Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 20 -- A Fact


__ADS_3

"Hmmph!" Napas Zefanya tercekat saat mulut Ezra menangkup bibirnya. Shut her up with a kiss.


Gejolak dalam diri Ezra meluap, meminta untuk dituntaskan tetapi belum saatnya. Bukan seperti ini caranya, dia akan menunggu hingga Zefanya kembali nyaman bersamanya. Ezra melepaskan bibir Zefanya saat wanitanya itu berhenti berontak darinya.


Napas keduanya terengah oleh emosi yang ikut hadir diantara mereka. Mata bening Zefanya mengerjap saat tangan Ezra mengelus pipi tirus Zefanya dan berbisik. "Bagaimana mungkin aku memilih orang lain kalau aku tidak bisa hidup tanpa dirimu?"


Zefanya kehilangan kata - kata.


"Ayo, makanlah! Atau kamu mau aku cium lagi?" bujuk Ezra disertai sebuah ancaman.


Zefanya melarikan pandangannya ke lantai, malu. Bisa - bisanya dia terlena dengan lembutnya bibir Ezra.


"Buka mulutmu!" perintah Ezra lembut.


Zefanya mendongak. Sepotong daging sudah berada tepat di depan mulut Zefanya, aromanya menguar membuat cacing - cacing di perutnya mulai memberontak.


"Ma moitie?"


Panggilan Ezra menusuk perasaannya, rasa bersalah kembali menyergap. Tanpa melihat pun, Zefanya merasakan tatapan penuh cinta dari Ezra. Laki - laki itu tidak berubah, masih mencintainya.


Dengan sedih, Zefanya membuka mulut menerima suapan dari Ezra. Lelakinya itu tersenyum puas. Dengan telaten Ezra terus menyuapi Zefanya hingga potongan daging terakhir. Lalu dia memotong cheesecake dan kembali menyuapi Zefanya yang hanya pasrah hingga makanan dan minumannya habis.


"Ayo!" Ezra mengulurkan tangan untuk membantu Zefanya berdiri.


"Ya?"


"Sesuai janjiku, aku akan menunjukkan sesuatu padamu."


Melihat Zefanya ragu - ragu, Ezra menarik tangan istrinya keluar dari kamarnya. Wanita keras kepala ini memang sekali waktu harus sedikit dipaksa. Langkah Zefanya terhenti, dia hafal betul mansion Ezra hingga setiap sudutnya. Arah ini menuju ke sebuah ruangan yang sama sekali tidak ingin dikunjungi olehnya saat ini. Ruangan si bayi!

__ADS_1


"Zie?"


"Aku... mau kembali ke kamar saja. Aku lelah." tolak Zefanya, tiba - tiba saja dia merasa takut dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Ezra. Dirinya tidak siap berhadapan dengan sesuatu yang menyakitkan hatinya.


Namun Ezra tak menerima penolakan, sekali dia mau maka itulah yang akan terjadi. Dia menunduk dan menggendong Zefanya dengan posisi seperti menggendong sebuah karung, membawanya menuju kamar bayinya.


"Ezra! Turunkan aku!" seru Zefanya panik.


Ezra tak merespon apa pun. Dia terus membawa Zefanya menuju ke ruangan yang ditujunya. Tiba disana Ezra langsung menurunkan Zefanya tanpa melepas tangan istrinya, khawatir istrinya kabur. Wanita ini sering melakukan hal diluar dugaan akhir - akhir ini, Ezra tak mau kecolongam lagi.


"Terima kasih, Lissa. Kamu bisa kembali ke kamarmu dan beristirahat." perintah Ezra pada pengasuh yang sedang stand by disana.


Setelah memastikan Zefanya tidak akan kemana - mana, Ezra membimbing Zefanya menuju tempat tidur bayi. Makhluk mungil itu terlihat sedang asyik berguling - guling disana. Begitu melihat Ezra, tangan kecil itu langsung menggapai - gapai. Matanya berbinar ceria, tampak seperti sudah menunggu - nunggu Daddy-nya datang.


Ezra melepaskan tangan Zefanya, lalu dengan lembut mengangkat bayi itu dan menimangnya sebentar. Kemudian dia berkata lembut pada si bayi.


"Sayang, aku akan memperkenalkanmu pada seseorang. Kamu pasti akan menyukainya."


