Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 36 -- Family Time


__ADS_3

"Malam ini kita akan menginap." tegas Ezra.


"Tapi anak - anak?" protes Zefanya tak berdaya, mencoba merubah pikiran Ezra untuk tidak lebih lama bersama.


"Mereka akan baik - baik saja bersama kita, kedua orang tua mereka. Aku yakin mereka juga akan senang bersama kita di rumah peristirahatan."


"Ezra... "


"Tolong patuhlah kepadaku, Sayang. Kali ini saja. Aku benar - benar ingin pergi bersama keluarga kecilku. Bercanda dan menghabiskan waktu bersama kalian adalah impian terbesarku selama ini. Tidak ada yang lain. Aku sudah menanti - nanti saat seperti ini begitu lama." Ucap Ezra dengan tatapan memohon.


Dia sebenarnya tidak ingin memaksa istrinya, tapi tidak ada cara lain. Zefanya terlalu banyak alasan untuk menghindari dirinya. Sementara itu, dirinya sudah hampir tak bisa lagi menahan rindu kepada istrinya itu.


Zefanya menggeleng dan sekali lagi mencoba membela diri. "Bukan begitu. Tapi mau berapa lama kita akan menginap disana? Kita tidak membawa perlengkapan dan baju yang cukup untuk meraka, Ez."


Menginap di rumah peristirahatan memang sama sekali tidak ada di dalam rencana mereka hingga Zefanya tak mempersiapkan apa pun. Bahkan anak - anak mereka hanya membawa dua atau tiga setel pakaian saja untuk perjalanan singkat saja.


"Tidak usah khawatir. Semua perlengkapan ada disana. Mengenai baju anak - anak, nanti akan ada yang datang mengirimkan keperluan mereka dan juga kita. Katakan saja kalau kamu membutuhkan sesuatu yang lebih spesific. Atau beli saja apa pun kebutuhanmu di supermarket ini." jawab Ezra tak bisa dibantah.


Dia keluar dari mobil sambil menggendong si kembar dan membawa mereka masuk supermarket untuk berbelanja. Apalagi yang bisa dilakukan oleh Zefanya selain mematikan mesin mobil dan mengikuti Ezra masuk ke dalam supermarket. Tempat itu tampak lumayan ramai hari ini, padahal dia hanya mengenakan t-shirt oversize dan celana jeans serta sepatu kedz. Sementara banyak ibu - ibu muda dengan dandanan modis berbelanja di sana. Andai saja dia tahu rencana Ezra untuk mampir ke supermarket, sudah tentu dia akan lebih memperbaiki penampilannya.

__ADS_1


Rasa rendah diri menghampirinya. Zefanya melirik Ezra yang tampak kalem di depannya, laki - laki itu masih tetap gagah dan tampan apa pun penampilannya. Suaminya itu bahkan seperti tak sadar kalau banyak wanita mencuri - curi pandang kepada dirinya. Beberapa wanita muda bahkan sengaja menyapa bayi kembar mereka demi bisa berbincang sejenak dengan Ezra. Diam - diam Zefanya merasa jengkel karena Ezra tampak selalu melayani mereka dengan sopan, terutama saat mereka bertanya soal si kembar maka Ezra akan menjawab dengan nada bangga dan bahagia.


Wajah Ezra yang cerah saat membicarakan soal anak - anaknya mengingatkan Zefanya akan arti penting sebuah keluarga dalam catatan kehidupan Ezra. Bagi laki - laki itu, acara bersama keluarga seperti ini lebih berarti dari kedudukannya sebagai seorang pimpinan Halley Corporation.


Tatapan mereka tiba - tiba bertemu. Ezra membaca kemuraman Zefanya sebagai ketidak bahagiaan atas perjalanan mereka hari ini. Dia salah paham.


"Andaikata kamu memang tak menginginkan pernikahan kita, setidaknya cobalah berpikir ulang demi mereka. Aku tidak ingin kamu menyesalinya kelak." Ezra mengecup kepala anak - anaknya satu per satu. "Itulah sebabnya, aku meminta tiga puluh hari padamu. Dan juga, tanyakan kepada nuranimu. Tidakkah kamu ingin memberi keluarga yang utuh untuk mereka?"


