
Tak tahu harus memulai dari mana, Zefanya menghela napas beberapa kali. Matanya menatap dokter Calvin dengan kalut, menimbang - nimbang apakah aman menceritakan rahasia terbesarnya pada dokter ini. Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Zefanya mulai mengemukakan kekhawatirannya.
"Apakah anak dari pasangan yang mempunyai darah yang sama akan mengalami kelainan, Dok?"
Dokter Calvin mengerutkan kening, sedikit bingung dengan maksud pertanyaan Zefanya.
"Maksud anda Nyonya?"
"Apa anak - anak kami ada kelainan genetik, Dok?"
"Dari jurnal yang anda lihat dan sepanjang yang saya amati selama ini, semua baik - baik saja, Nyonya. Apa ada penjelasan dari saya yang kurang dimengerti, Nyonya?" tanya dokter itu lagi dengan ekspresi bingung.
Nyonya besar Halley ini bukan orang sembarangan, dia adalah salah satu lulusan terbaik universitas ternama di kota ini. Selain itu dari caranya bertanya tadi terlihat bagimana cerdasnya wanita di hadapannya ini. Entah apa yang membuat istri Tuan Halley ini mengajukan pertanyaan aneh.
"Saya, ehm, begini dokter... Apa saya bisa meminta prognosis kedua anak kembar saya?" tanya Zefanya akhirnya dengan sedikit canggung.
"Prognosis?" gumam dokter Calvin.
"Ya, dokter. Saya harus menyiapkan mental dan mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi di depan."
__ADS_1
"Tapi kondisi anak - anak anda benar - benar sangat baik, Nyonya." ujar dokter Calvin lagi.
Prognosis adalah prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit, mencakup apakah tanda dan gejala dari penyakit tersebut akan membaik atau malah memburuk. Dokter yang ramah itu merasa tidak ada urgensi-nya melakukan prognosis pada kedua bayi kembar keluarga Halley.
Zefanya menelan ludah, pahit. Setelah terlebih dahulu meminta dokter Calvin berjanji untuk menyimpan semua rahasianya, dengan sedih dia menceritakan alasan mengapa dia meminta prognosis. Suaranya terbata - bata saat menjelaskan dari awal, mengapa dia tidak hadir di awal - awal kunjungan si kembar di klinik tersebut. Dia juga bercerita kalau sempat mengalami amnesia global sementara dan penyebabnya, serta hubungan dirinya dan Ezra yang sebenarnya.
"Saat ini, saya benar - benar khawatir akan kesehatan si kembar dokter. Saya rasa anda bisa memahami perasaan saya ini, dokter." tutup Zefanya putus asa. Ekspresinya terlihat seperti hampir menangis, berat rasanya menceritakan kenyataan pahit ini.
Dokter Calvin tak bisa berkata apa pun, senyum di bibirnya memudar. Ekspresi wajahnya yang semula ramah berubah menjadi redup. Perlahan dia menarik napas panjang dan menghembuskannya, mencoba mencerna segala informasi yang barusan diterimanya.
Tuan dan Nyonya Halley adalah kakak beradik dari ayah yang sama.
'Ya, Tuhan!'
Setelah itu, dokter yang ramah itu berhenti sejenak dan menatap ibu muda di hadapannya dengan penuh simpati.
"Sebagai catatan, perkembangan si kembar sama sekali tidak ada masalah. Mereka tumbuh dengan baik hingga detik ini, Nyonya. Dan, semuanya normal! Semoga informasi ini bisa membuat anda merasa lebih tenang." tambahnya lagi.
Hatinya trenyuh. Pasangan orang tua ini menikah tanpa tahu kenyataan mengerikan, dalam hati dokter itu berharap tidak ada sesuatu yang buruk menimpa mereka dan anak - anak mereka.
__ADS_1
Zefanya melipat kedua tangan di depan dada dan memejamkan mata. Bersyukur atas setiap hal yang didengarnya. Sebuah keputusan diambilnya saat itu, mulai detik ini dirinya tak akan membuang sedikit pun waktu bersama anak - anaknya. Dia akan merawat bayi kembarnya dengan penuh cinta dan syukur. Mengenai masa depan mereka, biarlah Tuhan bekerja atas mereka.
Perasaan rindu tiba - tiba saja menyeruak dari dalam hati Zefanya, dia bangkit dari duduknya setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih pada dokter Calvin. Langkahnya terasa ringan saat tahu putera dan puterinya baik - baik saja. Setidaknya hingga hari ini tidak ada kelainan.
Di depan tempat praktek, Ezra menunggu istrinya dengan sabar. Laki - laki itu bersandar di tembok dengan tangan terlipat di depan dadanya. Tanpa sadar, hati Zefanya melonjak senang. Wajahnya terlihat ceria dan langkahnya seakan hendak menghambur ke dalam pelukan Ezra.
Ezra langsung beranjak dari tempatnya berdiri, siap menyambut wanitanya ke dalam pelukan. Tangannya terentang, senyum hangat mulai merekah. Sayangnya senyum Ezra justru membuat Zefanya tersadar dari perasaannya yang meluap - luap. Dia memperlambat langkah dan sekuat tenanga menahan diri untuk tidak melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya.
Tangan Ezra hanya sempat menangkap pergelangan tangan istrinya. Tanpa emosi, dia mengusap kulit Zefanya dengan jempolnya.
"Apa ada kabar baik, Sayang? Kamu terlihat bersemangat sekali."
"Aku tidak sabar ingin berjumpa dengan si kembar di rumah." jawab Zefanya sedikit mengelak. "Setelah berbulan - bulan terpisah dengan mereka, aku tak ingin membuang waktu sedikit pun. Bagaimana kalau acara makan siang kita ditunda saja?"
Ezra memicingkan matanya, ternyata Zefanya masih saja menghindar untuk berlama - lama dengannya.
"Kamu tidak perlu mengurus anak - anak sepenuhnya, aku tidak mau kamu kelelahan. Cukup mengawasi dan mengatur para pelayan maka mereka akan mengerjakan segalanya untukmu."
"Aku lebih suka mengerjakan segalanya sendiri." sahut Zefanya keras kepala.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu maumu."
Ezra menghembuskan napas, untuk kesekian kalinya memilih mengalah pada wanita yang dicintainya ini.