Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 27 -- The Best Way To Love


__ADS_3

Kenyataan hadirnya si kembar membangkitkan kembali semangat Zefanya untuk segera pulih. Ketidak hadirannya selama ini, membuat kedua baby sitter itu dibutuhkan. Namun sekarang dia sudah kembali dan sangat cemburu melihat kedekatan anak - anaknya dengan para pengasuh. Seakan - akan pengasuh mereka tahu lebih banyak dibandingkan dengan dirinya yang ibu kandung.


Ezra sudah memaksanya untuk tinggal bersama selama satu bulan, maka sekarang gilirannya untuk meminta. Permintaan pertamanya adalah memberhentikan kedua pengasuh itu. Ezra mengatakan kalau kedua bayinya sehat, jadi mereka tak akan terlalu merepotkan dirinya. Andaikata mereka kerepotan, ada banyak pelayan di mansion yang bisa membantunya menjaga si kembar.


Zefanya tidak hanya tak rela anak - anaknya dirawat dan dibesarkan oleh orang lain, tapi dia juga butuh sesuatu untuk dikerjakan supaya bisa menyibukkan diri hingga batas waktu tiga puluh hari terlalui. Setelah semua ini terlalui, barulah dia akan berunding dengan Ezra mengenai hak asuh anak.


Dia akan menyewa sebuah apartment di dekat sini supaya mereka bisa bergantian mengasuh anak setiap hari. Lagipula, dengan Zefanya mengasuh anak - anak mereka, Ezra akan punya waktu lebih untuk berkencan dengan wanita lain. Sungguh terkesan ideal di benak Zefanya.


Lalu bagaimana dengan Zefanya?


Ya. Dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Lupakan cita - citanya untuk pergi keliling dunia dan juga bekerja di kantor Ezra. Mengenai biaya hidup, Zefanya sama sekali tidak khawatir. Ezra pasti akan menanggung biaya hidup anak - anaknya dan mungkin juga dirinya.


Zefanya menyuapkan potongan demi potongan sambil terus melamun, membayangkan kegiatan apa saja yang akan dikerjakan bersama anak - anaknya kelak. Tentu saja tanpa Ezra di dalamnya, menyedihkan sekali. Dia akan memandikan dan memeluk mereka, melatih mereka berjalan, membacakan cerita setiap malam, mengajari mereka berbicara, menyanyi. Yang paling utama adalah memberinya mereka cinta supaya menjadi anak - anak yang bisa dibanggakan oleh ayah mereka.


Kalau dia tidak bisa memberikan cintanya kepada Ezra sebagai suami dan istri, maka cara terbaik adalah melimpahakan cinta itu pada anak - anak Ezra, darah daging mereka. Louis dan Louisa.


"Zie?"


Hanyut dalam lamunan, Zefanya terkejut mendengar panggilan itu. Dia sama sekali tak mendengar Ezra datang mendekat.

__ADS_1


"Dokter Calvin masih di rumah sakit saat ini. Tapi sebentar lagi dia akan kembali ke rumahnya, yang juga tempat prakteknya. Perawatnya mengatakan kalau kita bisa berangkat sekarang dan dia akan menyelipkan kita sebelum dokter Calvin memulai memeriksa pasien yang lain."


Campuran rasa takut dan lega menghampiri Zefanya. Takut kalau - kalau hasil pemeriksaan genetik kedua anak mereka buruk, tapi juga lega karena dia bisa tahu karena akan mendapat kepastian tentang kondisi anak - anaknya. Zefanya cepat - cepat menelan kue-nya dan berkata, "Ayo, kita berangkat sekarang."


Ezra mengangguk dan menyodorkan tas milik Zefanya. "Aku sudah menyiapkannya supaya kamu tidak perlu lelah naik turun tangga."


Zefanya merasa seperti ditampar oleh kenyataan. Bagaimana bisa dia meninggalkan lelaki sebaik ini, yang bahkan selalu memikirkan segala sesuatu yang dirinya sebelum dirinya sempat meminta apa pun. Tanpa banyak bicara, Zefanya meraih tas dari tangan Ezra. Jantungnya mendadak berdebar keras saat kulitnya tak sengaja bersentuhan dengan kulit Ezra.


"Ups! Kita pergi sekarang?" tanya Zefanya sambil menarik tangannya cepat - cepat, seperti baru memegang panci panas.


Ezra hanya tersenyum ironi dan berjalan mendahului istrinya demi menyembunyikan rasa kecewa yang kembali tertoreh di hatinya. Setakut itu Zefanya terhadap dirinya, hingga bersentuhan sekian detik saja sudah membuatnya berjingkat ketakutan.


Zefanya mengikuti langkah - langkah Ezra menuju mobil sport keluaran terbaru miliknya. Hari ini suasana cerah, sinar matahari terasa hangat di punggungnya. Seandainya saja ini adalah masa lalu, tentu dia sudah merengek pada Ezra untuk berjemur di dekat danau menghabiskan pagi bersamanya. Tapi lagi - lagi, Zefanya harus menepis semua khayalannya. Kalau perlu dia harus menghapus kata 'seandainya' dalam kamus bahasanya supaya tidak lagi berandai - andai menginginkan sesuatu yang tak mungkin terjadi.


"Zie... "


Tapi yang dipanggil tak mendengar. Sekali lagi Ezra memanggil Zefanya sambil menepuk bahu Zefanya dengan lembut.


"Apa kamu baik - baik saja, Sayang?"

__ADS_1


"Eh, uhm, yeah. Tentu." Jawab Zefanya gugup.


"Louisa benar - benar seperti fotocopy-mu. Setiap kali melihatnya, aku seolah - olah melihat Zefanya kecil. Dialah obat rinduku kepadamu."


Zefanya tersentak.


'Ya, Tuhan. Hentikan semuanya, Sayang.' mohon Zefanya dalam hati. Dia tidak ingin Ezra kembali berharap kepada hubungan mereka, cukup dia saja yang merasakan sakit seperti ini.


"Warna rambut dan alisnya, sama sepertimu, Ezra." bantah Zefanya untuk menghentikan kata - kata suaminya.


Siapa sangka, Ezra menoleh dan menatapnya penuh selidik. Zefanya segera menutup mata. Dia telah melakukan kesalahan, tanpa sengaja dirinya membanding - bandingkan puteri mereka dengan Ezra. Bukankah hal seperti ini tidak mungkin terjadi pada orang yang sudah tidak peduli?


Tak tega melihat Zefanya serba salah, Ezra melanjutkan ceritanya.


"Meilissa sering menegurku karena lebih sering menimang Louisa dari pada Louis. Dia tidak ingin kelak tumbuh rasa iri hati dalam diri Louis. Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya cara lain selain mencurahkan rinduku kepada Louisa."


"Ezra!" potong Zefanya cepat - cepat, sebelum Ezra terus melanjutkannya ke topik yang lebih sensitif.


"Aku mengerti kalau kamu membutuhkan pengasuh untuk bisa menangani anak - anak. Tapi saat ini aku sudah sembuh, aku ingin mengurus mereka sendiri tanpa bantuan pengasuh."

__ADS_1


Rahang Ezra terlihat mengeras. Dia menyadari sepenuhnya kalau mengurus si kembar adalah salah satu trik Zefanya untuk menghindari berduaan dengannya.


"Ayolah, Ez. Dokter mengatakan aku sudah cukup sehat untuk itu."


__ADS_2