Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 41 -- A Bad Liar


__ADS_3

Pembohong Yang Buruk


Akhirnya yang ditunggu - tunggu datang juga, Louise dan puteranya Carlos yang berusia dua tahun lebih. Berhari - hari mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Sama seperti hari ini, Zefanya dan Louise berjalan - jalan ke tepi danau sambil membawa anak - anak mereka. Louis dan Louise duduk dengan tenang di atas kereta bayi mereka yang memiliki tempat duduk double. Mata bening mereka bersinar seakan menikmati pemandangan yang dilewati.


Carlos yang lebih besar, tidak bisa bertahan lama duduk tenang diatas keretanya. Dia meloncat turun dari tempatnya duduk dan mengejar bebek atau melambaikan tangan pada orang yang melintas menggunakan perahu dayung.


"Berapa tepatnya usia kandunganmu saat ini?" tanya Zefanya untuk memastikan ketika Louise tampak kelelahan padahal mereka belum lama menikmati pemandangan danau.


"Empat bulan." jawab Louise sambil menghela napas berat.


"Tapi ini seperti usia kehamilan enam bulan." sahut Zefanya tak percaya, tangannya menyentuh lembut perut kakaknya.


Wanita hamil memang mudah lelah, tapi wajah kakak perempuannya itu tampak lebih letih dari wanita hamil pada umumnya.


Louise mengangguk sambil tersenyum. "Dulu waktu kuliah, kita sering berjalan - jalan disini menikmati sore bersama teman - teman sekolah. Dan sekarang, kita hanya berdua bersama dengan anak - anak kita." jawabnya sambil mengusap perutnya yang bulat dan besar. Dia mendorong kereta Carlos menuju salah satu bangku yang ada disana dan segera menempelkan pan-tatnya disana.


"Iya. Tanpa sadar, waktu berlalu cepat." gumam Zefanya dengan perasaan campur aduk. Dia mengikuti Louise sambil meratapi kebahagiaannya yang seperti sedang menjauh dari genggamannya.


"Kamu ingat pohon dan pagar itu? Dulu kita pernah menabraknya menggunakan mobil Ethan." Louise tertawa kecil.


"Sekarang kamu bisa tertawa, Louise. Apa kamu sudah lupa kalau dulu kamu menangis karena ayah memotong uang saku kita untuk membayar biaya perbaikan mobil Ethan?" cibir Zefanya sambil mengulum senyum.


Louise tertawa lepas. "Ah, ya... Dimana Ethan? Hampir dua minggu aku disini tapi aku tak pernah melihatnya sekali pun."


"Aku juga belum bertemu dengannya sejak kembali ke mansion. Kata Joan, dia ada pekerjaan di Amerika." jawab Zefanya jujur. Dia tidak pernah bertanya pada Ezra soal Ethan tapi kepala pelayan memberitahu dirinya tanpa diminta.


"Hmm... , aku rasa ini pasti karena Ezra. Hubungan mereka tidak baik sejak Ethan berbuat tidak sopan denganmu."

__ADS_1


"O'ya?"


Zefanya mencoba menggingat - ingat kembali masa lalunya bersama Ezra dan Ethan. Diam - diam hatinya diliputi rasa bersalah. Jangan - jangan Ezra sengaja menyingkirkan Ethan dari mansion supaya dirinya merasa nyaman disini.


"Zie, hey, Zie!" panggil Louise memutus lamunannya. "Ngomong - ngomong soal Ezra, apa yang sebenarnya terjadi? Aku dengar kalian akan berpisah akhir bulan ini. Kenapa bisa begitu? Ini benar - benar tak masuk akal!"


Tak suka membicarakan topik ini, Zefanya menghela napas.


"Aku hanya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, ternyata aku tidak siap berumah tangga."


Louise menemukan sebuah kejanggalan disini. "Ezra sangat mencintaimu. Apa pun yang membuatmu tidak siap, dia pasti akan mengatasinya. Di dalam hidupnya hanya ada kamu, dia tak sedikit pun melirik wanita mana pun yang mencoba menarik perhatiannya, termasuk aku."


"Kamu?" Zefanya tertarik pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Louise.


Louise mengangguk. "Kalau boleh jujur, aku sebal sekali padamu. Entah jampi - jampi apa yang kamu pakai untuk memikatnya."


