Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 16 -- A Prince Of Mine


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kepala Zefanya dipenuhi dengan rencana untuk melepaskan diri dari Ezra. Tapi tak satu pun strategi yang dirancangnya masuk akal. Hingga dia menemukan sebuah cara yang sangat masuk akal, yaitu mogok makan. Cara yang akan membuat suaminya ini tak sampai hati melihatnya menderita, lalu mengembalikan dirinya ke rumah sakit. Dari sana dia bisa kembali mengatur rencana untuk melarikan diri, entah dengan bantuan siapa. Dia akan memikirkannya nanti.


Keputusan untuk kabur setidaknya bisa meringankan beban di hati Zefanya. Sisa perjalanan dilalui dengan perasaan lebih tenang. Dia berdecak kagum saat melewati perkebunan milik Ezra dan matanya berbinar melihat jalanan yang rindang menuju mansion. Mansion bertema klasik yang terletak di tengah perkebunan sehingga lebih mirip sebuah puri dengan hutan di sekitarnya.


Dulu tempat ini merupakan surga bagi Zefanya kecil, tempat pertama kali dia bertemu Ezra muda. Saat Ezra menghentikan mobilnya tepat di depan mansion, kelebatan masa lalu kembali hadir di hadapan Zefanya.


"Istana semegah ini sudah tentu penghuninya adalah pangeran tampan." bisik Zefanya pada Louise, kakak perempuannya yang waktu itu berusia sepuluh tahun, satu tahun lebih tua dari Zefanya.


Louise mengangguk - angguk setuju, mereka berdua sama - sama suka berkhayal tentang pangeran tampan dengan kuda putih seperti di buku - buku dongeng yang dibacakan oleh Mommy sebelum mereka tidur.


Mengikuti langkah kedua orang tua mereka menuju ruang kerja Tuan Benjamin Halley, kedua gadis cilik itu tak henti - hentinya berdecak kagum. Pilar - pilar besar, perabotan berukir mewah dan lukisan - lukisan indah yang terpasang di ruang depan.


Saat sang tuan rumah, menyambut dan memperkenalkan mereka pada istrinya, Abigail, Zefanya justru salah fokus pada beberapa foto yang ada di meja kerja Tuan Benjamin. Matanya langsung tertuju pada sesosok pemuda tampan dengan tatapan mata yang tajam. Kemudian Zefanya mendekatkan kepalanya ke telinga Louise.


"Dialah yang akan menjadi pangeranku kelak." bisiknya.


Louise ikut melihat foto Ezra yang ditunjuk oleh adiknya dan sama - sama terpesona pada sosok Ezra yang tampan. Dari hasil menguping pembicaraan orang tua mereka, Zefanya tahu kalau Ezra adalah putera tertua keluarga Halley. Pewaris perusahaan itu sedang belajar di Harvard University dan akan segera kembali setelah lulus untuk bekerja di London.


Tahun - tahun berikutnya, Zefanya selalu bersemangat untuk menempuh perjalanan dari Edinburg ke London dengan harapan bisa bertemu dengan pangerannya secara langsung. Tibalah hari kunjungan itu, di saat usia Zefanya dua belas tahun. Dan sang pangeran benar - benar muncul di istananya.


Seperti biasa, Zefanya selalu mengagumi lukisan - lukisan besar yang terpasang di dinding. Dia mendekati lukisan keluarga dengan Ezra di dalamnya. Mungkin kalau digambarkan dalam film kartun, matanya akan keluar gambar hati yang berpendar - pendar. Zefanya kecil begitu terpesona hingga tidak berhati - hati dan menyenggol pelayan yang membawakannya minuman.


"Ups! Maafkan aku." Lirih Zefanya merasa bersalah.

__ADS_1


Oh, astaga! Ternyata bukan pelayan yang dia tabrak. Pangeran tampan itu sedang memegang gelas kaca yang dari aromanya adalah wine. Ada noda di baju putihnya karena ulah Zefanya.


"Aku mohon, maafkan aku." Ucap Zefanya sambil menahan tangis.


Dia sudah membuat masalah hari ini. Papanya pasti akan menghukum dia karena telah ceroboh mengotori pakaian milik pangeran tampan dari keluarga Halley. Zefanya celingukan mencari - cari sesuatu yang bisa dipakai untuk membersihkan noda di baju Ezra.


"Tidak apa - apa, gadis kecil. Aku tahu kamu tidak sengaja."


