Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 32 -- Dilema


__ADS_3

"Wow! Kalian asyik sekali. Kenapa tidak mengajak Papa untuk bergabung dengan kalian?" sapa Ezra dengan suara bahagia dari ambang pintu.


Belum sempat Zefanya merespon, tiba - tiba saja Ezra sudah berbaring di sebelahnya. Hampir tidak ada jarak di antara mereka . Posisi mereka berjajar secara berurutan Ezra, Zefanya dan kedua bayi mereka.


Louisa yang tampak sangat lengket dengan Papanya langsung menggapai - gapai dan mengoceh, seperti sedang memanggil - manggil Ezra. Zefanya menggunakan kesempatan itu untuk bergeser, mendekati Louisa untuk menghiburnya. Dia mengusap - usap jari - jari gemuk Louisa dan membujuk supaya Louisa hingga puterinya itu berangsur - angsur tenang.


Berbaring berdekatan dengan si kembar, Louis beringsut dan menarik - narik rambut panjang Zefanya. Louisa tak mau kalah, dia juga meraih rambut mamanya dan menggenggamnya erat. Mereka berceloteh satu sama lain, sesekali terdengar suara tawa bayi bergantian. Si kembar seperti sedang berbicara satu sama lain. Sebenarnya Zefanya benar - benar bahagia berada di antara mereka berdua, namun kehadiran Ezra sungguh menyiksa batinnya. Jarak yang terlalu dekat, kehangatan yang memancar dari sorot mata lelakinya itu, lalu aroma tubuh yang sangat familiar yang membuat perasaan rindunya kian meluap - luap.


Batinnya benar - benar berperang hebat, demi menahan diri untuk tak merespon apa pun pada sosok yang berada di sebelahnya. Demi menutupi perasaan yang membuncah di dada, Zefanya mengalihkan perhatian pada Louis dengan mengajaknya bermain - main. Diangkatnya bayi itu ke udara dan diciuminya perut anaknya itu dengan gemas. Bayi laki - laki itu terkikik geli dan terus mengoceh girang. Louisa masih asyik tengkurap sambil menarik - narik rambut Zefanya hingga helaiannya terlilit di jarinya. Sepertinya Louisa tidak terlalu peduli saat perhatian Zefanya lebih banyak tertuju pada kembarannya. Rambut hitam Zefanya lebih menarik baginya.


Ezra yang ada di sebelahnya menatap keluarga kecilnya dengan tatapan sendu. Perasaan terasa campur aduk. Pemandangan ibu dan kedua anak kembar ini membuatnya bahabia, ada harapan besar di hatinya, semoga mereka tidak akan berpisah lagi hingga maut memisahkan. Namun tidak bisa dipungkir, ada rasa pedih yang menyelusup ketika melihat Zefanya begitu hati - hati terhadapnya. Terkesan selalu menjaga jarak. Dia rindu Zefanya-nya yang agresif, gadis kecilnya yang selalu menyambutnya ceria dengan pelukan, lalu ciuman Zefanya setiap kali membujuknya saat menginginkan sesuatu. Andai saja bisa, Ezra bahkan rela membayar berapa pun asalkan Zefanya-nya kembali seperti semula.


Pandangan Ezra yang lekat itu membuat tubuh Zefanya menegang, seakan - akan ada sesuatu yang membelit tubuhnya. Dengan gemetar, Zefanya merapatkan tubuh Louis dengan tubuhnya, menjadikan puteranya sebagai tameng pembatas antara Ezra dan dirinya.


Merasa nyaman dalam dekapan Mamanya, Louis justru semakin terkantuk - kantuk. Jiwa keibuan Zefanya muncul begitu saja, secara spontan dia menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Louis sambil mengusap - usap punggungnya. Alunan lagu dan pelukan lembut seorang ibu membuai Louis hingga terlelap. Puteranya itu tidak menolak saat Zefanya melimpahinya dengan cinta dan menciuminya tanpa henti.


Tanpa bisa ditahan, air mata Zefanya tumpah. Hatinya dipenuhi dengan dua macam perasaan yang bertentangan. Bahagia dan sedih bersamaan. Bahagia karena masih bisa menikmati moment manis bersama anak - anaknya, tapi juga sedih karena harga yang harus dibayar untuk semua ini adalah sebuah perpisahan.

