Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 45 -- An Anger


__ADS_3

Sebuah Kemarahan


Sesaat jantung Zefanya berhenti berdetak. Tapi hanya sesaat, setelah itu degup jantungnya bertalu - talu seperti ingin keluar dari tempatnya. Dia merasakan seseorang sedang mengawasinya dan kini orang itu bahkan berdiri tegap di belakangnya dengan jarak yang begitu dekat.


Zefanya menarik napas dalam - dalam mencoba menghentikan getaran di tangannya. Dia tak berani menoleh, tangannya menggenggam kunci sangat erat hingga kulitnya terasa perih. Kepalanya tertunduk, tanpa berani menoleh ke belakang. Saat ini posisinya seperti seekor kelinci yang sedang diincar oleh harimau.


Dari harum parfum yang masuk ke indera penciumannya, tanpa menoleh pun dia tahu kalau seseorang itu adalah Ezra. Dia tertangkap basah hendak kabur. Ini memalukan sekaligus menakutkan. Apa reaksi Ezra saat ini?


Dengan gemetar, Zefanya memutar tubuh dan mengangkat kepalanya hingga matanya bertemu dengan bertemu dengan tatapan Ezra yang penuh emosi. Aura di sekeliling Ezra terasa begitu pekat oleh kemarahan laki - laki itu.


"Ez-Ezra?" lirih Zefanya dengan suara bergetar.


Ezra tak merespons hanya matanya yang tajam seakan menguliti Zefanya.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Zefanya berusaha menutupi ketakutannya dengan menanyakan apapun yang terlintas di dalam pikirannya. Hatinya ingin berusaha tegar, tapi tubuhnya terlalu gentar menghadapi Ezra yang kini tampak begitu dominan. Refleks, Zefanya mundur satu langkah untuk memberi jarak dari Ezra. Tapi Ezra justru semakin dekat dan memerangkap Zefanya dengan kedua tangannya yang kokoh.


Saat ini punggung sudah Zefanya menempel di gerbang besar yang kokoh, tak ada lagi tempat untuk berkelit.


"Seharusnya aku yang bertanya, Ma Moitie. Apa yang kamu lakukan disini?" desis Ezra tanpa melepaskan pandangannya dari Zefanya.


Zefanya tersenyum kaku dan celingukan ke belakang tubuh Ezra. "Apa kamu membawa Auntie Laura bersamamu?" tanyanya berusaha mengalihkan topik.


Ezra mendengus kesal, istrinya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kebiasaan Zefanya setiap kali ingin menghindar dari masalah.

__ADS_1


"Di tengah jalan aku berubah pikiran. Aku rasa lebih baik sopir yang mengantar Louise dengan puteranya setelah itu dia akan menjemput Auntie Laura lalu mengajaknya datang kesini." jawab Ezra dingin. Lalu matanya mulai menelusuri wajah Zefanya dan berhenti di bibir mungil Zefanya. Di mata Ezra, bibir itu terlihat manis dan menggiurkan seperti strawberry ranum yang siap diku-lum.


"Dengan begitu, aku bisa menghabiskan sore ini bersamamu dan akan berlanjut di malam hari tentunya. Kita akan sama - sama menikmatinya, Ma Moitie."


Kalimat itu terdengar indah saat diucapkan pada masa bulan madu mereka. Tapi saat ini? Kata demi kata terdengar seperti sebuah ancaman. Detik demi detik seakan menuju pada hukuman mati. Andai saja bisa, Zefanya ingin menghilang dari hadapan Ezra saat ini juga.


Dalam hati Zefanya mengutuk dirinya yang ceroboh. Ezra pernah berkata kalau sistem keamanan sudah ditingkatkan berkali - kali lipat dari dahulu dan sudah pasti suaminya itu tahu gerak geriknya dari kamera pengawas.


"Ya, Tuhan! Kenapa aku bodoh sekali?" sesalnya dalam hati.


"Ez, Louisa sedang sakit... " jawabnya mencoba berkelit.


"Dia sedang dalam tidur nyenyak sekarang. Pelayan akan mengasuhnya hingga Aunty Laura datang dan menggantikanmu."


"Aku, ... aku sangat ingin merawat puteriku." Merasakan kalau malam ini dia tidak akan lolos, Zefanya menelan ludah dengan susah payah. Mulut dan tenggorokannya terasa kering. Dia harus berpikir cepat.


"O'ya?" raung Ezra. Nada suaranya terdengar kasar dan penuh amarah.


