Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 43 -- Farewell Party


__ADS_3

Pesta Perpisahan


Acara makan malam diadakan di ruang makan utama yang luas, tempat dimana Ezra biasa mengundang rekan - rekan bisnis atau orang penting lainnya. Teman - teman Louise dan Zefanya sudah berkumpul disana. Mereka terlihat menikmati acara. Tertawa, bercerita, saling menimpali dan mengejek layaknya teman baik. Masa lalu mulai diungkit dan dikaitkan dengan masa sekarang. Pembicaraan mengalir begitu saja hingga mulai membahas tentang tuan rumah dan anak - anak mereka.


Louise tertawa lepas bersama teman - teman dekatnya yang sama - sama tertarik pada Ezra di masa remaja mereka. Tanpa malu mereka membicarakan kekonyolan mereka di masa lalu.


"Tapi sudah jelas Zefanya yang paling tergila - gila pada Ezra." ujar seorang wanita cantik berambut cokelat terang bernama Amanda.


"Kamu benar. Setiap kali bertemu, dia tidak punya topik pembicaraan lain selain Ezra." sahut teman lainnya yang berambut sebahu.


Louise menepuk bahu wanita itu dan memberikan segelas minuman. "Apa kamu tahu, Mandy? Adikku ini selalu membawa - bawa foto Ezra kemana pun dia pergi." ujar Louise sambil terbahak.


Zefanya memutar bola matanya kesal, kakaknya pasti mabuk hingga tega membeberkan semua rahasianya. Padahal selama ini rahasia itu hanya diketahui oleh mereka berdua.


"Apa kamu tahu doa yang diucapkan Zie setiap kali dia berulang tahun?" tanya Louise kepada Ezra.


Dia menarik kepala Ezra mendekat kepadanya lalu berbisik. "Dia selalu berdoa semoga bisa menjadi Nyonya Halley dan tinggal di mansion bersamamu selamanya. Lebih gilanya lagi, cita - cita-nya adalah ingin punya empat anak laki - laki yang wajahnya mirip denganmu."


Bisikan Louise pelan namun bisa di dengar jelas oleh orang - orang di sekitar mereka hingga semua tertawa. Tawa yang berhasil membuat wajah Zefanya memerah hingga ke telinga. Malu.


"Kembar dua adalah pertanda baik kalau keinginanmu akan terkabul, Zie." Mandy menimpali sambil mengerling ke arah Ezra. Candaan itu disambut dengan tawa renyah teman - teman Zefanya yang lainnya.


Suasana yang meriah justru membuat Zefanya merasa tertekan. Tak seorang pun tahu kalau perasaannya terhadap Ezra harus diakhiri dengan paksa. Sementara di hadapannya Ezra menatap dalam - dalam istrinya. Dia tak pernah berencana untuk menyudutkan istrinya tapi tak bisa dipungkiri, dirinya menikmati setiap kata yang diucapkan oleh Louise.


'Semua orang, termasuk aku, tahu bagaimana kamu pernah tergila - gila kepadaku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu mengambil keputusan yang keliru, Ma Moitie?'

__ADS_1


Ungkapan hati Ezra seperti menembus batin Zefanya. Wanita itu menunduk, tak berani membalas tatapan tajam Ezra. Perasaannya benar - benar kacau. Zefanya merasa dite-lan-ja-ngi, malu, sedih bercampur frustasi. Tak ada seorang pun yang mengerti posisinya, semua orang memojokkan dirinya. Sahabat dekatnya termasuk Louise bahkan terang - terangan mengatakan iri kepadanya karena berhasil memenangkan hati Ezra.


Ruangan yang luas itu terasa sesak bagi Zefanya, rasanya bernapas pun sulit. Tak mampu menanggung rasa sakit yang kian menghujam batinnya, Zefanya berdiri.


"Maafkan aku karena harus meninggalkan kalian sebentar. Aku mau ke toilet." gumamnya sambil langsung meninggalkan ruangan tanpa menunggu respon mereka.


Zefanya langsung menuju kamar anak - anak untuk menenangkan hati sekaligus melihat keadaan mereka. Di kamar, Louisa sedang menangis dengan wajah merah. Zefanya menyentuh dahinya dan terasa hangat. Sekali lagi Zefanya menghembuskan napas lega bercampur rasa bersalah.


