Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 54 -- Good News


__ADS_3

Suasana sepi saat Ezra tiba di mansion, hanya ada penjaga yang membukakan pintu dan Joan yang memang menunggunya datang. Semua orang sudah beristirahat di kamarnya masing - masing. Pertama - tama Ezra mengecek kondisi anak - anaknya terlebih dahulu, dan bertanya pada Joan keadaan rumah hari ini.


Saat mengetahui seisi mansion dalam kondisi baik, saat itu juga keyakinan Ezra semakin besar kalau dirinya akan mendengar kabar baik dari Zefanya. Kemungkinan besar, istrinya sudah berubah pikiran mengenai perceraian mereka. Dia bergegas keluar dari kamar anak - anak dan bergegas menuju lantai tiga.


Di kamar, Zefanya memejamkan mata lalu menghembuskan napas panjang untuk meredakan detak jantungnya yang bertalu - talu. Langkah - langkah kaki terdengar mendekat dan seseorang masuk ke dalam lalu bergerak mendekati dirinya.


Zefanya menoleh dan membuka mata, Ezra berdiri di hadapannya dan memandangnya lekat - lekat. Berbagai ekspresi tergambar sekaligus di wajah tampan laki - laki itu, raut wajah penuh tanda tanya, khawatir dan sedikit ragu.


"Kamu sudah datang, Ez?" tanyanya manja, seulas senyum merekah di bibir cantik Zefanya. Matanya menatap lembut Ezra yang mematung di hadapannya.


Lelaki itu mengangguk perlahan sebagai jawaban. Matanya terus tertancap pada gerak gerik wanita di hadapannya. Keberanian Zefanya untuk menggoda dirinya memberi sebuah pertanda kalau mereka tidak memiliki hubungan darah. Istrinya tidak akan senekat ini kalau memang belum terbukti apa pun. Zefanya memberikan penjelasan lewat tindakan, bukan kata - kata.


Sorot mata laki-laki itu meredup, tatapannya berubah menjadi tatapan penuh cinta seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.


"Maafkan aku." ucap Zefanya pelan dengan nada penuh sesal dan berjalan mendekati Ezra.


Penampilannya membuat laki-laki itu menelan air liur. Wanita di hadapannya membuatnya tak bisa berkata-kata ,antara yakin dan tidak. Benarkah Zefanya yang dia cintai sudah kembali?


Tanpa bisa dicegah matanya menatap Zefanya penuh h-a-s-r-a-t. Kemeja putih kebesaran memperlihatkan lekuk tubuh yang indah tanpa b-r-a dan hanya mengenakan g- st-ring. Hal ini membuat pertahanan Ezra goyah. Dia sudah tidak tahan ingin melepaskan semua yang bergejolak di dalam dirinya saat itu juga.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ezra dengan suara serak, terus berusaha sekuat tenaga tidak jatuh dalam godaan yang terpampang dihadapannya. Setidaknya sampai dia benar - benar yakin akan kebenaran.


Zefanya merentangkan tangannya lebar-lebar lalu menghambur ke Ezra dan memeluk pinggang laki - lakinya erat. Pelukan itu menghangatkan kembali hati laki-laki yang terluka, menghilangkan semua pedih dan sakit hati. Ingin sekali Ezra melepaskan kerinduan yang menumpuk sekarang juga. Tapi, dia tahu kalau dia harus bertahan beberapa saat lagi. Hanya beberapa saat bukanlah hal yang sulit.

__ADS_1


"Zie? Apa kamu sudah mendapat jawaban atas masalah kita?" desaknya dengan suara memelas berbalut rindu.


Ezra masih terus menahan diri, mengantisipasi apa yang akan dilakukan oleh Zefanya malam ini. Untuk pertama kalinya, dia takut berhadapan dengan wanitanya. Tak ingin wanita dicintainya ini kembali berubah pikiran dan menginginkan perpisahan. Khawatir harapannya hancur seketika.


"Ya. Maafkan aku yang bodoh dan impulsif ini. Aku sudah menyakitimu dan terus menerus menyusahkanmu." isak Zefanya sambil memeluk Ezra.


Ezra berdehem, tapi suaranya masih terdengar serak sarat akan emosi. "Apa kamu sudah mau melakukan test DNA untuk membuktikan kalau kita bukan kakak beradik?"


"Tidak. Tidak perlu test DNA untuk membuktikan kalau kita bukan kakak beradik. Aku sudah tahu yang sebenarnya." jawab Zefanya lugas.


Bendungan yang sejak tadi ditahan oleh Ezra akhirnya jebol, air mata mengalir di wajahnya. Seluruh beban yang menghimpit hidupnya terangkat. Tangan Ezra mengusap kepala wanitanya dengan lembut, kemudian menarik pinggang Zefanya merapat padanya.