__ADS_1


Di sisinya, ada Ezra Halley. Pria yang sangat dicintainya bahkan melebihi dirinya sendiri. Laki - laki yang seharusnya dari awal tidak boleh menjadi pasangannnya. Andai saja dia tahu lebih awal, tentu rasanya tidak akan sesakit ini. Bagaimana kelak dia menerangkan semua ini pada Louis dan Louisa? Tuan Benjamin benar - benar memberinya di posisi yang tidak menyenangkan.


Atau kalau boleh Zefanya memilih, lebih baik dia tidak tahu sama sekali. Andaikata dia tak tahu, maka dirinya tidak akan merasa bersalah. Yang memperburuk perasaannya adalah hati kecilnya ingin memberontak terhadap kenyataan mengerikan ini. Ada bagian dari dalam dirinya untuk menutup telinga terhadap pengakuan Tuan Benjamin, melupakannya dan kemudian dirinya akan hidup normal sama seperti saat dia belum mengetahui apa pun.


Sayangnya, Tuhan tahu. Zefanya bisa menyembunyikan hal ini dari siapa pun di dunia, tapi ada Tuhan yang mengawasinya dari atas sana. Tidak ada tempat bagi Zefanya untuk bersembunyi dari-Nya. Zefanya dan Ezra tidak akan bahagia.


Dengan perasaan pilu, Zefanya menempelkan pipinya ke tengkuk Louis yang harum. Menyembunyikan air matanya dari Ezra. Mulai detik ini, dia harus mengubah pola pikirnya. Anak - anaknya yang akan menjadi nomer satu, kebahagiaan dan pusat kehidupannya.


"Ma moitie?" Lirih Ezra.


Zefanya memejamkan matanya, berharap Ezra tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak ingin mendengar apa pun dari suaminya itu.


"Kepergianmu seperti neraka bagiku. Setiap malam aku susah tidur memikirkan dirimu yang pergi tanpa membawa apa pun. Aku khawatir, apakah kamu berada di tempat yang aman? Apakah cukup makan? Sehat atau sakit?"


Zefanya membuka matanya. Dari sudut mata, dia bisa melihat lelaki yang sedang berbaring di sebelahnya sedang rapuh. Matanya terbuka lebar menatap langit - langit, dengan Louisa tertidur di atas lengannya. Diam - diam Zefanya menghembuskan napas demi meringankan beban yang menghimpit dadanya.


Ezra berdehem. "Setiap pagi, aku berharap kamu pulang. Memanggil namaku, bergelanyutan manja di lenganku. Tapi tidak, berhari - hari kamu tidak muncul. Minggu berganti bulan, kamu tidak juga pulang."

__ADS_1


Zefanya menempelkan pipinya yang kembali basah di rambut Louis yang berbau harum.


"Dan setelah semua peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawamu, bukankah wajar kalau aku merindukanmu?"


Ezra memicingkan mata, seakan merasakan nyeri di tubuhnya. "Lalu kesempatan ini datang. Hal yang paling aku inginkan melebihi apa pun. Kita bisa berkumpul kembali, tidak hanya dua tapi berempat. Bersama - sama seperti ini, bagaimana perasaanmu?"


Zefanya menelan ludah, terasa pahit dan sakit.


"Tidakkah kebersamaan ini terasa indah, Zie? Aku tidak ingin semua ini berakhir."


Zefanya kembali memejamkan mata, tidak berani menghadapi kenyataan dan juga Ezra.


"Sayang, katakan padaku. Apa kamu yakin kalau kamu sudah benar - benar tidak ingin memelukku? Apa kamu tidak merindukan saat - saat aku memanjakanmu? Zefanya Halley, aku mencintaimu. Dulu, sekarang dan sampai aku menutup mata."


Kata demi kata diucapkan dengan penuh perasaan oleh Ezra, ucapan yang sangat tidak ingin didengar oleh Zefanya. Ungkapam hati Ezra mengaduk - aduk perasaaan Zefanya, membuat hatinya porak poranda.


Tak tahu harus menanggapi bagaimana, Zefanya memilih untuk kabur. Dia terus memejamkan mata, berpura - pura tidur. Sebuah alasan yang tepat supaya Ezra tidak lagi mengusiknya.

__ADS_1


'Oh, penge-cutnya diriku ini.' keluh Zefanya dalam hati.


__ADS_2