"O'ya?" pekik Zefanya terkejut.


"Louise... "


Mendapati penyesalan tercetak dengan jelas di raut wajah Zefanya, Louise buru - buru menenangkannya.


"Hei, itu hanya cerita masa remajaku." Louise tersenyum sambil menepuk bahu Zefanya lembut. "Dua minggu berada disini membuatku menyadari kalau rumah tanggaku masih bisa diperbaiki. Sama halnya dengan dirimu. Tidak ada masalah di dalam rumah tangga tanpa solusi. Aku benar - benar tidak tega melihat Ezra saat ini. Dia tegar diluar tegar, padahal hancur didalam. Bagaimana bisa kamu tega tidur terpisah darinya? Aku benar - benar ingin tahu penyebab perceraian."


Zefanya memejamkan matanya dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Aku sudah mengatakan padamu yang sebenarnya, Louise. Aku hanya ingin bebas, tak terikat tanggung jawab apa pun." bohong Zefanya.


"Kenapa? Apa kamu trauma mempunyai anak kembar? Apa bagimu putera dan puterimu ini sangat merepotkan? Kalau itu masalahnya, Ezra sangat mampu membayar baby sitter terbaik."

__ADS_1


"Maaf, Louise. Aku tahu kamu bermaksud baik. Tapi ini adalah masalah pribadiku. Intinya adalah aku sudah tidak mempunyai perasaan apa pun pada Ezra. Titik."


"Omong kosong! Kamu begitu tergila - gila pada Ezra saat itu. Aku ingat bagaimana kamu melakukan segala cara untuk tetap datang kemari setiap tahun bahkan rela belajar keras demi bisa kuliah disini dan bersama Ezra."


"Itu dulu. Sekarang tidak lagi." Suara Zefanya terdengar dingin, khas dirinya saat sedang tidak ingin memperpanjang pembicaraan.


Louise menggelengkan kepala dengan sedih. "Kamu pembohong yang buruk, Zie. Aku tidak percaya sedikit pun pada apa yang kamu ucapkan. Ezra juga tidak akan percaya hal ini." sanggah Louise lagi.


Untunglah, Carlos terlihat bosan. Dia mulai menaiki kereta si kembar dan mengusili sepupu - sepupunya itu.


"Aku rasa keponakanku sudah bosan. Si kembar juga sudah waktunya makan. Ayo kita pulang." Ajak Zefanya untuk mengakhiri percakapan yang tidak menyenangkan ini.


"Aku belum selesai denganmu, Zie." geram Louise.


"Aku sudah. Bagiku, pembicaraan sudah terlalu jauh."


"Aku tidak akan tinggal diam dalam masalah ini meski mungkin kamu akan marah padaku."


Zefanya memutar tubuhnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Louise dengan emosi yang membara. "Aku tidak pernah ikut campur dengan masalahmu dan suamimu. Jadi jangan pernah ikut campur urusanku."


"Aku dan suamiku mempunyai banyak sekali masalah, tapi kami mencoba bertahan. Tapi kamu?" Louise dengan keras kepala menunjuk wajah Zefanya dengan jari telunjuknya. "Tidak ada masalah berarti dalam rumah tanggamu, baik dari segi ekonomi mau pun pasanganmu. Ezra bahkan bisa memberiku nasehat yang baik tentang pernikahan. Aku percaya dia juga menerapkannya pada rumah tangga kalian."


"Tutup mulutmu, Louise." desis Zefanya semakin kesal.


"Tidak akan! Tapi aku muak melihatmu. Sumber masalah perceraian kalian adalah kamu, Zie. Sebaiknya besok aku pulang, sebelum aku semakin muak melihatmu." ketus Louise.


"Itu adalah ide yang bagus! Semakin cepat semakin baik." sahut Zefanya tak mau kalah.

__ADS_1


Dari kecil mereka memang sering berbeda pendapat dan puncaknya selalu sama. Mereka tidak akan mau melihat satu sama lainnya dalam jangka waktu tertentu.


"Yeah! Tidak usah khawatir. Suamiku juga sudah merindukan aku. Tentu saja aku harus segera kembal ke pelukannya."


__ADS_2