
"Dari mana kamu dapat cerita itu?" tanya Auntie Laura, matanya menyipit penuh selidik.
"Dari ayahku tentu saja."
"Tidak, Zie. Kamu pasti salah."
"Itu benar, Auntie. Ayah yang mengatakannya sendiri sebelum dia menutup mata."
Kening Auntie Laura berkerut lalu wanita itu mendengus. "Aku rasa amnesia yang kamu derita sudah mengacaukan ingatanmu."
"Aku bicara yang sejujurnya, Auntie."
"Tapi kamu bahkan sudah kabur ke Maldives bersama Ezra saat kabar tentang kecelakaan orang tuamu itu datang. Kamu tidak sempat bertemu dengan Papamu karena dia sudah meninggal di tempat, sedangkan dengan mamamu kamu masih berkesempatan bicara dengannya meski pun hanya sebentar. Selama ini, aku pikir alasanmu kabur dari mansion karena merasa bersalah telah menikah diam - diam."
Zefanya menggelengkan kepala. "Ayahku adalah Benjamin Halley dan dia yang memberitahuku tentang hubungan gelapnya bersama mamaku."
Auntie Laura tersentak. Dia memegang dadanya sambil menggeleng - gelengkan kepala. Mulutnya terbuka tapi tak mengeluarkan suara, terlihat jelas wanita berambut abu - abu itu sedang menyusun kalimat untuk disampaikan kepada keponakannya. Ada informasi yang tumpang tindih disini.
"Tunggu dulu, Zie." Ucap Auntie Laura pelan setelah berhasil menenangkan diri.
"Jadi Benjamin mengakui soal per-se-ling-kuh-annya padamu?"
"Ya." jawab Zefanya pedih.
"Lalu kamu berpikir bahwa kamu adalah anaknya?"
__ADS_1
"Tuan Benjamin yang berkata bahwa aku adalah anaknya, Auntie." ralat Zefanya cepat.
"Lalu, apakah kesimpulanku ini benar? Kamu ingin kabur dan ingin mengakhiri pernikahanmu karena kamu pikir Ezra adalah kakak kandungmu. Betul begitu?"
Zefanya mengangguk. "Tentu saja. Menikah dengan kakakku adalah dosa." ucapnya sendu.
Di sela - sela suasana sendu itu, matanya menangkap perubahan ekspresi yang terpancar di wajah bibinya. Ada raut sedih, haru, lega, semua tampak bercampur menjadi satu disana.
Auntie Laura meneteskan air mata lalu memeluk Zefanya. "Sayang, Benjamin saat itu dalam kondisi kritis. Dia bahkan sudah tidak mengenali siapa saja yang datang berkunjung. Kenapa kamu bisa sebodoh ini, Zie?"
Reaksi Auntie Laura membuat Zefanya jadi bimbang dan mulai ragu. Jangan-jangan kecurigaan Ezra benar, ayahnya hanya meracau. Tumpukan asumsi dan kemungkinan mulai berkumpul di kepalanya. Lalu kalimat Auntie Laura berikutnya membuat wanita muda itu memucat.
"Inilah yang tidak aku suka darimu, Zie. Kamu terlalu cepat menyimpulkan sesuatu saat menghadapi masalah, kemudian bertindak impulsif. Kenapa kamu tidak pernah bertanya padaku?" sesalnya sambil menyeka air mata yang menetes di pipi. "Puteri Benjamin bukan kamu tapi kakakmu, Louise."
Sesaat Zefanya ternganga dengan tatapan tak percaya. "Lou - Louise? Astaga!"
Zefanya termangu. "Bagaimana bisa?" tanyanya dengan linglung. Perasaan bersalah mulai menyergap dirinya yang telah memperlakukan Ezra dengan tidak adil. Dia bahkan menolak permintaan Ezra untuk melakukan test hanya karena terlalu percaya pada perkataan Benjamin.
