
"Let's go home!"
Ezra segera memanggil pelayan dan menyelesaikan pembayaran. Sementara di hadapannya Zefanya diam, merasakan perih di hatinya. Kata - kata Ezra bagaikan cuka yang menyiram luka hati wanita muda itu. Pulang ke rumah? Mansion mewah milik Ezra tak akan pernah menjadi rumahnya lagi.
Tak ingin menambah luka lebih dalam, Zefanya berdiri sebelum Ezra sempat menawarkan bantuan. Dia meninggalkan laki - laki itu dan bergegas keluar untuk menghirup udara segar pinggiran kota yang sejuk.
Hawa dingin di bulan - bulan ini lebih terasa, Zefanya menaikkan kerah sweater yang dipakainya untuk menepis udara dingin. Baju yang dipakainya terasa longgar. Sebenarnya tidak hanya yang dipakainya saat ini, tapi hampir semua pakaiannya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya saat ini. Dokter Sandra berkata, asalkan dia makan dan olahraga teratur maka kondisi tubuhnya akan kembali seperti semula.
Berpikir tentang olah raga, Zefanya jadi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pohon - pohon di tepi jalan lalu jalan setapak menuju taman terdekat, membuatnya ingin berlari - lari disana untuk menyalurkan energi dan kesumpekan pikirannya.
Namun sesaat kemudian, Zefanya buru - buru menepis pikirannya itu. Ada Ezra di dekatnya, sudah pasti suaminya itu tak akan pernah membiarkan dirinya pergi seorang diri. Dengan perasaan yang tak menentu seperti ini, mana berani dia berduaan terlalu lama bersama Ezra.
"Bagaimana kalau kita berjalan - jalan dulu?" usul Ezra yang sudah berada di belakang Zefanya.
Zefanya mencelos, lagi - lagi pria itu bisa membaca pikirannya. Sebelum Zefanya sempat menjawab, Ezra sudah meraih siku istrinya itu dan menggandengnya dengan protektif. Tanpa sadar Zefanya menahan napas, sentuhan itu membuat hatinya bergetar. Jantungnya mulai berdebar kencang, 'chemistry' di antara mereka masih terasa kuat hingga saat ini.
Setiap sentuhan laki - laki itu menimbulkan respon yang hebat di setiap sel darahnya, memancing rasa rindu itu keluar dari tempat persembunyiannya. Zefanya ingin memeluk, mencium dan menghabiskan malam bersama suaminya. Dia sangat merindukan Ezra dan kehangatan cintanya.
"Ehm, tadi aku memang ingin jalan - jalan. Tapi ternyata aku merasa lelah, mungkin tak sanggup berjalan pulang pergi. Semalam tidurku kurang nyenyak. Dr. Sandra juga sudah memperingatkan aku supaya tidak terlalu lelah selama masa pemulihan ini." ucapnya sambil menghembuskan napas, berpura - pura seolah hal ini juga terasa berat baginya.
__ADS_1
Ezra terpaku di tempatnya, mendengarkan setiap detail kata yang diucapkan oleh Zefanya serta perubahan nada di dalamnya. Batinnya bergejolak antara memaksa atau menuruti kemauan istrinya. Zefanya sudah membawa - bawa nama Dokter Sandra untuk meyakinkan Ezra.
Mengira Ezra akan memaksanya, Zefanya hanya pasrah. Namun ternyata Ezra melepaskan pegangannya sambil mendengus pelan. Dengusan yang membuat Zefanya sadar, untuk kesekian kalinya boss besar Halley group itu menurunkan egonya demi sang istri.
Ezra sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menenggelamkan Zefanya dalam pelukannya dan berusaha tidak menghanyutkan wanitanya dalam ciu-man yang memabukkan.
Sementara itu, Zefanya juga menangkap adanya kilatan has-ratt yang terpancar di mata Ezra setiap kali laki - laki itu memandangnya. Zefanya bukan gadis kecil naif seperti yang saat pertama Ezra mengenalnya. Saat ini Zefanya sudah dewasa dan menikahi Ezra, sorot mata suaminya itu membuat Zefanya bergidik. Dia takut kalau dirinya juga tidak dapat menahan diri dan kalah oleh gelombang cinta Ezra yang dahsyat.
