Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 25 -- An Advice


__ADS_3

"Mungkin itu sebabnya kami menikah diam - diam tanpa restu dari ayah mertuaku... Hari itu kami melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan siapa pun dan langsung berangkat ke Maldives setelahnya untuk honeymoon."


Dokter Sandra ternganga. Sesaat dia terdiam, mengumpulkan kembali kata - kata yang seolah menghilang begitu saja dari kepalanya. Kemudian dia menggeleng - gelengkan kepala.


"Ternyata ini adalah akar dari semua permasalahan yang ada, terlalu banyak hal yang sudah kalian sembunyikan." keluhnya, setelah berhasil menjernihkan kembali pikirannya.


"Tapi Ezra bermaksud memberitahu semuanya kepada ayahnya setelah kami menikah!" sahut Zefanya membela diri.


"Dan sebelum sempat mengakuinya, Tuan Benjamin terlebih dahulu mengaku dosanya di hadapanmu? Apa benar begitu?"


Zefanya diam, dan bagi dokter Sandra diamnya wanita muda itu adalah jawaban.


"Kalau begitu, sudah waktunya anda membongkar semuanya."


"Tapi... "


"Mau tunggu kapan lagi? Tutup mulut hanya membuat suamimu semakin terluka. Lagipula, dosa kedua orang tuamu akan bertambah kalau kamu tidak segera menghentikan kesalahan ini. Apa kamu tidak takut akan karma? Bagaimana kalau semua ini akan berlanjut ke anak - anak kalian?" Dokter Sandra memperingatkan Zefanya dengan sungguh - sungguh.


Peringatan itu tidak hanya membuat bulu kuduk Zefanya meremang, tapi juga gemetar ketakutan. Bayangan akan tumbuh kembang anak - anak mereka di masa depan benar - benar membuat Zefanya cemas. Banyak kata andaikata tercetus di kepalanya. Meski begitu, masih ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menceritakan semua ini pada suaminya atau kakak laki - lakinya. Entahlah, kalau boleh jujur Zefanya bingung harus menganggap Ezra sebagai apa.


"Dokter... " Zefanya menelan ludah. "Masalahnya tidak semudah itu. Ada nama baik dan reputasi keluarga yang harus dipertaruhkan. Bagaimana dengan nasib saudara - saudara kami ketika skandal ini terkuak? Keluarga Halley dan keluargaku cukup dikenal di kota masing - masing. Bagaimana reaksi rekan bisnis Ezra, teman - teman dan kenalan di London mau pun Eropa?"


"Dokter... " Kali ini Zefanya menangkup telapak tangan Dokternya sambil menatap penuh permohonan. "Saat ini, hanya kita berdua yang tahu rahasia mengerikan ini. Aku... , aku benar - benar tidak berani mengambil resikonya. Lebih baik Ezra patah hati karena perceraian. Setelah itu dia akan pulih dan melanjutkan hidupnya."

__ADS_1


"Astaga! Anda tahu kalau itu tidak akan terjadi, Nyonya." bantah dokter Sandra. "Berbulan - bulan aku menyaksikan sendiri seorang Ezra Halley yang terkenal kokoh menghadapi lawan bisnisnya, duduk dengan tak berdaya di sisi tempat tidurmu. Tuan besar Halley group yang biasa tegas terhadap seluruh karyawan, dengan lembutnya menenangkan anda setiap kali anda bermimpi buruk. Setiap hari membisikkan kata - kata motivasi di telinga anda yang sedang koma supaya anda cepat sadar."


Dokter paruh baya itu meneteskan air mata dan mengusapnya dengan cepat. "Cintanya padamu begitu luar biasa. Seluruh dokter dan perawat adalah saksinya." Lalu dokter itu mere-mas lengan Zefanya dan kembali menasehati dengan sungguh - sungguh.


"Kalau anda benar - benar mencintainya, seharusnya anda mengatakan yang sebenarnya. Ini hanya pendapatku, Nyonya. Orang tua kalian sudah meninggal, mereka tidak akan merasa marah atau oun sakit hati lagi karena hal ini. Lalu soal skandal? Skandal akan mereda seiring dengan berjalannya waktu, kita tidak hidup dari mereka yang bergosip. Satu - satunya cara untuk membuat suamimu membuka mata adalah tahu akan kebenaran, barulah mau tidak mau dia melepaskanmu. Setelah itu dia akan berusaha move on dan kalau mau baru dia bisa jatuh cinta pada orang lain."


