Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 44 -- A Plan


__ADS_3

Sebuah Rencana


"Ingat! Malam ini belum berakhir, Zefanya Halley!" Ezra tersenyum miring lalu berbalik badan dan meninggalkan Zefanya.


Zefanya menghembuskan napas lega saat mendengar suara langkah suaminya menjauh. Tubuhnya tiba - tiba saja lemas tak bertenaga sampai - sampai dipeluknya Louisa erat - erat, khawatir puterinya itu lepas dari gendongannya. Setelah ketegangannya mengendor, Zefanya mulai menangani puterinya.


Pertama - tama dia memberi obat penurun panas kepada Louisa, kemudian membawa anak yang sedang demam itu ke kamarnya. Rencana Zefanya adalah Louisa akan tidur bersama dirinya di tempat tidurnya yang cukup luas untuk dipakai berdua dengan puterinya. Hal ini tentu saja lebih efisien, mengingat dirinya tak perlu lagi mondar mandir ke kamar anak - anak untuk memeriksa kondisi Louisa. Lagipula, dia juga butuh teman malam ini untuk menenangkan perasaannya dari rasa bersalah yang begitu menghimpit.


Sepertinya memang benar, pelukan ibu adalah tempat ternyaman bagi seorang anak. Setelah menghabiskan setengah botol s-u-s-u, Louisa akhirnya bisa tidur. Tak beda jauh dengan Louisa, Zefanya ikut tertidur karena lelah tubuh bercampur dengan seluruh ketegangan emosi yang dialaminya seharian ini.


Malam harinya, Louisa tidak terjaga, atau mungkin terjaga tapi Zefanya tidak menyadarinya. Entahlah. Yang jelas, Zefanya membuka mata saat hari sudah pagi. Dia tergeragap dan mendapati Louisa tidak ada disampingnya. Sudah pasti Ezra yang mengambil puteri mereka karena tak seorang pun berani masuk ke kamar saat sang nyonya sedang tidur, kecuali Ezra.


Zefanya bergidik ngeri, sepertinya dia tahu alasan terbesar Ezra masuk ke dalam kamarnya. Jauh di dalam lubuk hati, Zefanya juga merasakan bagaimana Ezra sekuat tenaga menahan ha-sr-at untuk tidak menyentuh istrinya. Andai saja situasinya tidak seperti ini, Zefanya tak akan ragu memenuhi permintaan Ezra.


Berminggu - minggu mereka berada di bawah atap yang sama dan memang Ezra tetap memegang janjinya untuk tidak tidur di kamar yang sama dengan Zefanya. Tapi kemarahan Ezra semalam bisa saja membuatnya melakukan hal diluar perjanjian. Zefanya sangat bersyukur dirinya tertidur, hingga Ezra tidak tega membangunkannya.


Kali ini dia bisa lolos dari terkaman Ezra, bagaimana dengan besok atau lusa atau tujuh hari sisanya? Pikiran itu membuat Zefanya gemetar, hatinya benar - benar gentar. Bagaimana jadinya kalau Ezra benar - benar masuk kamar tidur lalu meminta haknya sebagai suami?


Zefanya terkesiap. Hal ini tidak boleh terjadi. Dia kembali memutar otak dan mulai memikirkan apa yang harus dilakukannya saat ini.

__ADS_1


Seharian ini Zefanya kerepotan dengan Louisa yang rewel karena terserang flu. Puteri kecilnya tidak bisa tidur kalau tidak dipangku atau digendong karena hidungnya buntu. Setidaknya demam Louisa sudah mereda, jadi Zefanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kakak perempuannya.


Setelah kakaknya pergi, dia akan menjalankan rencananya. Ezra akan mengantarkan Louise dan puteranya ke airport, sementara Zefanya tak mungkin membawa Louisa pergi karena puterinya itu sedang sakit. Dia bisa beralasan akan menjaga Louisa di rumah saja, padahal sebenarnya Zefanya berencana kabur dan menghilang untuk selamanya.


Akhirnya kedua anaknya tertidur juga meski Louisa membutuhkan lebih banyak usaha untuk tidur. Zefanya melirik jam di dinding, masih ada waktu sekitar satu jam perjalanan bagi Ezra untuk kembali ke mansion dari bandara.


"Lupakan perjanjian tiga puluh hari tinggal bersama di mansion. Yang terpenting adalah meninggalkan mansion hari ini atau tidak sama sekali." batin Zefanya terus berbisik.


