - anak tapi itu bukanlah isi hatinya yang sebenarnya. Lagipula, anak - anak itu adalah buah hatinya dengan Ezra. Mana mungkin dia tidak mencintai mereka?
Mengerti kebimbangan istrinya, Ezra berkata dengan suara pelan.
"Biar aku menenangkan Louisa. Bagaimana kalau kamu melihat Louis, siapa tahu makannya sudah selesai. Mereka berdua sangat pintar makan, terutama Louis."
Menghela napas, Zefanya mengangguk sedih. Dia tak punya pilihan lain selain meninggalkan kamar dan pergi mencari puteranya. Berada di kamar ini dan terus memaksa puterinya bukan solusi yang baik.
'Setidaknya Louisa tidak menangis kencang seperti Louis, bukankah itu sudah langkah awal yang baik?'
Zefanya menghibur diri sambil menuju kamar Louis yang berada tak jauh disana. Ketika memasuki kamar Louis, pengasuhnya sedang membersihkan bayi laki - laki itu dan hendak memakaikan jumper kepada laki - laki kecilnya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Zefanya mendekati puteranya dengan hati - hati.
"Dia sudah selesai makan?" tanya Zefanya setengah berbisik pada Suzzie.
Seperti sedang diajak bicara, Louis menoleh kepada Zefanya dan mengerjapkan matanya. Ekspresinya begitu tenang dan relax, tidak ada tanda - tanda bekas mengamuk.
Suzzie mengangguk. "Tuan muda menghabiskan satu mangkuk apricot dan sekarang siap untuk minum susu. Setelah itu dia akan tidur siang. Apakah anda akan memberinya susu?" Pengasuh itu berbaik hati menawarkan kepada Zefanya. Semua anak kecil membutuhkan pendekatan, semakin cepat memulai akan semakin baik untuk ikatan batin ibu dan anak.
"Kalau dia mau... " jawab Zefanya ragu - ragu. Dia tak sanggup menghadapi penolakan untuk kedua kalinya, hatinya akan kembali patah.
__ADS_1
"Mari kita coba, Nyonya. Silahkan duduk."
Zefanya duduk di kursi dan Suzzie membawa Louis ke pangkuan Mamanya. Pengasuh itu tetap menggenggam tangan kecil Louis sebelum benar - benar melepaskannya. Mulutnya terus berbicara.
"Tuan, minum sama Mama dulu... "
"Ini mama tuan muda, dia merindukanmu."
Suzzie terus bicara seakan - akan bayi itu memahaminya. Louis sedikit menggeliat saat pertama tangan Suzzie dilepas, namun dengan sigap pengasuh itu memasukkan botol s-u-s-u ke dalam mulut Louis. Untunglah, bayi itu langsung tenang dan mulai meminum s-u-s-u-nya sambil duduk di pangkuan Zefanya.
"Louis, sweetheart. Mama loves you... " bisik Zefanya lembut.
Tanpa diduga, bayi itu minum dengan semangat sementara matanya tak lepas dari Zefanya seperti sedang merekam wajah wanita di hadapannya. Dalam hati, Zefanya berharap puteranya bisa mengingat dirinya. Bulan pertama kelahiran anak - anaknya, Zefanya selalu datang ke rumah sakit dan memangku mereka satu per satu. Menyanyikannya lagu - lagu pengantar tidur dan terus mengajak mereka bicara meski bayi - bayi itu hanya bisa menjawab dengan tatapan mata.
Namun kedekatannya dengan Louis terasa tak lengkap tanpa Louisa. Dia ingin berkumpul bersama kedua anaknya, mendekap keduanya. Zefanya bangkit dari duduknya sambil terus menggendong Louis dan kembali ke kamar Louisa. Di kamarnya, Louisa sedang minum susu di box bayinya yang luas. Bayi perempuan itu memegang sendiri botol susunya. Tidak ada Ezra disana, hanya ada pengasuhnya yang sedang membereskan sisa - sisa mangkuk makan siang tadi.
