
Bau udara segar menerpa hidung Zefanya saat Ezra membuka sunroof mobil mewah miliknya. Rasanya sudah lama sekali Zefanya tak menghirup udara sebebas ini. Selama ini dalam setiap tarikan napasnya yang terasa hanyalah bau khas rumah sakit. Harus diakui, pemandangan diluar sini jelas lebih indah dari pada dinding putih rumah sakit.
Ezra membawa mobilnya menelusuri jalan berliku, dengan pohon - pohon yang menaungi sisi kanan dan kiri jalanan menuju rumah Ezra. Kilometer demi kilometer ditempuh oleh Ezra dengan kecepatan tinggi, terlihat jelas bagaimana tidak sabarnya laki - laki itu untuk segera meninggalkan rumah sakit tempat Zefanya dirawat selama ini.
Berkali - kali tanpa bisa dicegah, mata Zefanya selalu melirik Ezra yang sedang dalam kondisi terbaiknya. Begitu tampan dengan rambut rapi tersisir ke belakang, otot - otot lengannya yang kekar mencengkeram setir ditambah kacamata hitam bertengger di hidungnya yang tinggi.
Buyar sudah rencana yang sudah disusun rapi di otaknya. Perasaannya berantakan, cinta dan kagum pada Ezra mulai berloncatan keluar dari persembunyiannya. Rasa yang sekuat tenaga dia tahan, bagaikan lava kini menggelegak. Perlahan - lahan memanas, hanya menunggu waktu untuk meledak.
'Astaga! Perasaan ini bisa membunuhku!' umpat Zefanya pada dirinya sendiri.
Zefanya menarik napas panjang, dia duduk dengan tatapan lurus ke depan. Berusaha keras memusatkan perhatian ke jalan - jalan yang mereka lalui supaya tidak terus menerus mencuri pandang ke arah Ezra. Tapi matanya benar - benar tak mau bekerja sama dengan baik, sudut mata Zefanya dia masih bisa melihat bayangan Ezra yang mempesona.
Ya Tuhan! Hanya sedikiy bayangannya saja sudah mampu membuat jantung Zefanta berdebar.
Dari balik kacamata hitamnya, Ezra menangkap gerak gerik Zefanya. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya, yang cepat - cepat dia hilangkan. Saat ini belum saatnya untuk bersorak menang.
Hari ini Ezra sengaja menampilkan penampilan terbaiknya. Kemeja lengan pendek dan celana slim fit yang selalu berhasil membuat Zefanya jatuh cinta berkali - kali padanya. Rencana awalnya lumayan berhasil. Laki - laki itu bisa melihat bagaimana Zefanya susah payah membuang pandangannya demi menyembunyikan sorot mata kagum yang berkelebat disana.
"Aku ingin mengajakmu makan dulu."
Ajakan Ezra yang disampaikan dengan suara pelan ternyata sangat mengejutkan Zefanya.
"What?!" pekiknya terkejut.
__ADS_1
Tanpa sadar Zefanya memejamkan mata. Ini belum dua puluh empat jam bersama Ezra, tapi rasanya sudah begitu menyiksa. Wajah tampan itu ada di dekatnya tapi dia tak boleh memandangnya dengan cinta yang sama seperti dulu. Tubuh kokoh yang selalu menggetarkan hatinya, kini tak bisa lagi dia peluk sesukanya.
"Hanya makan pagi, Ma Moitie. Tak perlu sepanik itu." ujar Ezra santai sambil terus mengamati setiap reaksi yang tampak di wajah istrinya.
Bagi Ezra, Zefanya seperti buku yang terbuka. Perasaannya dengan mudah dapat terbaca dari raut wajahnya. Jelas sekali kalau istrinya itu masih mencintai dia. Sekarang dia hanya perlu menemukan penyebab kenapa Zefanya mati - matian mengingkari perasaannya.
"Aku... aku tidak lapar." sahut Zefanya akhirnya, segera setelah dia menemukan alasan. Dia harus menghindar sebisa mungkin, atau Ezra akan dengan mudah membaca perasaannya.
"Zie, saat ini adalah pertama kalinya aku ingin makan setelah berbulan - bulan menunggumu sadar dan mengingatku kembali. Tidakkah kamu bersimpati padaku sedikit saja?" tanya Ezra dengan nada memohon. Dia mencoba menyentuh hati Zefanya.
"Aku bahkan sudah memesan tempat di restaurant favoritmu. Kamu selalu suka makanan dan pemandangan disana. Andaikata kamu tidak lapar, kamu masih bisa menikmati pemandangannya. Tentu akan menyenangkan melihat pemandangan di luar setelah berbulan - bulan hanya melihat dinding rumah sakit." ucap Ezra, mengulang sebagian kalimat yang diutarakan Zefanya saat memintanya keluar dari rumah sakit.
