Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 19 -- A Jealousy


__ADS_3

"Ya Tuhan! Apa yang sedang aku lakukan?'


Zefanya menyiram wajahnya berulang kali dengan air di wastafel untuk menjernihkan pikirannya. Dia tak boleh menangisi Ezra. Suaminya itu berhak untuk bahagia. Wajah tampan dan pengusaha muda yang sukses ditambah dengan sikapnya yang gentleman, tentu tidak sulit untuk menemukan pengganti dirinya.


"Ini yang terbaik! Ini yang terbaik!" gumamnya terus menerus seolah sedang merapal mantra.


Dia mengusap air matanya, berkali - kali menarik napas untuk meredakan emosinya yang meluap - luap. Terbiasa mendapat limpahan cinta dari Ezra membuatnya merasa hancur saat mengetahui Ezra mempunyai wanita lain.


Zefanya tak sanggup melihat Ezra bersama wanita lain. Kenapa dirinya tidak mati saja saat kecelakaan itu? Semuanya akan lebih mudah dengan kepergiannya, rahasia ini juga akan ikut lenyap.


Beberapa waktu di kamar mandi, Zefanya merasa perasaannya sedikit lebih baik. Iya, hanya sedikit. Tidak ada yang bisa membuat seorang wanita merasa lebih baik saat tahu suaminya mempunyai anak dari wanita lain.


Baru saja beberapa langkah keluar dari kamar mandi, seseorang menariknya dengan keras.


"Aaachk!!" jerit Zefanya tertahan.


Sesaat tubuhnya menegang. Namun detik berikutnya harum parfume yang familiar melingkupi dirinya. Napas dan hangat tubuh laki - laki itu sangat dikenalinya. Zefanya memejamkan mata, menikmati perasaan yang menyelusup ke dalam hatinya. Rasanya seperti pulang ke rumah. Ezra memeluknya dari belakang.


"Kamu baik - baik saja, Ma Moitie?" Suara lembut Ezra terdengar khawatir.


Zefanya menelan ludah dan berusaha tegar, logikanya terus mengingatkan untuk tidak hanyut dalam perasaan. Tapi hatinya tidak bisa diajak bekerja sama. Dirinya terperosok dalam cinta Ezra dan ingin terus berkubang di dalamnya.


"I'm okay. Akan lebih baik lagi kalau kamu melepaskan aku, Ezra." ujarnya pelan, bersusah payah melawan rasa yang bergejolak di dalam tubuhnya.


Ezra menghirup dalam - dalam aroma tubuh Zefanya yang sedang dipeluknya, setelah itu dia melepaskan. Bertepatan dengan bunyi langkah - langkah kaki mendekat ke kamarnya. Zefanya buru - buru menjauh dari Ezra, namun laki - laki itu menahannya, tetap di dalam pelukannya.


Terdengar suara pintu diketuk. Ezra pun mempersilahkan masuk dan muncullah seorang pelayan membawa trolley berisi makanan.


"Selamat malam, Tuan, Nyonya." sapanya sambil tersenyum sopan.


"Letakkan saja diatas meja. Setelah itu kamu boleh turun." perintah Ezra tanpa melepaskan pelukannya pada Zefanya.


Pelayan menata makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja, lengkap dengan pisau, sendok dan garpu.

__ADS_1


"Aku meminta juru masak membuatkan beef wellington dan cheesecake untukmu. Dulu kamu sangat menyukainya dan selalu meminta porsi tambahan."


Ezra menggandeng tangan Zefanya dan mempersilahkannya untuk duduk. Zefanya menahan diri untuk melirik kearah makanan yang menggugah seleranya. Makanan khas Inggris yang terbuat dari daging khusus steak yaitu daging sapi dan dilengkapi dengan isian jamur dan sayuran yang lain dan dibungkus dengan menggunakan puff pastry.


Laki - laki ini memang paling pintar untuk memperbaiki suasana hatinya. Zefanya tak pernah berhasil berlama - lama marah terhadap Ezra.


Zefanya duduk di kursi dan memandang heran Ezra yang mulai memotong - motong daging di hadapannya. Hanya ada satu porsi untuk masing - masing menu, baik makanan mau pun minuman.


"Kamu tidak makan?" tanya Zefanya heran.


"Nanti aku akan makan dibawah."


Kening Zefanya berkerut, hatinya mencelos. Pikiran buruk berseliweran di kepalanya. Ezra tidak mau makan bersamanya, pasti karena ibu dari bayi perempuan tadi sudah menunggunya di bawah sana. Zefanya tersenyum getir. Pantas saja makan malamnya diantar ke kamar tanpa diminta. Itu sudah alasan yang paling tepat untuk perlakuan Ezra kepadanya.


