
"Aku akan datang sekarang!"
Suara tegas Ezra membuat Zefanya bergidik ngeri. "Jangan!" pekiknya panik.
Tiba - tiba saja nyalinya ciut, keberanian yang dikumpulkan susah payah pun menguap entah kemana.
"Ma moitie?" Ezra terdengar memohon.
"Jangan! Jangan malam ini!" seru Zefanya menahan tangis. Tadi dia berpikir kalau akan sanggup menghadapi Ezra dan berbicara baik - baik. Kenyataannya? Dia tidak sanggup. Berbagai perasaan menyerbunya seketika, panik takut, gugup dan yang paling besar adlah perasaan tidak tega menyakiti Ezra-nya. Laki - laki terbaik yang pernah dikenal olehnya.
"Zie, berbulan - bulan aku menunggu saat ini. Setiap malam, sepanjang hari aku berdoa supaya kamu menyebut namaku. Mengingat aku. Dan sekarang, kamu malah menyuruhku menunggu?" protes Ezra penuh kepedihan.
Zefanya terhenyak, perasaan bersalah melingkupinya. "Maaf, Ez. Aku cuma merasa lelah dan aku pikir lebih baik kita bertemu besok saja." ucap Zefanya penuh penyesalan.
"Tapi aku tak sanggup lagi menunggu." Keluh Ezra pilu. "Ma moitie, tidurlah sekarang kalau kamu lelah. Aku berjanji tidak akan mengganggumu. Tapi aku akan berangkat kesana sekarang juga, cukup melihatmu tidur dan baik - baik saja maka aku sudah akan sangat bahagia. Aku cuma ingin berada di ruangan yang sama denganmu. Apa menurutmu aku terlalu berlebihan?"
Zefanya memejamkan mata, merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan oleh Ezra. Permintaan Ezra adalah permintaan normal seorang suami yang mencintai istrinya. Hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah hubungan mereka dan kenyataan yang menyakitkan.
"Baiklah kalau itu maumu, Ez." jawab Zefanya pasrah, tak sanggup lagi menyakiti Ezra. Laki - laki terbaik yang pernah dikenalnya.
"Thanks, Ma Moitie. Aku langsung berangkat." sahut Ezta cepat seakan takut Zefanya berubah pikiran.
"Ya." ucap Zefanya lemas. Seperti biasa Zefanya tidak bisa berbuat apa - apa untuk melawan Ezra. Dia punya cara sendiri untuk membuat Zefanya patuh tanpa harus menggunakan kekerasa. Itulah sebabnya Zefanya takut untuk menghadapi Ezra. Dengan lemas Zefanya mematikan ponselnya, tenaganya terkuras karena ketegangan yang dirasakannya.
__ADS_1
Sekarang Zefanya kebingungan. Ketakutan untuk menghadapi Ezra dan berterus terang menghilang, dan kini berubah menjadi kekhawatiran akan hal lainnya. Dia berkata lelah dan Ezra tadi menyuruhnya tidur. Tapi bagaimana caranya tidur kalau Ezra terus memenuhi kepalanya seperti ini? Bagaimana nanti dia bisa nyenyak kalau Ezra sudah datang dan mereka berada di ruangan yang sama?
Ezra pasti tidak akan mampu untuk menahan diri untuk tidak mencium dan memeluknya setelah sekian lama menahan perasaan. Kalau boleh jujur, Zefanya juga merasakan hal yang sama.
Tak ada jalan lain, suka atau tidak. Mau atau tidak, Ezra akan datang. Untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan, Zefanya memutuskan ruang tamu sebagai pilihan terbaik untuk tempat pertemuannya dengan Ezra.
Bergegas Zefanya pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air hangat. Biar bagaimana pun, dia tak mau terlihat jelek di mata Ezra. Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelum kecelakaam itu terjadi, pipinya terlihat tirus dan matanya pun tampak cekung. Setidaknya Ezra harus melihatnya dalam keadaan jauh lebih segar dan sehat supaya mau mengijinkan dirinya keluar dari tempat ini.
Di depan kaca, Zefanya mematut dirinya. Dia akan berusaha terlihat percaya diri saat berbicara dengan Ezra nanti. Zefanya sengaja memulas bedak dan make up tipis untuk memperbaiki wajahnya. Kepandaiannya merias wajah cukup membantu, dalam sekejap wajahnya terlihat cantik. Tak sedikit pun tampak seperti pasien rumah sakit.
Setelah itu dia memilih pakaian di lemarinya. Zefanya berdecak kagum. Pakaian, skincare dan peralatan make up semua lengkap di ruang rawatnya. Dan semua itu karena suaminya, Ezra. Tak sedikit pun kebutuhan pribadi Zefanya lolos dari perhatiannya.
