Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 23 -- Brother And Sister


__ADS_3

"Benjamin Halley adalah ayahku juga, Dokter." ucap Zefanya pelan. Suaranya lebih mirip sebuah rintihan kesakitan.


"Oooh.... "


Dokter Sandra hanya mengeluarkan sebuah kata ekspresi yang bisa menggambarkan perasaannya yang terdalam. Zefanya bisa merasakan bagaimana dokter Sandra menatapnya dengan cara yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Terlihat jelas wanita cerdas di hadapannya sedang membandingkan pernyataan Zefanya dengan setiap fakta terakhir yang sudah diamatinya selama ini.


"Katakan kepadaku. Apakah Benjamin Halley adalah sosok seram yang sering muncul dalam mimpi burukmu akhir - akhir ini?"


Zefanya tersentak, seperti di sadarkan akan sesuatu.


"Iya, benar. Dia adalah seseorang yang selalu hadir dalam mimpiku. Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Zefanya heran. "Apa si kembar benar - benar mirip dengan kakeknya?"


Dokter Sandra menggeleng. "Aku belum pernah melihat anak - anakmu. Tapi dari ceritamu sebelumnya aku menduga yang kalau sosok di dalam mimpimu itu adalah ayah mertuamu." jawab dokter Sandra pelan.


"O'ya?"


Dokter Sandra mengangguk. "Anda menceritakannya berulang kali, Nyonya. Dalam pemahamanku itu seperti ada seseorang yang mengancam, memberimu tekanan atau sesuatu semacam itu. Aku tidak tahu pastinya."


Air mata Zefanya bercucuran, membanjiri kedua pipinya.


"Saat mendengar ceritamu hari ini, aku menyadari kalau mimpi buruk itu adalah ketakutanmu pada seseorang."

__ADS_1


"Ya. Dan ternyata yang selama ini aku panggil Papa itu sebenarnya bukan ayah kandungku." bisik Zefanya dengan tenggorokan yang terasa sakit.


Dokter Sandra memasukkan kedua tangan ke dalam saku blazernya, wajahnya tetap tenang seakan tak terpengaruh dengan kejutan yang diucapkan oleh.Zefanya.


"Saat ini aku menarik kesimpulan kalau Benjamin Halley sendiri yang mengatakan rahasianya kepadamu tepat saat kalian kembali dari perjalanan bulan madu. Apa benar kesimpulanku?"


"Ya."


"Jadi alasan kaburmu adalah cerita dari ayah mertuamu?"


"Ya."


"Rupanya Benjamin Halley ingin mengungkap kesalahan terbesarnya."


"Ya."


"Dia sudah hampir tak bisa bicara saat itu karena penyakitnya. Lalu dengan terbata - bata dia mengakui kalau sudah pernah berselingkuh dengan Mamaku. Setelah itu, seorang pastur datang untuk melakukan sakramen perminyakan."


Dokter Sandra merangkul Zefanya. "Nyonya, aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa sakit simpatiku kepadamu. Andai saja ada yang bisa aku lakukan untuk meringankan bebanmu." sesal Dokter Sandra.


"Lebih baik aku mati saat kecelakaan itu, Dokter."

__ADS_1


"Aku mengerti apa yang anda rasakan, Nyonya. Kalian saling mencintai bahkan sejak anda masih remaja. Setelah itu kalian hidup bersama sebagai suami istri meski hanya sebentar. Pasti sangat menyakitkan untuk menganggap orang yang kita cintai sebagai kakak."


Dokter Sandra menghela napas. "Sekarang aku tahu mengapa kamu melupakan sebagian besar kejadian di masa lalu. Anda ingin menghindari rasa sakit dengan menganggap Ezra sebagai kakak sehingga perasaan itu menekan ingatanmu. Kehamilan dan proses melahirkan pun terhapus dari memori anda."


"Ya, anda benar, Dok."


Zefanya menangis tersedu - sedu di pelukan dokter-nya. Suaranya terdengar begitu menyayat, bahunya juga terguncang. Selama beberapa menit, dokter Sandra membiarkan Zefanya meluapkan emosinya. Tangannya mengusap lembut punggung pasien kesayangannya. Wanita ini membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya nyaman.


"Ada dua orang bayi yang menunggu cinta dari Mamanya. Anda harus bertahan, Nyonya. Tetaplah hidup demi mereka! Anak - anakmu membutuhkan Mamanya."


"Aku tahu, Dok. Tapi mengatakan dan menjalani adalah hal yang berbeda. Bicara saja mudah, melakukannya butuh lebih sulit." bantah Zefanya di sela - sela isak tangisnya.


"Aku mengerti kekhawatiranmu, Nyonya. Ayah dan ibu yang berasal dari satu ayah dikhawatirkan akan mempunyai kelainan genetik. Tapi, Sayang... Hal itu belum tentu terjadi, masih ada kemungkinan kecil kedua anakmu baik - baik saja. Kalau aku jadi kamu, aku akan berdiskusi dengan dokter mereka. Itu akan lebih baik daripada anda menebak - nebak dan ketakutan setiap hari."


Zefanya mengerjapkan mata. "Sepertinya itu yang harus aku lakukan, Dok. Aku akan menjumpai dokter anak secepatnya." jawabnya penuh tekad.


"Bagus kalau begitu. Tapi, Nyonya. Anda harus siap dengan apa pun yang anda hadapi kelak. Namun semua itu akan lebih baik dibandingkan dengan menghadapi semua ini tanpa ketidak pastian."


"Ya. Aku terus merasa tidak tenang sejak kembali dari perjalanan bulan madu." ujar Zefanya dengan suara yang kecil. Terasa sekali bagaimana dia berusaha mengatasi ketakutannya.


"O'ya. Satu hal lagi... "

__ADS_1


"Ya?"


"Anda harus menceritakan semuanya pada suamimu. Semua! Jangan ada satu pun yang anda tutupi darinya." tambah dokter Sandra serius. Matanya menatap Zefanya dalam - dalam.


__ADS_2