
Ezra bergeming ketika mendengar Zefanya mempersilahkan dirinya untuk duduk. Bukan seperti ini yang diinginkannya. Kemana Zefanya yang selalu memujanya? Menatapnya penuh cinta dan hampir tak pernah bisa berhenti menyentuh dirinya?
Manisnya sentuhan bibir Zefanya dan hangatnya tubuh mungil istrinya seakan hanya sebuah halusinasi di masa lalu. Rahang Ezra mengeras dan kedua tangan mengepal di samping tubuh, menahan sakit yang menghujam di dada.
"Seperti inikah sambutanmu padaku yang sudah menderita setengah tahun lamanya hidup dalam neraka?" desis Ezra sarat dengan emosi.
Sekali lagi Zefanya menguatkan hati, menepis segala rasa iba yang menggerogoti batinnya. "Aku hanya menjaga sopan santun diantara kita. Terlalu banyak yang terjadi. Dari Dokter Sandra aku tahu kalau kita belum bercerai. Dan aku juga baru tahu kalau untuk keluar dari sini, aku memerlukan tanda tangan darimu."
Zefanya mendapati setiap kata yang diucapkannya perlahan - lahan membuat raut Ezra kian berubah, pias. Zefanya juga berdoa dalam hati supaya semua ini bisa segera berakhir, cukup sudah dia menyakiti laki - laki baik di hadapannya. Dia tak seharusnya mendapatkan semua ini.
Melihat Ezra tak merespon, Zefanya melanjutkan kata - katanya. "Itulah sebabnya aku menelponmu dan ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Aku tak menginginkan apa pun selain kebebasanku. Hal - hal lain sudah aku jelaskan di surat yang aku kirim lewat pengacara."
Dada Ezra terlihat naik turun dengan cepat, seolah - olah dia menahan sesuatu yang ingin meledak. "Untuk alasan apa kamu ingin berpisah denganku?" tanya Ezra, suaranya seperti sedang tercekik.
Zefanya menautkan jari - jarinya, menguatkan diri untuk tidak pingsan seperti sebelumnya. Dia harus kuat atau Ezra tak mungkin mengijinkannya keluar dari sini. Ketakutan mulai menyergap Zefanya, namun ingatan bahwa perceraian ini adalah keharusan membuatnya merasa lebih kuat.
"Aku tahu kalau aku tak akan bisa membohongimu, Ez. Jujur aku tak punya dasar apa pun untuk menceraikan dirimu." akhirnya Zefanya memilih untuk berterus terang.
Bahu Ezra meluruh, cahaya di matanya kian redup. Sakit hati yang dalam tergores terlihat nyata di manik matanya yang gelap. Ucapan Zefanya yang apa adanya, menancap tajam ke dalam hatinya. Nyeri.
Menegarkan hati, Zefanya bangkit menghampiri Ezra dan mendongak. Tubuh Ezra tinggi besar sedangkan Zefanya hanya mencapai bahu laki - laki itu. "Maafkan aku. Aku mencintaimu, Ez. Sangat mencintaimu, jangan pernah meragukan aku soal itu. Tapi ternyata aku menyadari kalau aku belum ingin menikah. Aku menyesal terikat dalam sebuah pernikahan. Bolehkah aku kembali ke Edinburg dan melanjutkan hidupku?" ucap Zefanya setenang mungkin. Dia sengaja menggunakan nada memohon seperti yang biasa dilakukan olehnya setiap kali menginginkan sesuatu dari Ezra.
__ADS_1
Ezra berdiri tak jauh dari Zefanya, menelusuri setiap inchi wajah istrinya dengan tatapan tak percaya. Sekuat tenaga menahan emosi yang meluap di dalam dada. Zefanya berkata mencintainya tapi ingin bercerai. Sungguh sebuah pernyataan yang kontradiktif. Cinta macam apa yang menginginkan sebuah perpisahan?
Laki - laki itu berdehem, tapi suaranya masih terdengar serak sarat oleh emosi. "Kenapa?" geramnya.
"Aku yang salah, Ez. Aku yang keliru memutuskan untuk menikah denganmu dan aku benar - benar menyesalinya. Kamu tak bersalah apa pun. Seluruh cinta dan perlakuanmu kepadaku adalah yang terbaik yang kudapatkan dalam hidup. Tapi aku tidak pantas mendampingimu seumur hidup." Zefanya diam sejenak dan berbisik dalam hati. 'Aku tidak bisa dan tak boleh.'