Ada pedih berbalut kecewa dan juga marah di dalam nada suara Ezra, yang menyadarkan Zefanya bahwa perceraian juga tidak membuat keadaan Ezra akan lebih baik. Berusaha menguasai diri, Zefanya mempercepat proses belanja mereka. Otak dan tangannya bekerja sama dengan baik membeli kebutuhan anak - anak mereka dan memasukkan ke keranjang belanja. Setelah itu, dia memilih beberapa macam bahan makanan yang mudah diolah untuk Ezra dan dirinya.


Hari sudah menjelang makan siang saat mereka tiba di rumah peristirahatan. Ezra benar - benar sudah mempersiapkan segalanya, ada pelayan dan makanan yang siap disantap disana. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Tempat ini benar - benar nyaman layaknya mansion dalam ukuran yang lebih kecil.


Setelah makan dan istrirahat beberapa saat, Ezra berdiri dari duduknya dan menghampiri Louis


"Hey, Boy. Ayo terbang sama Papa." ucap Ezra sambil mengangkatnya tinggi - tinggi ke udara.


Louis memekik senang, dia tertawa saat tangan Ezra mengayunnya perlahan. Ezra ikut tertawa senang.


"Anak laki - laki yang pemberani." ucapnya sambil menurunkan puteranya, lalu mendekapnya erat.

__ADS_1


Louisa memukul - mukul pelan kaki Ezra seakan mencari perhatian, suaranya yang kecil terdengar mengoceh memanggil - manggil Papanya.


"Ow! Puteri kecilku ini juga minta terbang seperti kakaknya?" tanya Ezra sambil berjongkok.


Matanya bersinar terang. Louisa menjawabnya dengan ocehan - ocehan tak jelas bernada riang. Louis ikut mengoceh di pangkuan Ezra.


Celotehan si kembar beradu dengan suara lembut Ezra berinteraksi dengan mereka mengisi ruang tengah rumah peristirahatan itu. Zefanya memandang Ezra bermain - main bersama anak - anaknya. Dia berbaring miring dengan si kembar menarik - narik ujung kaosnya, seperti induk kucing dan anak - anaknya. Matanya sedikit berkaca - kaca memandangi tiga orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Ada perasaan yang takut kehilangan yang menyeruak dari dalam hatinya. Dia takut kehilangan suasana seperti ini, suasana nyaman dan tenang seperti ini.


'Tapi apa yang terbaik yang harus aku lakukan?' keluh Zefanya dalam hati.


Zefanya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dia hafal sekali tempat ini. Rumah dua lantai yang dibangun diatas bukit kecil, berada di antara rimbunnya pohon berjarak sekitar sepuluh menit jalan kaki menuju garis pantai. Ada tujuh kamar dengan kamar mandi masing - masing yang dilengkapi water heater, shower dan bathup. Rumah peristirahatan yang dibangun Ezra khusus untuk memenuhi permintaannya yang sangat suka dengan pantai.


Setelah dimandikan dan makan snack, si kembar langsung terlelap diatas sofa. Zefanya dan Ezra memindahkan mereka ke dalam kamar. Ezra membaringkan tubuh mungil Louisa ke atas tempat tidur yang empuk. Dia mengusap kening Louisa yang tertidur nyenyak dan memandanginya dengan sayang.


"Minggu depan akan ada desain interior datang untuk menata ulang kamar - kamar disini. Aku akan membuatnya supaya cocok untuk area bermain anak - anak juga." katanya pada Zefanya yang berjalan menjauh menuju jendela besar di ruangan itu.


Dari tempatnya berdiri tampak laut lepas di kejauhan sana, indah sekali. Sementara dibawah jendela ada sebuah taman dengan kolam renang yang di desain mirip danau buatan.

__ADS_1


Ezra berjalan mendekati Zefanya yang tampak melamun. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Zefanya, memeluk istrinya dari belakang. Kemudian mengecup bahu Zefanya dan berbisik.


"Aku ingin kamu dan anak - anakmu menikmati suasana disini. Berharap tempat ini bisa menjadi surga bagi kalian. Disini, bersamaku... "


__ADS_2