Ezra tersenyum. "Bolehkah aku menciummu?" tanyanya sambil mengangkat dagu Zefanya dengan jarinya. Zefanya mendongak dan tatapannya langsung bertemu dengan mata yang paling menghipnotis dirinya.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kita benar-benar bukan kakak beradik." ujar Ezra.


Kini kedua tangannya menangkup wajah Zefanya lalu mata Ezra bergerak menuju bibir Zefanya yang merah alami.


"Aunty Laura sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Tidak ada orang yang bisa dipercaya selain bibiku, dia mengetahui semua tentang orang tua kita." Zefanya mengalungkan kedua tangannya ke leher Ezra lalu mendekatkan wajahnya ke Ezra. "I'm yours." bisiknya dengan nada menggoda.


Perkataan itu meluncur deras bagaikan anak panah yang menembus jantung Ezra, tepat sasaran. Dia merengkuh leher istrinya dan menempelkan bibirnya pada bibir Zefanya. Menciumnya dengan penuh perasaan, melepaskan segenap perasaan yang tertahan selama setahun ini. Mereka akan bicara nanti, yang terpenting saat ini adalah mereka masih saling memiliki.


Zefanya memejamkan mata, memasrahkan diri sepenuhnya kepada sang suami. Menebus setiap penderitaan yang telah dialami laki-laki terbaiknya. Dengan mulut masih saling bertautan, mereka bergeser menuju tempat tidur. Ezra menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan menarik istrinya duduk ke atas pangkuannya, lalu mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Cantik, ceritakan padaku. Semuanya." bisik Ezra saat dia melepaskan bibir mereka untuk mengambil napas. Dia memegang wajah Zefanya dan memandangnya penuh cinta.


Setelah itu, Zefanya mulai menceritakan semua pembicaraannya dengan Aunty Laura. Kasus yang terjadi di antara kedua orang tua mereka dan juga kelanjutan rumah tangga kedua orang tuanya setelah peristiwa itu.


"Jadi sebenarnya Louise adikku? Bukan kamu?" tanya Ezra sekali lagi untuk memastikan. Dia tak mau ada lagi kesalahan informasi seperti yang dilakukan oleh Zefanya sebelumnya.


Zefanya mengangguk dengan pipi merona. "Oh, Ez... Kamu tak tahu bagaimana malunya aku padamu, seharusnya aku lebih bijak saat mendengar dari ayahmu. Aku kekanak-kanakan ya?" rengek Zefanya sambil bergelanyut manja, seharusnya dia menanyakan lebih jelas sebelum kabur dan membuat masalah jadi berkepanjangan.


Ezra mencium kepala istrinya, menghirup harum shampoo dalam-dalam sambil mengeratkan pelukannya. "Yeah, dari dulu kamu selalu menyusahkan aku. Tapi anehnya, aku justru merasa hebat setiap kali bersamamu. Dan yang terpenting adalah aku sangat tergila-gila padamu."


Zefanya menunduk malu, Ezra sama sekali tidak berubah. "Maafkan aku, Ez. Aku akan belajar untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi, mulai belajar untuk merawatmu. Aku berjanji akan patuh dan lebih memperhatikan dirimu." janjinya untuk menebus rasa bersalah atas kekacauan rumah tangga mereka belakangan ini.


Ezra tersenyum, dia mengecup kening Zefanya perlahan sambil memejamkan mata. Menikmati kembalinya sang istri ke dalam pelukannya.


"Aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kamu meminta maaf. Umurmu saja yang terus bertambah tapi sampai kapan pun kamu masih tetap gadis kecilku yang manja.


Zefanya tersenyum kecil, tangannya mulai bergerak dengan lincah menarik kaos yang dikenakan oleh Ezra. Jari-jarinya bermain-main di dada Ezra yang bidang. "Kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh gadis kecil ini padamu." ucapnya sambil mengerlingkan mata.


Bulu Ezra meremang mendengar suara Zefanya yang terdengar serak basah sarat akan emosi. Tangannya mulai bergerak menyentuh Zefanya di atas kemeja miliknya. Tubuh yang dulu pernah dimilikinya kini kembali leluasa dia nikmati.


"Love me hard for tonight... " Zefanya mengecup dahi Ezra lembut. "Tomorrow... " lalu pipi kiri dan beralih ke pipi kanan sambil berbisik. "The next days."


Yang terakhir, Zefanya menempelkan bibirnya ke bibir Ezra sambil berbisik "And forever... "

__ADS_1


Ezra merengkuh pinggang Zefanya, membalas ci-uman itu dengan lebih mesra. Dia terus me-lum-at bibir manis Zefanya hingga udara di paru - parunya tersisa sedikit, melepaskan ciuman itu sesaat kemudian turun ke pangkal leher, mengecupnya dan turun terus hingga ke bawah.


__ADS_2