
Tidak Dapat Mempercayainya
"Kalau kamu yakin ini bukan kebohongan, apa kamu membebaskan aku untuk menyelidikinya?"
"Ya." jawab Zefanya mantap.
"Ya Tuhan!" erang Ezra dengan ekspresi seperti orang sedang kesakitan.
Persetujuan Zefanya untuk menyelidiki pernyataan Tuan Benjamin menunjukkan kalau istrinya benar - benar tidak berbohong. Sekali lagi Ezra menatap lekat - lekat mata Zefanya berharap menemukan sebuah kebohongan di dalam sana. Kali ini dia benar - benar mengharapkan Zefanya berbohong. Sayangnya harapan tinggal harapan. Tidak ada sedikit pun keraguan di dalam mata indah istrinya, sebaliknya yang ada disana adalah kepedihan yang amat dalam.
Air mata Zefanya mengalir. "Selama ini, aku tidak bermaksud untuk berbohong. Aku menyimpan semuanya karena ini akan sangat menyakitkan bagimu, Ez. Harapanku adalah dengan menghilang akan menbuatmu patah hati, membenci, lalu melupakanku dan menemukan cinta yang baru lalu berbahagia."
Ezra diam dan mendengarkan cerita Zefanya dengan hati yang sama pedihnya. Mencoba memahami kata demi kata meski tak satu pun masuk ke dalam akal sehatnya.
"Kamu tak ingin menerima kenyataan ini. Maka saat kecelakaan itu terjadi, ingatanmu menolak untuk menghindari rasa sakit hatimu. Seperti itukah yang telah terjadi padamu?" lirih Ezra pedih.
Dia merengkuh tubuh mungil Zefanya dan mendekapnya erat. Istrinya ini telah mencoba berkorban demi dirinya, menanggung rahasia itu seorang diri.
"Ma Moitie, ... kenapa kamu menyimpannya sendiri? Kamu bisa mengadu kepadaku seperti yang sudah - sudah. Lalu kita akan menghadapinya bersama - sama."
Suara Ezra sedikit tersendat. Otaknya terus bekerja menelusuri setiap cerita Zefanya dan mencoba mencari celah di dalamnya. Hatinya berusaha menerima kenyataan pahit yang di dengarnya barusan. Mereka berdua berpelukan, sama - sama menegarkan diri supaya bisa saling menguatkan.
Hingga beberapa lama, mereka berada dalam posisi yang sama tanpa bicara apa pun. Sesekali tangan Ezra mengusap air mata yang jatuh di pipi Zefanya. Yang dibalas oleh Zefanya dengan usapan lembut di lengan Ezra yang terlihat berusaha keras untuk berpikir jernih. Beberapa kali Ezra terlihat mengusap rambutnya dan menghembuskan napas dengan kasar.
"Zie... " Suara Ezra terdengar begitu berat dan dalam, membuat siapa pun yang terdengar merasa suram. "Aku percaya kalau kamu tidak berbohong. Tapi, aku tidak bisa menerima fakta ini. Setidaknya, sampai aku bisa membuktikan kalau yang kamu katakan adalah benar."
__ADS_1
"Awalnya aku juga sepertimu, Ez. Tapi yang mengatakan adalah ayahmu sendiri. Dia tidak ada motif apa pun untuk memisahkan kita."
"Aku akan menanyai saksi - saksi yang ada disana. Dokter dan perawat disana, semuanya pasti masih mengingat siapa Benjamin Halley."
Ezra mere-mas bahu Zefanya. "Sekarang juga kita berangkat ke rumah sakit. Aku tak mau menunggu lagi."
Tekad bulat Ezra semakin menciutkan nyali Zefanya, dia tak mampu mendengar kenyataan pahit sekali lagi dari dokter. Lebih tak sanggup lagi saat harus mengucapkan kata perpisahan pada Ezra.
"Kenapa Ezra tak mengerti juga? Yang aku inginkan adalah menghilang tanpa ucapan perpisahan untuk terakhir kalinya, karena aku tak ingin berpisah dengannya." rintih Zefanya dalam hati.
"Aku, ... aku ingin melihat si kembar dulu sebelum pergi. Bagaimana?" tanya Zefanya untuk mengulur waktu. Meski hati kecil Zefanya berkata kalau tak mungkin Ezra menuruti keinginannya kali ini.