"Perhatikan Louisa baik - baik!" perintah Ezra dengan lembut tapi tegas. "Terutama, lihatlah warna matanya campuran coklat terang dengan sedikit hijau dan oranye. Warna mata hazel yang hanya dimiliki oleh lima persen populasi di dunia. Dari matanya saja, kamu seharusnya tahu siapa ibu kandung anak ini."


Beberapa kali mata Zefanya mengerjap bingung saat menatap dengan intense bayi perempuan di hadapannya.


'Mata hazel? Dan ada lingkar coklat di pupil bayi bernama Louisa itu.'


Zefanya ingat kalau Ezra sering mengatakan kalau mata merah kecoklatan ini termasuk salah satu warna unik, biasanya dimiliki oleh orang-orang Timur Tengah, Afrika Utara, Brazil, dan Spanyol. Dan itu adalah ciri khas favorite di dalam dirinya yang paling disukai oleh Ezra. Masih ada darah Spanyol di dalam diri Zefanya.


Dengan kepala tengadah, Zefanya menatap Ezra tak mengerti. Tatapan penuh tanya itu membuat raut Ezra menggelap. Suram.


"Saat Dokter Sandra menunjukkan foto - foto bibi dan kakakmu, kamu langsung mengingat mereka." Ezra menghembuskan napas dengan berat. "Awalnya aku berharap kalau kamu akan langsung mengenali Louisa saat melihatnya langsung. Aku terus berdoa supaya kamu sadar kalau dia adalah puteri kita. Puteriku dan juga puterimu, Zie."

__ADS_1


Zefanya terguncang.


Dia berdiri mematung di hadapan Ezra, perlahan tangannya berpegangan pada tempat tidur bayi yang ada di dekatnya. Lututnya lemas. Menyadari kondisi Zefanya, Ezra segera memapahnya ke kursi dengan satu tangan. Sementara tangan satunya menggendong Louisa kecil yang sibuk mengoceh dalam bahasa bayi.


Tunggu, tunggu! Zefanya merasa harus memproses kembali kejadian demi kejadian. Ada banyak hal yang hilang dari memory-nya, semua tumpang tindih.


"Dia... bayi kita?" gumam Zefanya antara sadar dan tidak, mencoba menkonfirmasi sekali lagi pernyataan Ezra.


"Yes, Ma Moitie. Dia anak kita, anak kandung. Buah cinta kita. Usianya enam bulan, kalau dihitung - hitung dia pasti mulai dikandung saat bulan madu kita."


"Tidak! Tidak mungkin!" Zefanya menggeleng - gelengkan kepala, menolak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Tapi ini yang sebenarnya, Sayang." tegas Ezra. "Kamu bisa mengeceknya sendiri di rumah sakit tempat dia dilahirkan. Aku bisa menunjukkan semua data mereka, termasuk nama dokter yang menanganinya saat lahir."


Ezra membungkukkan badan dan meletakkan Louisa ke pangkuan Zefanya. Laki - laki itu mengusap - usap kepala bayinya sambil membiarkan Louisa menggenggam jarinya supaya tidak menangis.


"Lihatlah baik - baik, Zie! Kamu akan menemukan miniatur dirimu di dalam diri Louisa. Senyumnya, mata hazelnya. Mirip dirimu, iya kan?"


Zefanya termangu. Tatapannya tidak bisa lepas dari bayi yang ada di pangkuannya. Bayi yang sangat cantik. Bukannya bahagia, Zefanya malah tergugu saat mengenali ciri - ciri dirinya melekat pada Louisa. Iya, bayi ini adalah anaknya. Dan anak Ezra.


"Tidak!!!" pekik Zefanya histeris. "Tidak, tidak... jangan!" Lanjutnya lagi, kali ini nada suaranya lebih mirip dengan sebuah bisikan yang sarat ketakutan.


Detik berikutnya, Zefanya menghempaskan bayi tak bersalah itu ke pelukan ayahnya. Setelah itu dia berlari keluar kamar tanpa menoleh lagi.


"Zefanya! Stop! Kembalilah!" teriak Ezra dibarengi dengan tangisan terkejut Louisa.


Bayi malang itu tidak hanya terkejut karena teriakan Ezra tapi juga karena dihempaskan secara tiba - tiba oleh Zefanya.


Tiba di kamar, Zefanya langsung menuju ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Dia mengamati bayangan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia tidak tahu kalau pernah melahirkan? Disingkapkannya blouse yang dia pakai, lalu mengamati bagian bawah perutnya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan!" keluhnya penuh sesal.


__ADS_2