"Meilissa."
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" jawab pengasuh itu sigap.
"Tolong minta pada pelayan untuk membawa matras dan selimut tebal kesini." perintah Zefanya kemudian.
__ADS_1
"Baik, Nyonya." sahut Meilissa yang langsung meninggalkan ruangan dengan ekspresi bertanya - tanya. Apa yang akan dilakukan oleh majikannya itu.
Sambil menunggu, Zefanya mendekati Louisa dan membelai - belai pipinya dengan penuh kasih sayang. Sementara tangan satunya masih tetap menggendong Louisa. Siapa sangka, Louisa bereaksi dengan tersenyum. Mulutnya melepaskan dot dan tangan kirinya menggapai untuk menyentuh jari - jari ibunya. Zefanya memberikan kelingkingnya, Louisa langsung menggenggamnya erat dan menarik kelingking Zefanya mendekat ke mulut mungilnya. Mungkin dia mengira kelingking Zefanya adalah dot.
"Silahkan, Nyonya."
Meilissa datang kembali sambil membawa selimut, di belakangnya ada dua orang pelayan membawa matras besar masuk ke dalam ruangan.
"Tolong letakkan selimut di atas kursi." perintah Zefanya pada Meilissa, lalu dia menoleh kepada kedua pelayan yang membawa matras. "Dan matrasnya bisa kalian letakkan di dekat jendela sana. Terima kasih bantuannya, kalian bisa meninggalkan kami sekarang." ucap Zefanya lagi sambil mengulas senyum.
"O'ya, Meilissa. Tolong sampaikan kepada Suzzie kalau hari ini kalian bebas tugas."
Melihat keterkejutan pengasuhnya, Zefanya mau tak mau harus menjelaskan alasannya. "Saat ini aku ingin menjalin hubungan kembali dengan anak - anakku. Aku perlu menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka. Aku harap kalian mengerti."
Meilissa menganggukkan kepala dengan ragu. "Saya mengerti, Nyonya. Tapi kami akan stand by di dekat sini. Anda bisa memanggil kami kapan pun anda membutuhkan." jawab Meilssa enggan meninggalkan Louis. Dia pun sudah terlanjur jatuh hati pada pria kecil dan lucu itu.
Zefanya memandang punggung Meilissa saat meninggalkan kamar Louis, mengira - ngira apakah pengasuhnya itu sudah terlanjur terikat batinnya dengan Louis atau belum. Dan, kalau memang benar mungkin keputusannya untuk memutus kontrak adalah yang terbaik.
Merasa bebas saat tak ada seorang pun di ruangan, Zefanya menghampiri box bayi Louis dan meletakkan Louisa disamping kembarannya. Selama beberapa menit, Zefanya memandangi kedua anak kembarnya sambil tersenyum - senyum sendiri. Kedua bayi itu tidur berdampingan sambil melanjutkan meminum s-u-s-u.
Zefanya mengambil selimut yang diletakkan di atas kursi dan menghamparkannya di atas matras lebar yang sudah dipasang di dekat jendela. Matras dan selimut tebal serta ruangan berlapis karpet, cukup hangat bagi anak - anaknya untuk berbaring dibawah sini.
__ADS_1
Setelah melepas sweater dan alas kakinya, Zefanya memindahkan bayinya satu demi satu ke atas selimut. Dia membiarkan si kembar berguling - guling di selimut empuk, kemudian Zefanya ikut tengkurap disana. Dengan begini, tidak ada lagi batas di antara mereka untuk berinteraksi. Dia juga bisa mencium dan membelai si kembar tanpa perlu menggendong.
"Wow! Kalian asyik sekali. Kenapa tidak mengajak Papa untuk bergabung dengan kalian?" sapa Ezra dengan suara bahagia dari ambang pintu.