"Apapun yang kamu mau, Ma Moitie... " ujar Ezra sambil menghembuskan napas berat kemudian dia membukakan pintu mobil lalu Zefanya dengan patuh masuk tanpa berkata - kata lagi.
Zefanya duduk dengan posisi kaku di tempat duduknya sambil terus menahan napas, khawatir Ezra bisa mendengar degup jantungnya yang terus bertalu - talu.
"Oh, My God!" Wajahmu pucat pasi. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit?" seru Ezra marah bercampur khawatir, dan terasa sekali rasa khawatirnya mengalahkan kemarahannya.
Tracey tak menjawab. Dia menyandarkan kepala dan memejamkan mata, menangis dalam hati. Ezra selalu mementingkan dirinya melebihi perasaannya sendiri. Perhatiannya begitu dalam dan nyata. Detik itu juga Zefanya menyadari kalau keputusannya seratus persen keliru. Tiga puluh hari menghadapi situasi yang akan terus sama seperti ini, perang batin dan melawan ego masing - masing terus menerus bisa membuat mereka sama - sama hancur. Beberapa jam terakhir ini saja sudah memporak porandakan perasaan mereka.
Tak ingin Ezra tahu apa penyebab sebenarnya perceraian mereka, Zefanya mulai memikirkan sebuah rencana lain. Ada sebuah dinas sosial atau semacam tempat penampungan bagi orang - orang bermasalah dan terlantar di kota ini. Sebelum minggu ini berakhir, dia harus bisa keluar dari mansion milik Ezra.
'Tidak masalah kalau tak ada uang. Aku bisa meniru gaya backpacker saat bepergian. Mereka menumpang truk dari satu tempat ke tempat lain.'
__ADS_1
Mata elang Ezra melihat Zefanya mencengkeram ujung pakaian yang dipakainya, pertanda dia sedang berpikir keras.
"Buang jauh - jauh pikiran burukmu, Zie!" tegas Ezra. Keahliannya membaca pikiran Zefanya begitu akurat dan mengejutkan.
"Kita sudah sepakat dan kamu harus menepatinya. Meskipun untuk itu aku harus mengawasimu selama dua puluh empat jam. Aku sudah menambah CCTV dan jumlah penjaga di rumah kita. Lupakan ide untuk melarikan diri. Aku tak mungkin bisa jatuh dalam lubang yang sama." cecar Ezra lagi.
Merasa terpojok dan tak berdaya, Zefanya mulai menangis. Ezra tak memperdulikan tangisan Zefanya dan terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion mewah miliknya.
Air mata Zefanya tak bisa berhenti, terus mengalir hingga terisak - isak.
"Aku perlu privacy, Ez." lirihnya di sela - sela tangisan, berharap Ezra berbaik hati.
'Per-se-tan dengan privacy! Kamu itu istriku!' maki Ezra dalam hati. Jari - jarinya yang panjang mencengkeram setir begitu kencang hingga buku - buku jarinya memutih.
"Aku sudah berjanji tak akan mengganggumu di tempat tidur. Jadi jangan meminta terlalu banyak lagi dariku. Aku sudah mencapai batas kesabaranku." geram Ezra.
Ucapan Ezra menampar Zefanya telak. Sekarang dia menyadari kebodohannya karena berani meninggalkan rumah sakit. Bagaimana bisa dia menyimpan rahasia besar itu kalau Ezra terus menerus bersikap seperti ini.
Sepanjang hidup, Ezra tak pernah gagal mengorek keterangan apa pun dari mulut Zefanya. Terlalu sering berbagi cerita, membuat hubungan mereka sangat dekat. Ezra bahkan berperan besar dalam mendidiknya. Bahkan sejak Zefanya berumur tujuh belas tahun, laki - laki itu lah yang terus mengarahkannya untuk tidak terbawa arus pergaulan teman - temannya. Alih - alih bercerita pada Ayahnya, Zefanya memilih Ezra sebagai penyimpan rahasia kenakalannya selama ini. Tidak ada yang lebih mengenal Zefanya selain Ezra.
__ADS_1
'Argh! Kenapa aku melupakan fakta ini?' Sesal Zefanya dalam hati.