Zefanya ternganga. Alih - alih marah atau membentak, laki - laki yang terkenal pendiam dan tidak ramah itu malah tersenyum hangat kepadanya. Suaranya yang dalam dan lembut, membuat Zefanya semakin terpesona.


"Kembalilah ke ruangan dimana orang tuamu berada. Aku harus berganti pakaian dulu. Kita bertemu disana nanti."


"Hhhh... "


Tanpa sadar Zefanya mende-sah saat kenangan pertemuan pertama itu mendadak tayang di dalam benaknya. Bayangan itu sudah pasti akan terus menghantuinya seumur hidup. Zefanya menggeleng - gelengkan kepala untuk menjernihkan otaknya. Bukannya ringan, kepalanya semakin berat dan terasa berputar.


'Mungkinkah dia sakit lagi?'


Sengaja tidak berkomentar apa pun, Ezra membukakan pintu dan membantu Zefanya untuk keluar. Mencoba membuat istrinya merasa nyaman terlebih dahulu, sudah cukup serangannya hari ini kepada Zefanya.


Merasa tak bertenaga, Zefanya tak berusaha menolak ketika Ezra membimbingnya menapaki tangga teras. Tubuhnya terasa lemas. Hati kecil Zefanya bersyukur karena Ezra sangatlah peka dengan hal - hal seperti ini.


Masalah berikutnya muncul ketika Zefanya menginjak pintu utama mansion Ezra. Dia sudah ingin segera menempelkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan terbang ke alam mimpi, tapi dia juga tak mau tidur di kamar mereka.

__ADS_1


"Boleh aku tidur di kamar tamu yang aku pakai selama masa kuliah dulu?" Tanyanya pada Ezra, setengah memohon.


"Kamar itu sudah terpakai." Jawab Ezra singkat.


Ada rasa lega terselip di hati Zefanya. Kemungkinan Aunty Laura yang memakai kamar itu, atau bisa jadi rekan - rekan bisnis Ezra. Semakin banyak orang disini, semakin baik bagi Zefanya. Mereka tidak akan terus menerus berduaan.


"Sementara waktu, kamu akan memakai kamar di lantai dua sebelah kamarku." Ucap Ezra dengan tenang.


'Ya Tuhan!'


Zefanya menge-rang dalam hati. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak berteriak kesal. Laki - laki ini benar - benar membuatnya tak bisa berkutik. Membuat Zefanya semakin yakin dengan niatnya untuk mogok makan.


Beberapa pelayan datang dan menyambut Zefanya dengan suka cita. Nyonya rumah mereka yang baik hati sudah kembali, mansion ini akan kembali ceria seperti sebelum kepergian Zefanya.


Usai basa basi Zefanya ingin kembali ke kamar dan sepertinya Ezra sudah memperkirakan hal itu. Sebelum sempat Zefanya mengatakan apa pun, dia sudah menggendong istrinya menaiki tangga demi tangga menuju ke lantai atas.


"Turunkan aku!" bisiknya pelan, tak ingin pelayan mendengar dan bertanya - tanya mengenai perubahannya. Selama ini hubungan mereka mesra bahkan di depan pelayan sekali pun.


"Santai, Ma Moitie. Aku tahu kamu tak akan sanggup naik sampai ke lantai dua. Sekarang kamu ada di rumah, bersamaku, suamimu. Biarkan aku mengurusmu dengan baik. Patuhlah padaku, Sayang."


Posisi mereka yang begitu dekat ditambah debaran jantung yang tak terkontrol benar - benar membuat Zefanya tak berdaya. Tubuhnya terasa semakin tidak bertenaga. Akhirnya, Zefanya hanya bisa menyurukkan kepalanya ke dada Ezra dan berpura - pura tidur. Siapa sangka, Zefanya benar - benar terlelap hanya dalam hitungan detik. Lelah fisik dan mentalnya sudah sampai pada puncaknya. Dia hampir - hampir tak merasa ketika Ezra membaringkannya di atas ranjang dan berbisik.


"Istirahatlah, Mon Amour. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Kesejukan bantal sutera dan hangatnya selimut yang diselubungkan ke atas tubuhnya membuai Zefanya terlelap kian dalam. Dia tak ingat apa pun kecuali sentuhan tangan Ezra ketika melepaskan sweater dan sepatunya.


Ezra mengecup kening istrinya sebelum keluar dari kamar dan sekali lagi memandang wajah tidur Zefanya. Terlihat tenang dan nyaman padahal hari ini istrinya itu sama sekali belum meminum obatnya.


__ADS_2