"Tidak, Zie. Kita pergi sekarang. Joan akan menjaga mereka dengan baik."
Zefanya menghela napas, Ezra menolak permintaannya tepat sesuai dugaannya. Dengan berat hati Zefanya mengangguk dan bangkit berdiri untuk bersiap - siap. Namun tangan Ezra menahannya hingga wanita itu tanpa sengaja terduduk di pangkuan Ezra.
Sama - sama mengetahui kenyataan pahit, mau tak mau mereka bersama menahan diri untuk saling menyentuh. Sebesar apa pun keinginan untuk bersama, ada norma dan agama yang tidak bisa mereka abaikan.
"Arghh!" Raung Ezra frustasi.
Pimpinan utama Halley Corp itu mengerang keras sambil berdiri, dengan kedua tangannya mere-m-as rambutnya keras - keras. Zefanya menahan diri, berdiri canggung di tempatnya. Bersiap menghadapi apa yang akan dilakukan oleh Ezra setelah ini. Tangannya mulai bergetar, keinginannya untuk kabur dari Ezra sangat besar tapi ekspresi menyedihkan Ezra membuat kakinya terasa berat untuk melangkah.
Sosok gagah dihadapannya sedang rapuh, matanya menatap Zefanya tanpa berkedip.
"Bisakah kali ini kamu berbohong padaku, Zie? Berjanjilah padaku, usai pulang dari rumah sakit kita masih bisa saling mencintai sama seperti sebelum semua ini terjadi." mohon Ezra dengan suara serak sarat akan emosi.
__ADS_1
Ezra lalu berdehem. "Siang dan malam aku bertanya - tanya apa penyebab kamu menghilang. Setahun aku menunggumu kembali ke rumah ini tapi ternyata semua tak seperti yang aku pikirkan. Mendengar semua ini, rasanya seperti sedang bermimpi."
"Aku tau, Ez. Aku juga merasakan yang kamu rasakan saat ini. Saat itu, kalau bukan karena si kembar ada di perutku mungkin aku tak akan mampu bertahan."
"Hentikan! Jangan bicara seperti itu, Zie. Aku yakin ada yang salah dari ceritamu."
"Tapi, aku tidak bohong." sahut Zefanya tersinggung.
"Bukan bohong tapi salah paham dengan kata - kata ayahku. Apa kamu tahu kalau orang yang sudah mendekati a-j-a-l bisa saja meracau?Bagaimana kalau kita juga menemui pastur yang mendoakannya saat terakhir kali?"
"Untuk apa?"
"Siapa tahu ayahku bercerita atau mengaku dosa untuk terakhir kalinya. Aku tak akan menyerah begitu saja pada masalah yang menimpa pernikahan kita. Pasti ada penjelasan yang masuk akal untuk semua ini."
"Maksudmu kamu ingin memaksa pastur untuk menceritakan pengakuan dosa?"
"Aku akan bertanya pada pastur dan dia harus menjawabnya. Informasi darinya sangat berpengaruh pada kelangsungan pernikahan kita, Zie."
"Tapi itu melanggar sumpah seorang pastur, Ez."
"Jadi lebih baik beliau melihat sebuah keluarga hancur karena ketidak pastian informasi ini?" Menurut pemahaman Zefanya, setiap pengakuan dosa seseorang wajib dirahasiakan oleh seorang pastur. Mereka dilarang keras untuk memberikan informasi sekecil apa pun tentang isi pengakuan dosa, bahkan kepada aparat negara sekali pun. Namun Ezra sudah tak peduli kepada apa pun, tangannya meraih pinggang Zefanya dan memeluknya erat. Tak ingin larut dalam kenyamanan Ezra, Zefanya memberontak.
"Sebentar saja, Zie. Biarkan seperti ini dulu." perintah Ezra sambil membenamkan wajahnya ke rambut Zefanya. Dia menghirup dalam - dalam aroma shampoo istrinya, menghimpun kekuatan. Beberapa kali Ezra menarik napas dan menghembuskannya, lalu berkata.
"Kita akan menjernihkan masalah ini, pergi kepada orang - orang yang harus ditemui dan mengambil tindakan yang perlu dilakukan." tegas Ezra.
__ADS_1
Kemudian Ezra meletakkan tangannya dibawah siku Zefanya dan menariknya keluar dari kamar tanpa memberi kesempatan kepada wanitanya untuk berganti pakaian.