
Beberapa tahun kemudian,
Zefanya tersenyum melihat Ezra bersama dengan si kembar. Mereka piknik di dekat danau. Musim panas seperti ini rimbunan semak dan tumbuhan menghijau. Tentu saja ini adalah waktu yang tepat untuk bersantai dan menikmati makanan di ruang terbuka. Sambil menikmati birunya langit, piknik menjadi salah satu agenda favorit keluarga kecil mereka. Ezra bisa melepas penat, sementara Zefanya dan anak-anaknya menikmati kebersamaan mereka.
"Mana sih bintangnya?" tanya Louisa penasaran. Semalam langit cerah dan Ezra menunjukkan rasi bintang kepada mereka menggunakan teleskop. Laki - laki itu suka sekali mengenalkan hal baru kepada putera puterinya dengan melihat langsung kepada obyeknya.
"Kalau siang hari tidak kelihatan, Sayang." jawab Ezra sambil menarik Louisa untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Louisa lagi.
"Karena langit cerah. Bintang selalu ada di langit baik siang mau pun malam. Saat matahari bersinar, langit pun ikut terang sehingga bintangnya tidak kelihatan. Pada malam hari langit gelap, jadi kita bisa melihat bintang." Ezra menjelaskan pada Louisa yang berusia tiga tahun. Di usianya, rasa ingin tahu sangat tinggi.
"Cantik ya, Dad?"
"Hm-hm."
"Seperti apa?"
"Seperti puteri Daddy... , seperti kamu, Sweeheart." seru Ezra sambil menggelitik perut Louisa yang langsung tertawa geli, suaranya renyah dan ceria.
"Ampun, Daddy. Lepaskan... " pintanya di sela - sela tawa.
"Aku rasa bukan seperti Louisa. Bintang itu cantik dan tenang, kalau Louisa berisik sekali."
Ezra menghentikan tangannya yang menggelitik puterinya lalu menoleh pada anak pertamanya. Louis sedang duduk di atas bangku kayu besar, bergumam sambil menatap lurus ke danau. Ekspresinya serius seakan dia sedang sibuk berpikir tentang masalah negara.
Ezra tersenyum lalu dengan sabar menanggapi puteranya. "Adikmu bukan berisik, tapi rasa ingin tahunya tinggi. Dia senang belajar banyak hal."
"Nah, iya kan? Aku tidak berisik. Aku baik dan juga... " Louisa mengerlingkan mata sambil memilin ujung rambutnya.
"Dan juga?" sahut Ezra sambil mengulum senyum. Gadis kecilnya ini suka ngomong dan sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Cantiiikk sekali, seperti barbie." jawabnya dengan penuh percaya diri, tak lupa mengangkat dagunya dengan kedua tangan di pinggang layaknya super model.
Ezra terbahak, dia mencubit pelan hidung mungil Louisa. "Kamu cantik seperti mama!"
"MAma lebih cantik dari Louisa!" celetuk Louis masih dengan wajah datarnya. Berlawanan dengan Louisa, anak laki - laki itu jarang bicara dan cenderung serius setiap kali mengeluarkan kata - kata.
Zefanya hanya bisa menutup mulut, menahan tawa saat mendengarkan perdebatan Ezra dengan anak - anak kembarnya. Karena kebodohannya, hampir saja dia kehilangan moment - moment indah seperti hari ini.
"Iya, Daddy pernah bilang kalau mama paling cantik di dunia. Benar kan, Louis?" Louisa menimpali, keningnya berkerut menirukan kata-kata Ezra setiap kali sedang berduaan dengan Zefanya. Sama seperti anak kecil lainnya, mereka suka sekali menguping pembicaraan orang tua.
"Ya sudah, ya sudah. Mama cantik, Louisa juga cantik. Wanita-wanita di rumah ini semuanya cantik." Ezra mengalah, percuma berdebat melawan perempuan. Dia tak sanggup melawan anak perempuan kecil yang bawel dan cerdas ini.
