
"Ez, bisakah kamu mengabulkan permintaanku?" tanya Zefanya ragu - ragu.
Ezra menarik napas dalam - dalam sebelum memajukan posisi duduknya. Dia memandang Zefanya dengan tatapan menusuk tajam hingga menembus ke tulang belakang wanita itu.
"Kamu boleh meminta apa saja pada suamimu ini." jawabnya tanpa ragu.
Wow! Kejutan sekali, Zefanya pikir mereka akan kembali melakukan perdebatan alot. Isi kepala Zefanya mulai berhamburan dan mulutnya berancang - ancang untuk mengutarakan isi hatinya.
"Kecuali hal - hal yang bertentangan dengan etika, melanggar hukum, diluar kemampuanku serta tidak melanggar kesepakatan tiga puluh hari kita, maka... kamu berhak meminta apa pun." lanjutnya lagi.
"Oh! Kamu melambungkanku tinggi ke angkasa dan langsung menghempaskanku ke tanah, Ez. Kenapa harus bersyarat?" Omel Zefanya.
Gaya merajuknya masih sama seperti Zefanya yang Ezra kenal sejak kecil. Masih sama, menggemaskan. Namun Ezra masih menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia harus terus menggali hingga menemukan jawaban.
Di hadapan Ezra, Zefanya sedang mengutuki kebodohannya dalam hati. Dia memang terlalu mudah senang hanya karena Ezra berkata akan mengabulkan keinginannya. Seorang pebisnis handal seperti Ezra sudah pasti punya term and condition yang harus disepakati.
"Bagaimana?" suara Ezra memecah kesunyian di antara mereka. "Aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Katakanlah, now or never!"
Zefanya memajukan bibirnya, menimbang - nimbang akan mulai dari mana menjelaskan permintaannya. Ezra tak pernah ingkar pada janjinya.
"Aku... "
Zefanya menelan ludah untuk kesekian kalinya. "Aku tak tahu harus bagaimana melewati hari - hariku selama tiga puluh hari di rumah. Uhm,... "
Zefanya mengangkat bahunya. "Kamu tahu kalau aku bukan tipe wanita yang bisa diam di rumah tanpa melakukan apa pun kan?"
Ezra mengangguk. "Jadi?"
"Bolehkah aku tetap bekerja di kantormu seperti dulu? Aku rasa aku hanya perlu sedikit mengingat kembali, maka tugas - tugasku akan berjalan sempurna seperti sebelumnya."
"Aku tak pernah ragu pada kemampuanmu, Zie. Kamu salah satu manager pemasaran terbaikku waktu itu. Tapi, maafkan aku -- "
__ADS_1
"Kalau kamu tidak meragukanku, bukankah yang terbaik aku tetap bekerja?" sela Zefanya tak sabar.
Ezra mengangkat telapak tangannya, memberi kode Zefanya untuk diam dan mendengarkan.
"Sorry to say, Ma Moitie. Saat ini aku sudah mengambil cuti selama tiga puluh hari dan aku juga sudah merencanakan berbagai hal yang ingin aku lakukan bersamamu. Semuanya hal - hal yang kamu sukai, Sayang. Kamu tak perlu khawatir akan bosan dalam tiga puluh hari ke depan."
Nada suara Ezra yang begitu mantap menunjukkan kalau keinginannya sudah tak bisa lagi diganggu gugat. Zefanya hanya bisa ternganga, jantungnya benar - benar tak siap dengan kejutan ini. Tiga puluh hari Ezra cuti, bukankah sama saja artinya dua puluh empat jam akan mereka habiskan bersama?
"A-apa?" desis Zefanya, suaranya begitu lirih hampir tak terdengar.
Ezra mengangkat kedua alisnya sambil menganggukkan kepala. "Ya. Aku lakukan ini semua demi kamu, demi keluarga kecil kita. Apapun aku lakukan supaya kamu tidak meninggalkan aku."
"Tapi Halley Corp... "
"Dengan atau tanpa diriku, perusahaanku akan baik - baik saja."
"Dokter Sandra bilang kepadaku, kalau sejak aku sakit kehidupanmu seolah berhenti gara - gara aku. Aku tidak ingin hidupmu kacau hanya karena aku."
Ezra tak menjawab. Dia terus mengamati dan merekam setiap ekspresi yang ada di raut wajah Zefanya. Istrinya itu sudah gagal total bersandiwara. Setiap penolakan yang diucapkan oleh Zefanya adalah palsu! Wanitanya itu hanya takut berduaan dengan dirinya.
"Hm... "
"Kamu yang mendorongku untuk melanjutkan sekolah hingga lulus universitas dan di wisuda. Aku hanya sempat bekerja sebentar, tidak bisakah aku membaktikan ilmu yang aku dapat? Sebaliknya kamu bisa terus menjalankan perusahaanmu dengan tenang. Win - win solution bukan?" bujuk Zefanya sekali lagi.