Mengingat bayi perempuan dan ibunya, kemarahan menggelegak di dalam hatinya. Tanpa sadar, Zefanya mencengkeram serbet yang ada dipangkuannya. Meski sibuk dengan potongan dagingnya, Ezra diam - diam mengamati perubahan raut wajah istrinya.


"Yuk, makan." Ezra meletakkan piring berisi beef wellington yang sudah terpotong rapi di hadapan Zefanya.


Dalam kondisi biasa, mata Zefanya akan langsung berbinar dan melahap menu favoritnya itu. Tapi tidak untuk kali ini, dia melipat kedua tangan di depan dada dan menatap tajam pada Ezra. "Aku tidak lapar."


"Emh! NO!" tolak Zefanya sambil merapatkan mulut dan memalingkan wajah. Gayanya persis seperti anak kecil yang sedang ngambek. Dia marah pada Ezra yang memaksanya pulang padahal jelas - jelas sudah tidak ada tempat lagi untuknya di hati Ezra.


"Zefanya Halley... " panggil Ezra dengan nada mengintimidasi. Memanggil Zefanya dengan nama lengkap adalah pertanda kalau dirinya sedang dalam kondisi marah. Zefanya tak pernah suka Ezra yang seperti itu.


"Tinggalkan saja aku, nanti aku akan makan sendiri."


Meski nyalinya menciut, Zefanya masih mencoba untuk keras kepala. Semarah apa pun Ezra, laki - laki itu tidak akan pernah berbuat kasar padanya.


Ezra menggeleng.


"Tidak. Makanlah setelah itu aku ingin bicara denganmu." tegas Ezra sambil menggeser tempat duduknya mendekat ke arah Zefanya.


"Bicara soal apa?"

__ADS_1


"Aku tidak mau merusak selera makanmu. Aku ingin kamu cepat sembuh." bujuk Ezra lagi.


"Bicara sekarang atau aku tidak makan."


Ezra menghela napas, wanitanya itu masih dalam mode keras kepalanya.


"Apa kamu mau aku suapi?"


Tanpa emosi Ezra mengambil garpu dan menusuk salah satu daging, bersiap untuk menyuapi Zefanya. Istrinya itu paling suka dimanja. Tapi tidak masalah, Ezra dengan senang hati memanjakan Zefanya. Selisih umur yang hampir sepuluh tahun membuatnya selalu memaklumi sikap Zefanya yang kekanak - kanakan.


Zefanya menyingkirkan daging yang disodorkan ke mulutnya. Mendadak saja sikap manis Ezra ini terasa memuakkan baginya. Matanya terasa panas, emosi menggelegak di dadanya.


"Suapi saja bayi perempuanmu itu!"


Ezra tahu Zefanya salah paham dengannya. Beginilah Zefanya kalau cemburu, logikanya tumpul. Laki - laki itu hanya bisa menahan tawa.


"Ayo makanlah dulu. Nanti aku ceritakan sesuatu padamu, hm?"


"NO! Aku tidak mau membicarakan apa pun soal ibu bayi itu."


"Tapi kita harus bicara, Zie... --"


"Kenapa tidak kamu biarkan saja aku pergi saja dari hidupmu? Tidak perlu merasa bertanggung jawab padaku. Lagipula sudah ada ibu bayi itu yang akan mengurusmu."


Ezra mendengus. 'Dasar anak kecil!'


"Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu!" sergah Zefanya sambil memelototi Ezra.


Ezra tidak dapat lagi menahan tawanya, tawa pertama sejak Zefanya menghilang dan ditemukan dalam sebuah kecelakaan. Bahunya berguncang seakan kata - kata Zefanya adalah lelucon paling lucu yang pernah didengar olehnya.


"Zie, Zie... Sebaiknya kamu jangan berasumsi yang tidak - tidak. Dengarkan aku dulu." Ucap Ezra di sela - sela tawanya.


"Jangan berbelit - belit! Aku tahu kamu hanya ingin bersikap adil padaku dengan memberiku kesempatan untuk berpikir ulang tentang perceraian. Iya kan?"

__ADS_1


Tanpa sadar Zefanya mendekatkan wajahnya ke wajah Ezra. Laki - laki itu menutup mulut Zefanya dengan mulutnya.


"Hmmph!" Napas Zefanya tercekat saat mulut Ezra menangkup bibirnya. Shut her up with a kiss.


__ADS_2