Setelah merasa puas dengan penampilannya, Zefanya mencari Suster Yoana di ruangannya. "Suster?"
"Astaga, Nyonya. Anda terlihat begitu berbeda malam ini. Hampir saja saya tidak mengenali anda."
Zefanya mengulum senyum, dia tahu Suster Yoana tak akan menyangka kalau tiba - tiba saja dia akan merubah penampilan malam ini. "Suamiku akan datang. Aku akan menemuinya di ruang tamu. Bisakah kamu menyiapkan minuman untuknya nanti?"
"Anda ingin saya menyiapkan apa, Nyonya?"
Zefanya terlihat berpikir sejenak. "Teh chamomile saja." Pilihan ini terasa lebih baik dari pada secangkir kopi atau cokelat. Teh chamomile bisa membuat mereka lebih relax dan berbicara dengan lebih tenang.
Suster Yoana mengangguk patuh dan Zefanya pun mengucapkan terima kasih. Kemudian Zefanya menuju ruang tamunya dan duduk di sofa dekat lemari kecil yang berisi novel dan buku bacaan kesukaannya. Boleh dibilang ruang rawat ini seperti rumah kedua untuk Zefanya.
__ADS_1
Tak ingin dilanda perasaan panik, Zefanya mencoba merelaksasi dirinya dengan membaca majalah fashion terbaru yang ada disana. Dia membolak balik halaman tanpa benar - benar melihat isinya. Pikirannya benar - benar terganggu. Sedikit saja suara langkah terdengar, dia akan langsung menoleh. Padahal hanya suster Yoana yang datang dan petugas kebersihan.
"Ma Moitie?"
Ini dia!
Tubuh Zefanya membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan saat mendengar suara Ezra memanggil dari dekat. Ezra tiba - tiba saja muncul tanpa suara langkah kaki. Panggilan sayang Ezra padanya 'ma moitie' terasa menggetarkan hatinya. Warna suara Ezra masih sama. Nadanya. Intonasi dan cara bicaranya pun masih sama seperti dalam ingatannya.
Ezra tidak berubah.
Masih terkejut dengan kehadiran Ezra yang tiba - tiba, Zefanya hanya mampu melihat dari sudut matanya. Sosok laki - laki yang masih berjas rapi, menatapnya penuh rindu. Dia menggigit bibirnya, hampir tengah malam dan Ezra masih memakai setelan kantornya. Hal yang hanya terjadi saat laki - laki itu tidak bisa tidur karena banyak pikiran. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana inginnya Zefanya menghambur ke pelukan hangat suaminya itu.
'Tidak! Tidak! Jangan seperti ini. Kamu harus membuang perasaanmu jauh - jauh.'
Masih di tempat duduknya, Zefanya perlahan - lahan memberanikan diri untuk menatap Ezra. Zefanya mengerjapkan mata beberapa kali, menahan supaya tidak ada air mata menetes. Ada nyeri di dadanya saat melihat perubahan yang terjadi dalam diri Ezra. Kemarin Zefanya tak sempat mengamati, namun hari ini dia sudah bisa melihat dengan jelas seberat apa hari - hari Ezra selama dia sakit.
CEO dengan ribuan karyawan bernaung dibawah perusahaannya itu tampak rapuh. Matanya menatap Zefanya tak berkedip dengan sorot mata suram. Perubahan terlihat jelas pada diri laki - laki yang sangat dicintai oleh Zefanya ini. Kerutan halus mulai menggurat di wajah Ezra yang tampan, rambutnya tampak lebih panjang dari yang bisa diingat oleh Zefanya. Dan bulu halus di wajahnya tidak tercukur rapi seperti biasa. Kemudian satu lagi, tubuhnya tampak lebih kurus.
Meski pun begitu, pesonanya tak juga luntur. Membuat Zefanya harus menahan diri untuk tak kembali jatuh cinta pada pria di hadapannya. Cinta hanya akan membuat segalanya lebih rumit.
Mengenal Ezra hampir sepanjang hidupnya, Zefanya tahu kalau pria itu menunggunya bangkit dan berlari ke dalam pelukan Ezra. Hal yang biasa dilakukan oleh Zefanya di masa lalu. Saat itu Zefanya tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya pada Ezra. Bagaikan buku yang terbuka, Ezra bisa langsung membacanya kapan pun dia mau.
Namun tidak untuk kali ini, dengan suara semantap mungkin Zefanya mempersilahkan Ezra duduk dan berkata,
__ADS_1
"Aku ingin kita bicara soal hubungan kita."