Zefanya tidak bisa merespon kata - kata dokter Sandra, yang dilakukannya hanyalah memandang dokternya dengan tatapan putus asa. Dokter Sandra tidak berhenti menasehatinya.


"Sebaliknya, kalau anda tetap menyimpan rahasia ini maka suami anda akan terus terpenjara dalam perasaan cintanya. Sampai disini, apa anda bisa memahami maksud saya?"


Tubuh Zefanya menegang. Tentu saja tidak mudah menghilangkan perasaan cinta pada seseorang setelah sekian banyak hal dilewati bersama.


"Tapi, kalau Tuan Benjamin menganggap puteranya mampu menghadapi kenyataan ini seharusnya dia berterus terang pada Ezra. Dan bukannya aku!" bantah Zefanya lagi.


"Ha?"


Zefanya tercengang. Ini adalah pertama kalinya dokter Sandra memaki setelah berbulan - bulan mereka berinteraksi. Pembawaan yang tenang dan cara bicaranya begitu teratur adalah point lebih yang berhasil membuat Zefanya nyaman.


"Dari ceritamu, pikiran pertama yang ada dibenakku tentang Benjamin Halley adalah dia itu pria egois! Dia tidak peduli bagaimana kelanjutan hidup putera puterinya setelah pengakuan itu, lalu dengan enaknya dia tidur dengan tenang." geram dokter Sandra.


Dia ikut merasakan kemelut yang dirasakan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai ini. Rasanya tidak adil kalau dosa orang tua ditimpakan kepada anak - anak yang tidak tahu menahu apa pun. Kemana orang tua itu saat Ezra dan Zefanya pendekatan, tidakkah mereka mencium sesuatu? Dan kini saat keduanya sudah jatuh cinta begitu dalam, tiba - tiba saja mereka dihadapkan oleh sebuah perpisahan. Benar - benar kejam!


"Aku yakin sedikit banyak Tuan Benjamin mengenal sifatmu. Tidakkah kamu merasa dia hanya memanfaatkan anda?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Dia yakin anda pasti akan menghilang bersama rahasia ini. Anda tidak akan tega menceritakan semuanya pada Ezra. Dan, ternyata seperti itulah yang terjadi."


Zefanya menggigit - gigit bibirnya dengan cemas.


"Aku tidak bisa, dokter. Aku tidak sanggup melihat perasaan Ezra hancur karena tahu hal ini. Ezra sangat mengagumi ayahnya. Baginya, Tuan Benjamin adalah laki - laki yang terhebat."


"Pikirkanlah lagi, Nyonya. Saya hanya bisa memberi saran. Lebih baik anda menjaga perasaan orang - orang yang anda cintai dan masih hidup demi kelangsungan hidup mereka di depan. Daripada menyimpan kesalahan masa lalu orang yang sudah tidak ada. Maafkan, saya tidak bermaksud lancang. Hanya saja saya ikut emosi atas ketidak adilan ini."


Zefanya menatap mata dokter Sandra lekat - lekat.


"Berjanjilah demi sumpah jabatanmu! Berjanji kalai kamu tidak akan membeberkan fakta ini kepada siapa pun."


Dokter Sandra menggeleng. "Sebagai dokter aku sudah terikat sumpah untuk tidak membeberkan apa pun yang diceritakan oleh pasienku yang merupakan hal - hal pribadi bersifat rahasia. Tapi saya benar - benar berharap kalau anda memperhatikan peringatanku ini. Tenang saja, aku berada di pihakmu. Dan, akan selalu di pihakmu." tegas dokter Sandra sambil beranjak menuju pintu. Sebelum meninggalkan tempat ini, dia menghela napas.


"Saya harus pergi sekarang. Kamu tahu kemana harus mencariku bila butuh teman bicara."


"Ya. Terima kasih, Dokter."


Setelah dokternya pergi, otak Zefanya mulai berputar cepat menyusun rencan demi rencana yang akan dilakukan terhadap anak - anaknya. Pertama, dia harus menghubungi dokter anak yang menangani si kembar. Dokter anak pasti akan menyarankan serangkaian tes yang bisa dilakukan untuk memastikan kesehatan anak - anaknya.


Tapi, tunggu! Alasan apa yang akan dia katakan pada Ezra saat membawa anak - anaknya itu ke dokter anak?

__ADS_1


__ADS_2