Zefanya semakin merapatkan punggung ke gerbang kokoh di belakangnya. Mulut Zefanya terbuka, lalu tertutup lagi. Kehilangan kata - kata dan otaknya benar - benar kosong. Kemarahan orang sabar benar - benar menakutkan.


"Jelaskan padaku, apa ini?"


Ezra membungkuk dan mengambil tas kecil dari tanah berumput lalu mengacungkannya di depan wajah Zefanya. Tadi wanita itu meletakkan tas disana saat hendak mengunci kembali gerbang belakang.


Zefanya melihat tas kecil itu dengan tatapan ngeri, seharusnya dia tak membawa apa pun tadi dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk beralasan.

__ADS_1


"Aku melihat semua yang kamu lakukan, Zefanya Halley. Apa kamu lupa peringatanku?" Ezra melemparkan tas ke sembarang arah lalu mengusap bibir istrinya itu dengan ibu jarinya.


"Aku, Ezra Halley, mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Dan aku bersumpah tidak akan pernah kecolongan untuk kedua kalinya! Sekarang kamu tidak akan bisa kabur lagi dariku." ucap Ezra lambat - lambat dengan mata yang berkabut.


"Kamu tidak bisa menepati kesepakatan kita dan konsekuensinya, aku yang akan menentukan bagaimana hubungan kita selanjutnya."


Ezra menundukkan kepalanya dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Zefanya. Detik dimana kedua benda lembut itu menempel adalah detik dimana Ezra langsung menikmatinya tanpa ampun. Zefanya tak sempat menghindar, tubuhnya terhimpit antara Ezra dan gerbang. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ezra untuk menyerangnya.


"STOP!" pekik Zefanya saat Ezra berhenti untuk menarik napas sejenak.


Pekikan yang sia - sia. Ezra tidak menerima penolakan, dia menempelkan sidik jari ke gerbang lalu dengan cepat mendorongnya dengan kaki hingga terbuka. Zefanya menggunakan kesempatan itu untuk bergeser, namun Ezra lebih cepat. Dia menangkap tangan Zefanya lalu menarik tubuh mungil wanitanya ke dalam dekapannya.


"Setelah menahan diri sekian lama, sekarang tak ada yang bisa menghalangiku untuk mengambil apa yang menjadi hak-ku." ucap Ezra pelan dengan sorot mata membara.


Kemudian Ezra menangkup pipi Zefanya dengan kedua tangan dan kembali me-lu-mat bibir manis kesukaannya. Zefanya memukul dada Ezra, tapi Ezra tak peduli dan terus menc-i-um Zefanya. Beberapa saat kemudian, Ezra melepaskan bibir Zefanya lalu menggendong istrinya itu dan membawanya masuk.


Zefanya berontak namun Ezra sudah gelap mata, dia terus menggendong Zefanya masuk ke mansion. Setiap kali Zefanya berteriak, setiap kali pula Ezra menc-i-umnya dengan paksa hingga Zefanya hanya bisa mengeluarkan gumaman - gumaman menyedihkan.


Ezra membelokkan langkah menuju lift dan menekan angka tiga tanpa melepaskan Zefanya. Di dalam lift, Ezra menurunkan Zefanya dan mendesaknya hingga menempel ke dinding lalu kembali menikmati istrinya tanpa henti serta menyentuh apa pun yang ingin disentuhnya.


Zefanya semakin panik. Lantai tiga adalah lantai paling atas dan sangat private. Tidak akan ada pelayan yang datang kesana selain Joan, itu pun harus dengan perintah Ezra. Habis sudah riwayatnya, tak ada jalan lagi untuk meloloskan diri. Apalagi Ezra terlihat sedang hilang kendali. Zefanya tak menyalahkan Ezra saat ini, dia jugalah yang sudah membangkitkan sisi liar suaminya.


Lift terbuka dan Ezra menyeret Zefanya masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang seharusnya dipakai oleh mereka berdua setelah masa honeymoon. Zefanya sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan. Secara fisik, dirinya sudah jelas kalah jauh dari Ezra. Secara mental pun Zefanya sudah tertekan.


Ezra terus membawanya menuju tempat tidur luas di tengah ruangan lalu melempar tubuh Zefanya keatasnya. Zefanya memejamkan mata saat merasakan hatinya ikut terhempas bersamaan dengan tubuhnya yang mendarat di atas tempat tidur. Tak lama berselang, Zefanya merasakan sebuah tubuh kokoh sudah menghimpit tubuhnya. Rapat!

__ADS_1


Akankah terjadi yang seharusnya tidak boleh terjadi?


__ADS_2