Zefanya hanya bisa menghela napas pelan, Ezra benar - benar tak bisa dibantah. Sekarang Zefanya mulai menyesal sudah menyetujui persyaratan tiga puluh hari bersama Ezra. Rasanya seperti terjebak dalam permainan sendiri.
Perilaku Ezra yang begitu posesif seperti layaknya seorang suami membuat Zefanya semakin gentar. Ezra secara tak langsung memberitahu bahwa dia tak akan semudah itu melepaskan hak-nya sebagai seorang suami. Dan sepertinya saat ini Ezra sedang mencoba menaklukkan hatinya kembali. Benar - benar kenyataan yang menakutkan. Bagaimana kalau dia tak bisa mengendalikan perasaannya lagi?
Pelayan datang dan mengantar mereka ke sebuah private room yang menghadap sebuah danau kecil dengan pohon - pohon di sekitarnya. Setelah itu pelayan mempersilahkan mereka duduk dan menuangkan air. Selalu tahu makanan apa yang akan dipesan, Ezra sudah langsung memesan menu sebelum mereka tiba disini. Jadi saat ini mereka hanya tinggal menunggu makanan datang.
Zefanya menghembuskan napas dan meraih gelasnya untuk mengurangi ketegangan. Hampir saja dia menyemburkan air saat tangan Ezra meraih tangannya. Jari - jari panjang itu bermain - main dengan jari lentik Zefanya, jempolnya mengusap kulit Zefanya dengan lembut.
"Tak ada hal yang lebih aku syukuri lagi selain melihatmu sembuh dan duduk dihadapanku, Zie."
Zefanya menarik tangannya, tapi Ezra menggenggamnya lebih kuat, jantung wanita muda itu berdebar keras saat dia mendongak.
__ADS_1
Mulutnya terbuka ingin memprotes perlakuan Ezra. Tapi, matanya bertemu dengan mata gelap Ezra. Seketika pandangan Zefanya dipenuhi oleh seorang pria berahang kokoh dengan bahu yang lebar dengan segenap daya tarik maskulinnya.
Zefanya menunduk canggung, otaknya berpikir keras. Dia harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin dia terus berada di rumah Ezra dengan situasi yang seperti ini. Bersama Ezra terus menerus bisa membuatnya semakin kesulitan untuk mengubah cara pandangnya pada pria itu. Perasaannya haruslah perasaan terhadap sahabat atau keluarga bukan sebagai pria dan wanita lagi.
Hanya Zefanya dan Tuhan saja yang tahu bagaimana lega hatinya saat pelayan datang mengantarkan makanan. Setelah berterima kasih pada pelayan, Ezra melepaskan genggamannya dan mulai memotong - motong daging untuk Zefanya.
"Tidak perlu repot - repot." ucap Zefanya, mencegah Ezra melakukan lebih banyak hal manis kepadanya.
Ezra tak merespons.Dia menyodorkan hotplate dengan daging yang sudah terpotong kecil - kecil ke hadapan Zefanya. Dari dulu sejak, Ezra selalu memperlakukannya seperti ini.
"Meskipun tidak lapar, makanlah sebanyak yang kamu bisa. Aku ingin melihat sendiri kamu sudah benar - benar sembuh. Selera makanmu akan menunjukkan apakah kamu sudah sehat atau belum." kata Ezra dengan raut wajah datar.
Zefanya mengakui kalau Ezra benar - benar cerdik. Mau tak mau dia harus makan banyak untuk membuktikan dirinya sudah benar - benar pulih.
Tak disangka, sesaat kemudian Zefanya sudah menikmati hidangan bahkan tak menolak saat Ezra menambahkan satu porsi lagi untuknya. Suaminya itu benar - benar tahu selera dan kebutuhan perut Zefanya.
Senyum puas dan tatapan hangat Ezra mengembalikan Zefanya pada kenyataan. Hati kecilnya kembali berteriak, tak seharusnya dia menikmati semua perlakuan manis Ezra.
'Hentikan sekarang, atau kamu akan terjebak dalam cinta Ezra, Zie.'
Zefanya menelan ludah, makanannya sudah habis. Dia mencuri pandang kepada Ezra yang tengah mengusap mulut dengan gayanya yang elegant, dia juga sudah selesai makan. Saat yang tepat untuk bicara, ini satu - satunya cara untuk sedikit membebaskan diri dari pengawasan Ezra.
"Ez, bisakah kamu mengabulkan permintaanku?" tanya Zefanya ragu - ragu.
__ADS_1