
Saat terjaga, sinar matahari menembus masuk lewat kaca jendelanya. Sinarnya tidak seterang pagi tadi. Zefanya melirik jam dinding yang menunjukkan waktu mendekati pukul lima sore. Dia tergeragap, terkejut karena bisa tidur selama ini bahkan tanpa meminum obat penenangnya.
Sesaat Zefanya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada Ezra di sana, suaminya itu tidak menunggunya seperti dulu setiap kali dirinya sakit. Ezra benar - benar membiarkannya sendiri. Terasa ada sesuatu yang hilang dari dalam hatinya, tapi segera Zefanya menepisnya jauh - jauh.
'Bukankah ini yang kamu mau, Zie? Kamu ingin suamimu menjauh supaya lebih mudah bagimu untuk meninggalkannya?'
Berusaha mengabaikan perasaannya, Zefanya menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Tubuhnya terasa jauh lebih segar dan bertenaga, benar sekali yang orang bilang. Tidak ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri. Sayang sekali, mansion ini tidak akan selamanya menjadi rumah bagi Zefanya. Menyedihkan sekali.
Di sudut kamar tas - tas miliknya sudah berbaris rapi dan barang - barangnya juga sudah dirapikan di dalam lemari kamar yang ditempatinya. Skincare dan peralatan make up favorite-nya juga tertata rapi di meja rias ruangan itu. Zefanya membuka lemari pakaian dan cepat - cepat memilih pakaian yang akan dipakainya sore ini. Pilihan jatuh pada celana kulot kain warna putih dan blouse warna fanta, pilihan yang sangat kontras dengan warna kulitnya.
Usai membersihkan tubuh dan menata rambutnya, Zefanya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia ingin pergi ke kamar tamu untuk menemui Aunty Laura. Perasaannya mengatakan ada seseorang yang dikenalnya sedang menginap di kamar itu. Siapa lagi kalau bukan bibi kesayangannya.
Tumpukan kalimat pertanyaan sudah disusun di dalam kepalanya, banyak hal akan ditanyakannya ketika bertemu dengan Auntie Laura. Mulai dari kenapa bibinya itu tidak menjenguknya. Apa sebabnya wanita yang sudah seperti ibu baginya itu tak langsung menemuinya saat ini? Ezra memberitahunya kalau Aunty Laura sudah tahu setiap detail kejadian yang menimpanya saat ini. Yang paling penting, Zefanya harus meminta Auntie Laura untuk membantunya berpisah dari Ezra.
Meski belum memperoleh kembali seluruh ingatannya, Zefanya tidak merasa bingung untuk menemukan jalan menuju ke kamar tamu. Koridor - koridor panjang dilaluinya sambil pelayan - pelayan yang ditemuinya. Sebagian dia ingat namanya, sebagian besar dia lupa. Hanya kepala chef dan kepala pelayan yang masih dia ingat wajah dan namanya, hubungan mereka cukup dekat sebelum kecelakaan itu.
Sambil menuruni tangga Zefanya mengira - ngira apa yang sedang dilakukan Auntie Laura saat ini. Mungkin saja bibinya sedang minum teh di taman atau bersantai membaca buku di kamarnya.
Langkah kaki Zefanya terhenti tepat di anak tangga paling bawah lantai satu. Samar - samar dia mendengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang. Zefanya menahan napas, mengira - ngira dari mana asal suara itu.
__ADS_1
Tidak mungkin dari tetangga. Mansion Ezra sangat exclusive dan besar. Jarak antara rumahnya dan tetangga cukup jauh, jarang sekali suara dari luar bisa terdengar hingga masuk ke dalam dan demikian pula sebaliknya. Lagipula, suara itu terdengar tak jauh darinya, hanya saja terhalang oleh sesuatu hingga gemanya tak begitu nyaring.
Zefanya mulai melangkah, kali ini lebih lambat dari yang tadi dilakukannya. Perasaan tak sabar ingin bertemu dengan Auntie Laura berubah menjadi rasa penasaran suara bayi siapa yang didengarnya. Kenalan Ezra yang mana yang menginap dan mempunyai bayi.