Ezra tersenyum miring, bujukan apa pun tak akan mempan padanya. Dia tahu Zefanya ingin menghindari dirinya.
"Aku sudah menunggumu hingga dewasa dan menikahimu karena kita sama - sama menginginkan pernikahan itu. Kamu pikir aku akan membiarkan pernikahan ini hancur begitu saja? Tidak, Ma Moitie karena aku pula yang akan menyingkirkan setiap rintangan yang menghalangi pernikahan kita."
Kepala Zefanya terasa berdenyut hebat. Inilah yang ditakutkannya dari kemarin, Ezra dengan kemauannya yang sekeras baja. Saat ini Zefanya merasa seperti seekor tikus kecil yang meringkuk di sudut ruang, dibawah tatapan nanar seekor kucing besar.
Ekspresi Zefanya yang pucat membuat Ezra melunak, hatinya tersentuh. Dari dulu dia tak pernah tega menekan wanita muda ini. Dialah laki - laki pertama yang memanjakan dan menjaga ketat Zefanya setelah ayah gadis itu meninggal, waktu itu Zefanya masih seorang gadis remaja tanggung.
__ADS_1
"Ma Moitie?"
Ezra meraih tangan Zefanya, tangannya yang besar dan hangat mengalirkan perasaan aman yang diam - diam Zefanya rindukan. Tangan ini yang selalu menenangkan di saat Zefanya gugup, melindungi saat dirinya ketakutan. Tangan ini pula yang selalu terbuka menerimanya dengan cinta kapan pun dia datang.
"Trust me, Ma Moitie! Beritahu aku! Ceritakan padaku semuanya supaya aku bisa melakukan sesuatu untukmu."
Zefanya memandang Ezra tanpa bicara, tak ada sedikit pun keraguan dalam sorot mata suaminya itu. Zefanya percaya semua masalah bisa Ezra atasi, kecuali satu hal yaitu fakta pahit yang tengah mereka hadapi saat ini, bahkan seluruh kekayaan Ezra tak akan bisa memutar balikkan fakta yang kejam ini. Yang ada Ezra justru akan hancur karenanya.
"Aku benar - benar tidak bisa memahami jalan pikiranmu, Ez. Apa kamu tidak khawatir perusahaan yang dirintis sejak jaman kakekmu itu akan collapse di tanganmu?"
"Andaikata aku harus meninggalkan kantorku selamaNya pun aku rela, asalkan pernikahanku ini berjalan semestinya. Aku bahkan bersedia menukar nyawaku demi membuat pernikahan kita tetap utuh."
Zefanya memejamkan mata. Cara Ezra mengucapkan setiap kata sama seperti saat dia mengucapkan sumpah pernikahan mereka di altar.
Sebuah era-ng-an kecil lolos dari mulut Zefanya. Dirinya benar - benar terjepit. Andai saja pria di hadapannya ini tahu, kalau kali ini dia tak akan bisa menolong Zefanya. Otak Zefanya berputar cepat, dia harus menemukan alasan lain yang lebih kuat untuk mengajukan perceraian.
"Ezra, aku sudah bilang... "
"Aku tahu dan sudah hafal di luar kepala. Tapi aku hanya minta waktu tiga puluh hari untuk meyakinkan dirimu bahwa kamu sebenarnya masih ingin bersamaku. Menjadi istriku yang seutuhnya. Bukankah kita sudah sepakat kemarin?" Tolak Ezra terang - terangan.
"Ya. Tapi ada puluhan ribu karyawan bergantung pada Tuan Ezra Halley. Aku masih bisa membantumu bekerja di perusahaan. Seperti dulu... "
Zefanya masih saja bersikeras pada pendapatnya meski jelas - jelas Ezra sudah menolaknya dari awal.
"Tidak bisa!" tegas Ezra dengan garang. "Selama ini aku terlalu memanjakanmu, mengabulkan semua yang kamu inginkan hingga kamu berbuat seenaknya, Ma Moitie. Kamu memilih kabur dari pada bicara baik - baik padaku. Aku tak pernah mendidikmu seperti itu!"
Ezra menatap Zefanya lekat - lekat, cara yang sejak dulu dilakukannya pada Zefanya setiap kali wanitanya itu membangkang. Zefanya hanya bisa bergidik ngeri.
"Sekarang terpaksa aku membuat peraturan. Kita lakukan semuanya sesuai dengan caraku. Atau... " Ezra menggantung ancamannya di udara.
"Atau?" Lirih Zefanya pasrah.
__ADS_1
"Atau kamu kembali ke rumah sakit dan merenunglah disana sampai kamu mau bicara padaku!"
Selesai sudah! Zefanya sudah kalah dan dipaksa untuk menyerah...