"Yes!" Louisa mengacungkan jempolnya di hadapan wajah Ezra yang terkekeh geli.
"Wajah Mama mirip dengan Grandma, berarti Grandma juga cantik kan?"
Mereka berempat serentak menoleh kepada asal suara tadi. Suara yang lembut dan familiar. Zefanya serta merta menghambur dan mencium pipi Aunty Laura dengan bahagia. Bibinya datang hari ini untuk memenuhi undangan makan malam dari Ezra malam ini.
Aunty Laura tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Louisa. "Grandma merindukanmu, My Lil Girl."
"Grandma bawa cokelat?" tanya Louisa yang menagih janji dari Aunty Laura. Wanita itu pergi berlibur ke Swiss dan berjanji akan membawakan banyak cokelat untuk cucu-cucu kesayangannya.
Louis yang biasanya dingin, kini jadi takut tidak kebagian. Dia menghampiri adik dan grandma-nya. "Apa Grandma membawa untukku juga?"
Senyum Aunty Laura semakin lebar. "Jangan khawatir, Boy. Semua akan mendapat bagiannya. Ada banyak di dalam tas Grandma."
"Grandma mana cokelatnya? tagih Louisa lagi.
Gadis kecil itu melihat heran ke telapak tangan. Setaunya bibi dari mama mereka ini membawa buah tangan, tapi tak nampak apa pun di tangannya.
"Ada di dalam tasku. Pelayan membawa barang - barangku ke kamar. Apa kalian mau ikut ke kamarku untuk mengambil hadiah kalian?"
__ADS_1
Mata si kembar langsung melebar. Antusias tergambar disana.
"Ayo!" sahur si kembar serempak, spontan mereka meraih tangan Aunty Laura. Satu di kanan dan yang lainnya di kiri, mereka pun berjalan menjauh dari danau menuju ke rumah.
Zefanya berdiri sambil menyandar di bahu Ezra yang melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Dia menoleh pada suaminya dan berkata, "Mereka anak - anak yang sempurna. Sehat dan cerdas."
Ezra mengangguk dan tersenyum, dia mempererat pelukannya. Rasa haru menyeruak melihat bayi - bayi mereka yang sudah bertumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan istrinya masih ada disisinya. Bersama mereka menyaksikan tumbuh kembang sang buah hati.
"Mereka benar - benar menggemaskan. Aku sangat menyayangi mereka." ucap Ezra pelan, pandangannya mengikuti ke arah dimana si kembar kecil berjalan sambil sesekali meloncat.
Zefanya tertawa. "Kamu benar, mereka sangat lucu." ucapnya dengan perasaan bangga.
Ezra mengangguk dan memandang wajah cantik Zefanya. "Terima kasih sudah mau melahirkan anak-anak yang cerdas dan bawel itu. Cerdasnya menurun dariku dan bawelnya mengikuti dirimu." ucapnya sambil mengulum senyum.
Zefanya mengerutkan ujung hidungnya. "Enak saja!" protesnya, pura - pura marah.
Ezra terbahak saat melihat ekrspresi sebal Zefanya yang sangat mirip dengan Louisa kalau sedang ngambek. Dia melirik ke arah anak - anaknya yang sudah kian menjauh bersama Aunty Laura.
Ezra menarik dagu Zefanya dengan ujung jarinya lalu mencondongkan kepalanya ke arah istrinya, memberikan kecupan romantis di tepi danau.
"I love you, Zie... "
"I love you more, Ez... Terima kasih atas usahamu terus mempertahankan pernikahan kita."
...~ THE END ~...
Author's note :
Terima kasih sudah membaca sampai hari ini. Mohon maaf untuk update yang tersendat-sendat karena memang banyak halangan yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya, semoga lebih lancar dan bagus ceritanya. 😇
__ADS_1
Semoga readers semuanya sehat dan bahagia selalu.