Sesaat suara tangis bayi berhenti, Zefanya celingukan. Dia bingung menentukan kemana arah kakinya akan melangkah. Seolah menjawab penasaram Zefanya, suara bayi itu kembali. bergema di lorong - lorong koridor. Kini suara itu terdengar lebih jelas. Dari suara tangisnya sepertinya bukan bayi yang baru lahir, tapi juga bukan suara anak dibawah usia lima tahun.
'Ataukah keponakannya sendiri? Anak Louise?'
Zefanya tidak ingat berapa tahun persisnya usia anak Louise, bahkan namanya saja dia hampir lupa. Tapi seingat Zefanya, anak Louise sudah bisa berlari ketika kejadian kecelakaan itu terjadi. Jadi, jelas tidak mungkin bayi ini keponakannya.
Sepanjang ingatan Zefanya, adik - adik Ezra juga belum mempunyai anak kecuali kalau ada suatu perubahan yang tidak diketahuinya selama dia di rumah sakit.
Mengikuti rasa penasarannya, Zefanya mencari sumber suara itu. Semakin dekat, suara tangis bayi itu kian jelas dan nyaring. Dan kali ini, ada suara lembut seorang wanita yang sedang membujuknya.
Dulu Zefanya kuliah di London. Demi memastikan keamanan dan keselamatan Zefanya, Ezra melarang Zefanya tinggal sendiri. Selama kuliah, Zefanya tinggal di London, di mansion mewah Ezra lengkap dengan pelayan dan sopir.
Setiap weekend atau hari libur, laki - laki itu akan mengantarnya ke Edinburg kembali ke rumah Papanya. Andaikata libur panjang, Ezra akan memberinya waktu untuk berkumpul dengan Papa dan kakaknya lalu kembali menjemputnya saat hampir masuk kuliah. Mama Zefanya sudah meninggal waktu itu, jadi Zefanya hanya tinggal bertiga dengan Ayah dan kakaknya Louise.
Naluri Zefanya berkata kalau dia harus mengetahui siapa yang ada di dalam, maka wanita itu mulai mengetuk pintu kamar di hadapannya. Sebuah suara asing dan lembut menjawab, mempersilahkan sang nyonya rumah untuk masuk.
__ADS_1
Zefanya tertegun saat mendapati kamar tamu itu sudah bukan seperti kamar yang ditempatinya dahulu. Ini benar - benar bukan kamar tamu! Ruangan ini adalah kamar anak. Wallpaper pink muda melapisi dinding kamar itu, memberi kesan lembut dan nyaman. Ah, iya. Bayi yang sedang digendong oleh seorang wanita berseragam baby sitter itu berjenis kelamin perempuan.
'Apa yang terjadi disini?'
'Apa artinya semua ini?'
'Apakah bayi ini tinggal disini?'
Anak siapakah ini? Kenapa Ezra sampai merombak design interior ruangan ini? Sebuah kamar bayi dengan nuansa pink, tempat tidur bayi lengkap dengan pengamannya dan CCTV. Dan yang lebih penting, semua barang di ruangan ini memiliki kualitas yang terbaik.
Wanita pengasuh itu menyapa tapi fokus Zefanya hanya pada bayi yang digendong oleh seorang baby sitter. Bayi itu sedang meronta - ronta sambil menangis dengan suara yang melengking tinggi dan terus meronta.
Mendadak saja perasaan Zefanya terguncang, hatinya hancur saat melihat wajah bayi itu dari dekat. Dari postur tubuhnya, punggung bayi itu tampak sudah lebih kokoh sepertinya berusia sekitar enam atau tujuh bulan. Wajahnya yang oval dengan rambut ikal warna coklat tua. Pipinya bulat dan menggemaskan, seumur hidup baru kali ini Zefanya melihat bayi secantik ini.
Namun, alis hitam yang indah seperti lukisan dan bentuk dagu yang tegas dan kokoh itu sangat menarik perhatiannya. Wajah ini seperti Ezra dalam wujud seorang anak perempuan kecil.
Napas Zefanya tersentak, kedua tangannya menutup mulut menahan isak tangis yang hampir saja terloncat keluar dari mulutnya.
'Ini bayi Ezra!'
__ADS_1
Tangan Zefanya gemetar, mereka baru berpisah beberapa bulan dan Ezra sudah mempunyai seorang anak berusia sekitar enam hingga tujuh bulan. Zefanya tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
'Jadi, apakah Ezra berkhianat darinya bahkan sebelum dia kabur dari rumah?'