Saat ini mendekati waktunya tea time, Joan pasti sedang sibuk menyiapkan camilam untuknya dan Ezra. Tadi Zefanya juga sudah menyembunyikan tas kecilnya di gudang belakang supaya dia bisa langsung membawanya pergi tanpa mencolok. Kunci gerbang belakang mansion pun sudah aman di dalam saku celananya. Taxi akan menjemputnya di belakang mansion, setelah itu dirinya akan melanjutkan perjalanan ke suatu tempat di Skotlandia, yang tak pernah terpikirkan oleh Ezra.


Sempurna! Rencananya benar - benar sempurna. Sekali lagi Zefanya mencium anak - anaknya dengan mata berkaca - kaca.


"Mama selalu mencintai kalian. Bersama Papa, hidup kalian akan lebih terjamin dibanding ikut bersamaku. Maafkan Mama, Nak." bisiknya sepelan mungkin karena tak mau mengganggu istirahat Louis dan Louisa.


"Nyonya, apa anda ingin minum teh anda sekarang?" tanya Joan heran.


Tidak biasanya nyonya rumah muncul di dapur jam segini, lagipula puterinya sedang sakit seharusnya Zefanya sedang menemani di kamar anak atau beristirahat di kamarnya sendiri sambil memantau monitor CCTV kamar anak.


"Uhm, tolong siapkan di meja makan. Aku ingin menikmatinya bersama Ezra." bohong Zefanya.

__ADS_1


Senyum Joan merekah. "Saya senang kalau hubungan anda sudah membaik dengan Tuan Ezra, Nyonya." ucapnya tanpa bisa menyembunyikan ekspresinya yang penuh harap. Dia menyayangi Ezra seperti anaknya sendiri, keinginan terbesarnya adalah melihat tuan mudanya tumbuh dewasa, menikah dan berbahagia bersama keluarganya.


Hati Zefanya seperti dicubit. Dia tak hanya kabur tapi juga membohongi wanita baik hati di hadapannya. Menyedihkan sekali.


"Terima kasih, Jo."


Hanya itu yang bisa dikeluarkan dari mulut mungil Zefanya, bibirnya terasa kaku saat berusaha tersenyum.


Joan menyiapkan beberapa camilan dan meletakkannya diatas nampan lalu berjalan menuju ruang makan.


"Katakan saja kalau ada makanan lain yang ingin anda makan, Nyonya. Dengan senang hati saya akan menyiapkan." pamitnya sebelum meninggalkan ruangan.


Joan menghilang, tinggallah Zefanya yang celingukan di dapur untuk memastikan semua aman dan tidak ada yang mengawasinya. Setelah jaraknya aman, Zefanya akan menghubungi Joan untuk meminta maaf sekaligus menitipkan si kembar kepadanya.


Merasa aman, Zefanya berjingkat - jingkat menuju gudang untuk mengambil tas miliknya lalu menuju gerbang belakang. Zefanya menghembuskan napas lega, perjalanan menuju gerbang belakang begitu mulus. Tak ada tukang kebun di taman belakang, pelayan pun tak nampak termasuk petugas keamanan juga tak terlihat. Mungkin karena gerbang terkunci dengan sistem keamanan yang canggih maka mereka bisa bekerja lebih santai.


Sekali lagi dia mengedarkan pandangan, melihat suasana mansion untuk terakhir kalinya. Setelah ini Ezra akan membencinya dan tak akan sudi bertemu dengan dirinya. Setetes air mata turun di pipi, Zefanya mengusap pipi dengan punggung tangan sementara tangan satunya meletakkan tasnya di tanah dan mengeluarkan kunci dari sakunya.


"Selamat tinggal, anak - anakku. Hidupku. Kebahagiaanku." lirihnya sambil terisak.

__ADS_1


Tangannya bergetar saat membuka gembok besar yang menempel digerbang. Ezra memang memasang sandi dan sidik jari di gerbang ini tapi Zefanya tetaplah Nyonya rumah di mansion ini. Dia tahu kunci yang tepat untuk membuka gerbang. Tanpa masalah gerbang pun terbuka dengan cepat. Zefanya mengambil tas kecilnya dan mulai melangkah keluar gerbang. Belum juga dia bisa bernapas lega, saat Zefanya menutup kembali gerbang itu sebuah firasat tidak enak melingkupinya.


Jantungnya seakan berhenti berdetak merasakan...


__ADS_2