Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 48 -- Stay With Me Forever


__ADS_3

Tinggal Bersamaku Selamanya


Ezra terus menarik tangan Zefanya keluar mansion dan hanya berhenti sesaat untuk menemui Joan dan memintanya menjaga si kembar. Dalam hati Zefanya ingin memperingatkan Ezra untuk tidak terlalu berharap, karena pasti lebih sakit rasanya saat mengetahui bahwa Benjamin tidak berbohong. Tapi rasanya percuma, suaminya tipe laki - laki yang tidak mudah menyerah dan dia tak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.


Dari langkah kakinya yang lebar - lebar dan cepat, Zefanya bisa merasakan bagaimana terburu - burunya Ezra. Dia berusaha mengikuti kecepatan langkah Ezra meski sedikit terseok.


"Ups! Maafkan aku, Aunty." ucap Ezra terkejut.


Sesaat mereka berhenti karena hampir saja menabrak Aunty Laura yang baru saja turun dari mobil dan mau masuk ke dalam mansion.


"Oh, Ezra, Zie, bagaimana kabar Louisa? Apakah sudah lebih baik?" tanyanya sambil mengelus d-a-d-a karena terkejut. Keponakan dan suaminya tampak berjalan tergesa - gesa.


"Silahkan Aunty bersantai disini. Katakan saja pada pelayan apa pun Aunty inginkan, mereka akan menyiapkannya." Sahut Ezra sekilas.


Dia membukakan pintu mobil untuk Zefanya, miliknya lalu membukakan pintu untuk Zefanya tanpa memberi kesempatan pada Zefanya untuk sekedar berbasa - basi dengan bibinya.


"Maaf, Aunty. Ada hal penting yang harus kami lakukan saat ini. Kita akan bicara nanti." pamit Zefanya merasa tak enak kepada saudara kembar Mamanya itu.


Begitu pintu ditutup Ezra langsung menginjak pedal gas dalam - dalam dan memacu mobilnya menuju ke pastoran yang letaknya masih satu lokasi dengan rumah sakit tempat dimana Benjamin di rawat pada hari - hari terakhir hidupnya.


Dari kaca spion, Zefanya bisa melihat raut wajah terkejut Aunty Laura. Belum pernah selama ini Ezra menyopir dengan ugal - ugalan seperti ini, apalagi masih di lokasi mansion. Pria di sebelahnya mereka kenal sebagai laki- laki yang memiliki emosi stabil dan berpikiran jernih, hanya hal - hal yang berhubungan dengan Zefanya yang bisa membuatnya kalut.


Sepanjang perjalanan Ezra tidak bicara apa pun, fokusnya hanya pada jalanan dan tempat yang dituju olehnya. Zefanya mengamati raut wajah Ezra yang tegang, wajahnya menggambarkan penolakan keras terhadap kenyataan pahit yang baru saja di dengar olehnya.


Sedikit banyak sikap Ezra mulai mempengaruhi Zefanya. Sejak remaja Zefanya sudah menunjukkan rasa kagumnya pada Ezra secara terang - terangan, dan selama itu pula Mamanya tidak berkata apa pun kepada dirinya. Bahkan tidak pernah melarangnya jatuh cinta pada Ezra. Pasti ada penjelasan untuk pengakuan Benjamin Halley.


Perjalanan terasa semakin mencekam ketika mereka sudah hampir tiba di sebuah kompleks gereja dan rumah sakit. Ezra sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, sementara Zefanya memilih berdoa dengan sungguh - sungguh, semoga Tuhan memberi kesempatan mereka untuk terus bersama.


"Maaf, Tuan Halley. Pastor Markus sedang berada di rumah sakit." kata penjaga pasturan.


"Apakah anda tahu jam berapa beliau pulang?" tanya Ezra tak sabar.


"Pastur hanya berpamitan kalau ada seseorang yang minta didoakan karena salah seorang anggota keluarganya yang sedang kritis."

__ADS_1


Zefanya tak tahu harus lega atau sedih. Setidaknya dirinya bisa menunda kepastian kabar buruk meski hanya semalam. Berbeda dari Zefanya, di sebelahnya Ezra mengusap wajahnya dengan telapak tangan, frustasi.


"Kami akan menunggu di mobil, Sir." putus Ezra. Percuma pulang ke rumah, dia pasti tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.


Penjaga menganggukkan kepala saat Ezra kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir di lahan parkir yang disediakan oleh yayasan.


"Ezra?"


"Hm?"


"Apakah sebaiknya kita pulang saja dulu?"


