
"Zie? Aku rasa kamu harus cepat - cepat menghabiskan makananmu lalu kita bisa pergi berjalan - jalan bersama si kembar. Aku khawatir hari semakin sore dan angin bertambah banyak."
Suara Auntie Laura mengagetkan Zefanya dari lamunannya. Dia mendongak, sesaat mencoba mencerna perkataan bibinya ditengah carut marut pikirannya. Wanita paruh baya itu memandang keponakannya dengan senyum lebar.
"Lihatlah cucuku yang tampan dan cantik ini. Mereka sudah siap menghabiskan waktu bersama mama-nya sore ini." ucapnya sambil menunjuk kedua bayi kembar yang montok di atas trolley mereka.
Louis dan Louisa sudah siap dengan setelan kembar, Zefanya tinggal memakaikan jaket dan sarung tangan saat mereka hendak keluar nanti. Dua pasang bola mata bening itu menatap mamanya sambil mengapai - gapai minta digendong.
Auntie Laura mencium mereka dengan gemas. Beberapa hari ini wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu tinggal di mansion demi menemani keponakannya. Sejak malam mereka bertemu dengan Pastur Markus, Ezra memilih untuk melakukan perjalanan dinas diluar kota sehingga Zefanya harus merawat si kembar sendiri.
Menghadapi beberapa hari yang berat ini membuat Zefanya bersyukur karena ada bibinya disana. Setidaknya kekosongan hati dengan perginya Ezra bisa sedikit terobati.
"Tanamkan di kepalamu, Zie. Aku tak akan semudah itu melepaskanmu." geram Ezra sambil membuka pintu mobilnya.
"Meski berpisah, kita akan masih bisa berhubungan baik." jawab Zefanya takut - takut.
"Hubungan baik macam apa yang kamu harapkan?"
"Kita bisa.... " Zefanya menelan ludah. "Berteman."
Ezra tertawa sinis. "Berteman?"
Zefanya mengangguk. "Bagaimanapun ada anak - anak di antara kita. Mau tak mau kita harus terus bekerja sama."
"Aku mencintaimu sebagai pria dan wanita, bukan saudara atau teman!"
"Ezra, aku tahu perasaanmu. Aku juga merasa sulit di awal - awal, tapi lama - kelamaan aku mulai terbiasa."
"Terbiasa untuk tidak bersamaku? Apa itu maksudmu?" sergah Ezra dengan wajah merah padam dan da-danya terlihat naik turun karena emosi yang membuncah. "Apa kamu juga sudah ada pria lain penggantiku saat ini?" tuduhnya kemudian.
Di mata Zefanya, Ezra tampak seperti hewan buas yang terluka dan siap menyerang kapan saja. Dia benar - benar takut menghadapi Ezra yang seperti ini. Perlahan - lahan Zefanya membuka pintu mobil. "Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk anak - anak. Bekerja samalah denganku." mohon Zefanya pelan, lalu dia membuka pintu dan berlari masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi.
"Zie, Sayang?"
Zefanya tergeragap, sudah kedua kalinya dia tak mendengarkan kata - kata bibinya dengan jelas. Di hadapannya Auntie Laura menggelengkan kepala sambil menatap prihatin ibu si kembar.
"Iya, Auntie? Maafkan aku."
__ADS_1
"Ezra menelepon dan berkata kalau perjalanan bisnisnya akan diperpanjang."
Zefanya tersenyum tipis. Mereka terakhir bertemu saat pertengkaran malam itu, dan paginya Ezra sudah menghilang dari tempat tinggal mereka. Hatinya seperti disayat saat Ezra meninggalkan mansion tanpa pamit, laki-laki itu hanya menitipkan pesan kepada Auntie Laura untuk tetap tinggal di mansion selama dirinya pergi keluar kota. Dan saat ini pun, Ezra lebih memilih menghubungi bibinya dibanding dirinya.
"Apa ada masalah?" tanya Zefanya berpura - pura tegar.
"Tidak. Hanya saja ada rekan bisnis yang mengundangnya makan malam."
"Jadi besok Ezra bisa pulang?" Tersirat sebuah harapan di hati Zefanya. Ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar hebat dan berpisah dalam keadaan perang dingin seperti ini. Selama ini Ezra begitu sabar dan lembut menghadapi semua tingkahnya.
"Belum tahu." jawab Auntie Laura, sambil mengamati Zefanya baik - baik.
"Belum tahu?"
"Ezra cuma bilang akan menghubungiku lagi saat akan kembali kemari."