Sekarang giliran Louisa yang demam, tapi dia malah merasa senang karena menemukan alasan untuk tidak kembali ke acara makan malam. Zefanya. Saat itu juga, Zefanya memutuskan untuk tetap tinggal dan mengurus puterinya.


Tak lama Ezra muncul. Dia menghampiri Zefanya dengan langkah - langkah lebar dan raut wajah yang gelap.


"Apa yang kamu lakukan disini, Zefanya Halley?" geramnya.


Nyali Zefanya ciut. Ezra memanggilnya dengan nama lengkap saja sudah pertanda kalau laki - laki itu marah dan kali ini nada suaranya terdengar seperti singa yang sedang mengaum. Pertama kali dalam hidup, Zefanya mendengar Ezra berkata dengan nada kasar. Merasakan aura kemarahan sang ayah, Louisa menggenggam erat bagian atas dress yang dikenakan oleh Zefanya.


Memang tadi wajah Louisa sedikit memerah tapi Zefanya pikir pipi puterinya memerah karena udara dingin di tepi danau.


Ezra menempelkan tangannya ke dahi Louisa, ekspresinya masih datar. Pertanda amarahnya belum reda.


"Ya, Tuhan! Suhu tubuhnya panas sekali."


Ekspresi marah yang tergambar di wajah Ezra langsung berubah menjadi cemas bercampur kesal. Terlihat jelas kalau Ezra menyesali keadaan yang terjadi saat ini. Susah payah dia merancang jamuan makan malam untuk Zefanya, namun sang nyonya rumah malah menghilang. Untuk memaksanya tetap hadir pun jelas tidak mungkin, Ezra tidak mungkin tega memisahkan Louisa dengan Mamanya. Puterinya demam dan membutuhkan Zefanya.


"Aku akan menjaga Louisa disini. Bisakah kamu menemani mereka menggantikan diriku? Tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka." Pinta Zefanya pelan, suaranya terasa seperti sedang mencicit.

__ADS_1


Suasana ruangan terasa mencekam, bukan karena Louisa demam tapi sisa - sisa kemarahan Ezra yang masih terpancar dari setiap gerak tubuhnya.


"Apa kamu pikir aku ada pilihan lain?" desis Ezra menahan emosi yang menggelegak, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Zefanya. "Dan, kamu tahu benar bagaimana caranya memanfaatkan situasi seperti ini."


"Bu- bukan... Tidak seperti itu... "


"Tidak perlu menyangkal. Aku mengenalmu dengan baik. Dan aku juga mengamati gerak gerikmu, tak satu pun luput dari pengamatanku, Zie." potong Ezra cepat. Nada suaranya terdengar begitu kecewa.


"Aku tidak mengada - ada. Louisa sakit. Bukankah kamu melihatnya sendiri?"


"Dia sakit, itu adalah benar. Tapi bukan itu alasan sebenarnya kenapa kamu berada di ruangan ini." ucap Ezra penuh penekanan.


Zefanya membeku. Dia mengerti bagaimana perasaan Ezra saat ini.


"Tolonglah, Ez. Bisakah kita bicarakan ini nanti? Louisa harus segera ditangani."


Ezra mengepalkan kedua tangannya erat sambil mengucapkan sumpah serapah di dalam hati. Tak pernah dia merasa begitu marah dan sakit hati kepada Zefanya seperti yang dirasakannya saat ini.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?"


"Ezra, please... "


Ezra mengangkat tangannya, menyuruh Zefanya berhenti bicara.


"Dengarkan aku, Zefanya Halley! Kamu tidak bisa selamanya menggunakan anak - anak sebagai alasan untuk menghindari aku. Kalau selama ini aku diam, bukan berarti aku tidak tahu semua tindak tandukmu. Aku tau, bahkan sangat tahu apa saja yang ada di kepalamu. Satu - satunya alasan aku diam dan mengalah adalah aku mencintaimu dan tidak ingin membuatmu tertekan."

__ADS_1


Ezra berhenti sejenak dan memindai Zefanya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan penuh cinta itu kini berubah menjadi bara api yang siap melahap apa pun yang ada di hadapannya.


"Ingat! Malam ini belum berakhir, Zefanya Halley!"


__ADS_2