Ezra tak merespon, Zefanya memutar otak. Ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya yang tentu saja akan menyinggung perasaan Ezra.


"Bolehkah malam ini aku tinggal di hotel?" tanya Zefanya ragu - ragu.


"Tidak! Kamu akan tinggal bersamaku selamanya. Kita tidak hanya perlu menanyakan pada pastur tapi juga harus melakukan tes DNA untuk memastikan apakah kita masih satu ayah atau tidak karena itu cara yang paling tepat untuk membuktikan perkataan ayahku."


"Kenapa tidak bisa?"


"Aku khawatir... "


"Aku tidak akan menyentuhmu sampai hasil test DNA itu keluar, kalau itu yang kamu khawatirkan." potong Ezra cepat.


"Tapi, Ez... Kata - kata ayahmu begitu meyakinkan."


"Tapi aku tidak pernah mendengar ayahku mengatakan apa pun kepadaku soal hubungan kita. Hari dimana aku menghajar adikku karena membelamu, hari itu juga aku mengaku kalau aku jatuh cinta padamu."


"Lalu apa kata ayahmu?"


"Dia tak bereaksi apa pun. Kalau memang benar kamu adalah adikku, seharusnya dia langsung melarangku saat itu juga. Lalu bagaimana dengan ibumu sendiri?" Ezra bertanya balik pada Zefanya.


Zefanya termangu. "Mama? Mama tak pernah berkomentar apa pun saat aku berkata kalau impianku adalah menjadi Nyonya Ezra Halley." Ekspresinya tampak sedang mengingat - ingat kejadian di masa lalunya. Saat itu mama Zefanya hanya tersenyum dan mengusap lembut rambutnya.

__ADS_1


"Nah! Kalau memang kita adalah kakak beradik. Kenapa mereka tidak mencegahnya lebih dahulu?"


"Ini adalah skandal, Ezra. Tak seorang pun ingin keburukannya dibongkar di depan publik. Apalagi ayahmu adalah pengusaha terkenal di kota ini."


Zefanya berhenti sejenak, dia mulai terpancing untuk menganisa kembali peristiwa demi peristiwa yang telah mereka lalui. "Tapi kita menikah sembunyi - sembunyi dari orang tua kita. Bisa saja mereka masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Sebelum mereka sempat memberitahu, kita sudah secara resmi menikah."


"Coba kamu ingat - ingat lagi. Kita menikah diam - diam hanya karena ayahku mau kamu wisuda dan bekerja lebih dahulu. Tapi kamu tak mau lepas dariku. Setiap kali ada kesempatan, kamu selalu menginap di mansion. Itu tidak baik, Zie. Jadi, aku memilih menikahimu secepatnya."


"Ya. Dan, menurut perhitunganmu ayahmu tidak akan tega memisahkan pasangan yang sudah resmi menikah."


"Tepat sekali. Yang aku tahu ayahku tidak akan setega itu membiarkanku terjerumus dalam dosa. Kalau memang kamu adalah adikku, pasti ayahku sudah membahas masalah itu denganku."


Sebuah harapan merekah di hati Zefanya, perasaannya sedikit melambung saat mendengarkan analisa Ezra. Memang benar, dalam beberapa kasus, orang yang hampir meninggal sering meracau.


"Tapi ada satu fakta yang baru aku ingat." ujar Ezra lagi.


"Apa? Cepat ceritakan padaku!"


Kali ini rasa ingin tahunya melambung. Semangat Ezra untuk tetap bersama membuat Zefanya juga ingin segera menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya kemungkinan ayahku berpaling dari ibuku sangat besar. Ibuku sakit - sakitan dan tampaknya kurang memberi perhatian pada ayahku."


Bahu Zefanya luruh, baru saja dia senang karena ada kemunginan omongan Benjamin salah. Tapi kelanjutan kata - kata Ezra membuat Zefanya ketakutan sendiri.


Saat kekhawatiran tergambar jelas di wajah istrinya, Ezra kembali meyakinkan.


"Setelah mendengar ceritamu dan menelaah semuanya, aku justru semakin yakin kemungkinan ayahku hanya meracau dan kebetulan kamu ada disana."


"Apa kamu sedang berusaha menghiburku, Ez?"


Ezra menggeleng. "Memangnya ada kemungkinan masuk akal lain selain apa yang aku katakan?"


Zefanya tercenung. Semakin dia memikirkan kata - kata Ezra, semakin ingin dirinya mempercayai keyakinan Ezra kalau ayah mertuanya saat itu hanyalah meracau.

__ADS_1


__ADS_2