Sekali lagi hati Zefanya seperti ditonjok, Ezra sama sekali tidak menghubunginya dan malah berjanji akan memberi kabar pada bibinya. Dalam hati Zefanya menertawakan dirinya yang labil. Dia sendiri yang sok kuat ingin berpisah dan meninggalkan Ezra begitu saja di mobil. Dia pula yang menghindar untuk test DNA, sekarang dia sendiri yang merasa kosong. Konyol sekali.
Pikirannya kini melayang ke rekan - rekan kerja, partner bisnis Ezra terutama yang muda dan cantik. Kalau dulu, dia merasa ratu di hati Ezra, bagaimana dengan sekarang?
"Kamu baik - baik saja, Zie? Dari tadi kulihat kamu lebih banyak melamun." tanya Auntie Laura cemas.
Susah payah Zefanya menetralkan ekspresi wajahnya dan bersikap senormal mungkin. "Aku sedang berpikir kalau diluar banyak angin, jangan sampai mereka terkena flu lagi."
Lalu Zefanya mendorong kereta si kembar menuju ruang bermain. Berusaha mengalihkan pikirannya, mama muda itu menurunkan kedua anaknya di lantai berlapis karpet bulu. Mereka bertiga berguling - gulingan dan bercanda disana. Sesekali Zefanya menggelitik perut Louis dan Louisa hingga suara tawa geli khas anak - anak mengisi ruangan, memenuhi ruang hati Zefanya. Menyaksikan interaksi hangat ibu dan anak - anaknya, Auntie Laura tertawa sambil menangis haru. Keponakan kecilnya yang manja kini sudah menjadi seorang ibu.
"Oh, Zie, aku tak pernah menyangka kamu bisa menjadi ibu yang baik. Anak - anakmu sangat dekat denganmu." ucapnya sambil ikut duduk di atas karpet.
"Tentu saja, Auntie. Mereka yang akan mengisi hari - hariku."
"Mereka? Lalu bagaimana dengan Ezra?"
Tahu kemana arah pembicaraan bibinya, senyum Zefanya langsung memudar. "Kita sudah pernah berdiskusi sebelumnya, Auntie. Aku tak ingin membahasnya lagi."
Auntie Laura menggelengkan kepala prihatin. "Aku berharap Ezra akan terus mengisi hatimu. Membesarkan anak dalam keluarga yang utuh akan lebih baik dari pada orang tua yang berpisah." nasehatnya sedih.
"Bagaimana Louise? Apa dia sudah mulai usahanya yang baru?" Zefanya sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Dia baik - baik saja. Ezra mengenalkannya pada konsultan keuangan dan aku harap masalah ekonomi yang dialaminya bisa segera selesai. Setelah itu Louise bisa fokus pada anak - anak daripada perusahaan."
"Apa putera Louise kurang kasih sayang?"
"Anak Louise tidak seceria anakmu, Zie. Itu karena pikiran Louise terbagi antara perusahaan dan rumah tangga. Dia juga kurang mendidik Carlos dengan baik."
Zefanya memiringkan kepala. "Aku lihat Carlos baik - baik saja."
"Carlos kesepian, Zie. Louise mirip dengan mamamu yang selalu sibuk sendiri, sedangkan kamu lebih mirip dengan papamu yang penuh cinta dan hangat."
Zefanya tercengang. "Apa tidak terbalik?"
"Tentu saja tidak. Papamu memang lebih dekat denganmu. Caranya memperlakukanmu sama dengan caramu memperlakukan anak-anakmu. Berguling - guling di lantai, bermain, saling menggelitik, mencium dan memeluk."
"Memangnya Louise tidak seperti itu dengan Papa?" Zefanya berusaha mengingat - ingat.
"Tidak, Sayang. Papamu lebih dekat denganmu dibanding Louise sampai - sampai kakakmu itu iri terhadapmu. Papamu dan juga Ezra lebih memperhatikanmu dari pada Louise."
Zefanya tersentak. Ezra yang lebih memperhatikan dirinya bukanlah hal yang aneh. Mereka saling jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Tapi Papanya?
"Menurut Auntie, Papa pilih kasih. Benar begitu?" tanya Zefanya heran.
"Benar."
Jawaban Auntie Laura membuat Zefanya terharu, Papanya begitu tulus mencintai dirinya meski bukan anak kandung.
"Aku tahu apa sebab perbedaan perlakuan papa kepada kami, Auntie."
Wanita paruh baya di hadapannya terperangah. "Kamu tahu sebabnya?"
"Karena aku pun akan memperlakukan anak orang lain dengan lebih baik dari anakku supaya anak itu nyaman saat berada di lingkungan yang asing." Ucap Zefanya getir.
"Dari mana kamu mendapatkan pikiran itu?"
"Aku tahu semuanya."
"Soal apa?"
__ADS_1
"Kalau aku bukan anak kandung papaku."
Auntie Laura menarik napas terkejut dan menutup mulutnya.