"Dulu sekali, saat ekonomi keluarga kalian masih pas - pasan. Ayahmu terlalu sibuk bekerja dan Benjamin juga kesepian karena istrinya sakit - sakitan. Ada 'kebutuhan' yang tidak dipenuhi oleh pasangan masing-masing."
"Ya Tuhan.... " gumam Zefanya tanpa tahu harus merespons bagaimana.
"Hubungan mereka menjadi dekat karena ibumu bekerja dalam sebuah yayasan amal dan ayah Ezra adalah penyandang dana terbesar disana. Mereka sering berhubungan, lalu bertemu dan saling mencurahkan isi hati. Tanpa sadar mereka kian dekat lalu terlena kemudian hasil dari perbuatan mereka adalah kakakmu."
"Aku tidak bisa mempercayainya, Auntie." lirih Zefanya.
__ADS_1
"Aku pun tidak dapat mempercayainya. Tapi adikku itu mengakui kesalahannya sambil berlutut di hadapan Papamu untuk memohon ampun."
"Lalu bagaimana tanggapan Papa?"
"Papamu sungguh berhati besar, Zie. Dia memaafkan kesalahan Mamamu dengan syarat dia tidak boleh lagi bertemu dengan Benjamin seorang diri. Pada waktu - waktu tertentu, mereka membawa kalian kemari dengan tujuan supaya Louise mengenal ayah kandungnya. Biar bagaimana pun mereka adalah ayah dan anak."
Auntie Laura menghela napas. "Aku mengerti yang dirasakan oleh Papamu, Zie. Dia sama sekali tidak berniat pilih kasih, namun alam bawah sadarnya mencintaimu lebih daripada Louise."
"Jadi anak - anak tuan Benjamin tidak ada yang mengetahui skandal ini?"
"Tidak ada. Bahkan Louise pun tidak. Aku juga tidak tahu apakah perlu memberitahunya tentang hal ini atau tidak." ucap Auntie Laura pelan.
"Ya Tuhan... "
Zefanya memejamkan mata, menangis dengan perasaan campur aduk. Sedih dan bahagia menjadi satu. "Di satu sisi aku bingung kenapa Benjamin mengatakan semua ini kepadaku. Kenapa tidak kepada Louise saja? Tapi di sisi lain, aku sangat lega karena Ezra dan aku bukan kakak beradik."
Zefanya membuka mata lalu menatap kedua anak kembarnya, dia kini tersenyum sambil menangis bahagia.
"Kamu harus meminta maaf pada Ezra, Zie. Dia berjuang mati - matian bertahan dengan semua sikapmu yang tidak jelas. Aku juga melihat sendiri bagaimana dia merawatmu saat koma. Cepat jelaskan semuanya pada suamimu. Jangan pernah kamu menyia - nyiakan laki - laki sebaik dia, Zie." nasehat Auntie Laura panjang lebar.
Bahu Zefanya meluruh, senyumnya pun memudar. Kebahagiaannya berganti sesak, wajah Ezra datang dan pergi begitu saja di hadapannya. Sorot mata penuh amarah bercampur kecewa saat pertengkaran mereka terakhir kali. Laki - lakinya yang penuh cinta itu akhirnya memilih menjauh dan tidak menghubunginya berhari - hari. Mungkin saja Ezra sudah menyerah dengan sikap keras kepalanya, penyesalan kini membuncah di dada Zefanya.
"Aku harus segera menemui Ezra dan meminta maaf kepadanya." ujar Zefanya cepat sambil bangkit dari duduknya.
Namun sesaat kemudian, dia baru teringat akan sesuati hal. "Tapi aku tidak tahu dimana posisinya saat ini, Auntie. Bisakah Auntie memberitahuku?"
__ADS_1
Auntie Laura mengangguk mengerti. "Serahkan saja si kembar padaku. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Bersiaplah dulu, sementara aku mencari tahu jadwal Ezra."