Tak dapat menahan diri lagi, Ezra mencengkeram kedua lengan Zefanya. Cengkeramannya begitu erat, menggambarkan bagaimana sakit hatinya saat mendengar ucapan Zefanya.
Tapi hanya itu, Ezra tak bisa berkata apa pun. Dia menatap dalam - dalam ke manik mata Zefanya seakan ingin mengorek semua isi hati istrinya itu sambil mencoba memproses semua informasi yang baru di terimanya.
"Maafkan aku karena kabur. Itu semua aku lakukan karena aku tahu kalau kamu tak akan pernah mengijinkan aku pergi meninggalkanmu."
"Kamu benar." sahut Ezra cepat. "Setelah apa yang aku lalui selama ini, melihatmu tumbuh dari seorang gadis kecil hingga menjadi wanita dewasa. Bagiku, apa yang kamu lakukan itu adalah hal yang tak masuk akal. Aku tahu dengan jelas bagaimana kamu tidak bisa hidup tanpa diriku."
Zefanya menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Terima kasih untuk semua yang kamu berikan padaku. Honeymoon di Maldives yang indah. Tapi kita harus kembali pada kenyataan kalau aku tak bisa lagi bersamamu."
"NO! STOP IT!"
Ezra mengaum seperti singa yang kesakitan, dia marah dan tak ingin ditinggalkan dengan cara seperti ini. Bendungan yang dibangunnya jebol, air mata tumpah. Mengalir di wajahnya tanpa bisa dibendung. Dia sama sekali tidak malu menangis di depan Zefanya. Putus asa dan tak tahu harus bagaimana supaya Zefanya mengurungkan niatnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu begini?" bisiknya dengan hati yang hancur.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya ingin bercerai denganmu." tegas Zefanya setelah berhasil membuang rasa ibanya.
Ezra menggelengkan kepala kuat - kuat sambil terus menggumamkan kata tidak. Dia seperti kehilangan akal. Detik berikutnya, Ezra menarik pinggang Zefanya dan memeluknya erat.
Zefanya berusaha berontak. "Lepas! Lepaskan aku!"
"No! No! Never!" Ezra terus menggeleng, dia mengunci Zefanya di dalam pelukannya. Begitu erat hingga rasa - rasanya ingin meleburkan dirinya dengan Zefanya. "Aku mohon jangan pergi. Please, stay with me. Apa pun masalahnya, aku janji akan mencari solusi untukmu. Anything for you, Ma Moitie. Tapi tidak dengan perceraian."
'Anything for you, Ma Moitie.'
Kalimat itu menyentuh bagian paling sensitif dalam hati Zefanya. Dia tahu Ezra selalu menepati ucapannya. Segalanya untuk Zefanya. Namun informasi yang diterima sebelum kecelakaan telah memutar balikkan dunianya. Tubuhnya ingin menuruti perasaannya tapi logikanya berkata kalau pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan. Dan, dosa.
Dia tak bisa melawan saat Ezra menempelkan bibirnya ke bibir Zefanya, mencoba menguji kelemahan wanita itu. Zefanya hanya pasrah menerima setiap kebingungan, kemarahan dan sakit hati yang tersalur dalam setiap gerakan bibir Ezra.
Setelah beberapa lama berbagi rasa sedih, Ezra melepaskan bibir Zefanya dan berkata, "Jangan berani meninggalkan aku. Percuma. Karena aku akan terus mencarimu. Tak peduli kamu kemana, aku akan menemukanmu." ancam Ezra.
Zefanya kembali berontak, dia tak boleh hanyut dalam perasaannya. Sekuat tenaga, dia memperingatkan diri untuk tidak berbuat bodoh lagi. Tapi Ezra adalah Ezra. Dia benar - benar tak mau melepaskan Zefanya dari pelukannya.
'Please, Ezra. Bersamaku, bahagia itu hanyalah ilusi. Semua akan berakhir dengan dosa.'
Zefanya mulai menangis. Sekuat apa pun dia berusaha melepaskan diri, Ezra lebih kuat darinya. Tubuhnya mulai bergetar dan lututnya terasa lemas.
__ADS_1
Mengerahkan seluruh kekuatannya, Zefanya berseru, "Dengan atau tanpa ijinmu, aku akan keluar dari tempat ini. Besok!"